News

/

Artikel, Latest News

Air Sumur Basa dan Dataran Tinggi Kapur: Dua Faktor Tersembunyi di Balik Parahnya Penyakit Gusi di Pundong

Di sebuah puskesmas di Kecamatan Pundong, Bantul, catatan rekam medis tahun 2016 menyimpan pola yang menarik: pasien dengan penyakit gusi parah sebagian besar berasal dari wilayah yang sama — dataran tinggi pegunungan kapur Desa Seloharjo. Pertanyaannya, mengapa? Prayudha Benni Setiawan, S.Kp.G, M.P.H, dosen dari Program Studi Higiene Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, bersama timnya mencoba menjawabnya melalui sebuah penelitian yang menggabungkan ilmu kesehatan gigi dengan teknologi pemetaan digital. Hasilnya dipublikasikan dalam Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia edisi 2019,  dan jawabannya lebih mengejutkan dari yang diduga: air minum yang selama ini dikonsumsi warga ternyata menjadi salah satu biang keroknya.

Gusi Rusak Bukan Hanya Soal Malas Sikat Gigi

Selama ini, penyakit periodontal — istilah medis untuk penyakit yang menyerang jaringan penyangga gigi, mulai dari gusi hingga tulang rahang — identik dengan kebersihan gigi yang buruk. Plak dan kalkulus (karang gigi) memang menjadi penyebab utamanya. Namun penelitian ini membuka perspektif baru: faktor lingkungan tempat tinggal juga punya andil yang tidak bisa diabaikan.

Penyakit periodontal sendiri berkembang dalam tiga tahap. Diawali dengan gingivitis, yaitu peradangan pada gusi yang masih bisa pulih. Bila dibiarkan, kondisi ini berkembang menjadi periodontitis, di mana serabut pengikat gigi mulai rusak dan tidak dapat diperbaiki. Pada tahap terparah, tulang rahang ikut menyusut sehingga gigi terpaksa dicabut. Data Riskesdas 2013 mencatat angka yang mengkhawatirkan: prevalensi penyakit periodontal di Indonesia mencapai 96,58% dari seluruh kelompok umur.

Di Bantul sendiri, 20,7% penduduknya mengalami masalah gigi dan mulut — dan ironisnya, hanya 8% dari total kunjungan ke puskesmas di Kecamatan Pundong yang memanfaatkan layanan kesehatan gigi dan mulut.

Peta yang Bicara Lebih dari Sekadar Data

Tim peneliti menggunakan pendekatan yang tidak biasa untuk penelitian kesehatan gigi: Sistem Informasi Geografis (SIG). Teknologi ini memungkinkan data kesehatan “ditempelkan” ke peta digital, sehingga pola sebaran penyakit bisa terlihat secara visual berdasarkan wilayah, ketinggian, dan kondisi lingkungan.

Sebanyak 152 pasien penyakit periodontal dari Puskesmas Pundong selama Januari hingga Desember 2016 menjadi subjek penelitian. Setiap penderita dicatat titik koordinat rumahnya menggunakan GPS, lalu dipetakan bersama data ketinggian wilayah dan hasil uji pH air minum yang mereka konsumsi.

Hasilnya gamblang. Warga yang mengonsumsi air dengan pH basa (di atas 7,6) memiliki risiko menderita periodontitis generalized — yaitu penyakit gusi parah yang sudah menyebar ke seluruh regio gigi — 41 kali lebih tinggi dibanding yang mengonsumsi air dengan pH normal. Sementara itu, warga yang tinggal di dataran tinggi (di atas 100 meter dari permukaan laut) berisiko 54 kali lebih tinggi mengalami periodontitis generalized dibanding yang tinggal di dataran rendah.

Keduanya bermakna secara statistik dengan nilai p-value kurang dari 0,05.

Kapur di Tanah, Karang di Gigi

Mekanismenya sebenarnya cukup logis. Wilayah pegunungan kapur seperti Desa Seloharjo memiliki kandungan mineral tinggi dalam air tanahnya, termasuk kalsium dan fosfor. Air sumur gali di daerah ini cenderung bersifat basa dan sadah — artinya mengandung banyak mineral.

Ketika air ini dikonsumsi setiap hari, mineral tersebut ikut masuk ke dalam air ludah. Konsentrasi kalsium yang tinggi dalam saliva mendorong pembentukan kalkulus lebih cepat dan lebih masif pada permukaan gigi. Kalkulus yang menumpuk dan tidak dibersihkan menjadi tempat berkembang biaknya bakteri, yang kemudian memicu peradangan gusi dan kerusakan jaringan penyangga gigi secara progresif.

Analisis spasial dengan metode Purely Spatial Poisson Model mengonfirmasi temuan ini: terdapat satu klaster kejadian periodontal yang terpusat di Desa Seloharjo, dengan 49 penderita dalam radius 2,24 kilometer. Angka kejadian tahunannya mencapai 11,2 kasus per 100.000 penduduk.

“Perlu kerjasama lintas sektor, di antaranya puskesmas dan Perusahaan Daerah Air Minum, untuk memastikan ketersediaan air bersih dan layak konsumsi yang dapat diakses seluruh masyarakat.” — Prayudha Benni Setiawan, S.Kp.G, M.P.H, et al., dalam publikasi penelitian ini

Ketika Kesehatan Gigi Bukan Urusan Dokter Gigi Saja

Temuan ini menunjukkan bahwa menangani penyakit gusi tidak bisa hanya mengandalkan instruksi “rajin sikat gigi”. Selama kualitas air minum yang dikonsumsi warga masih bermasalah, risiko karang gigi dan periodontitis akan terus mengintai — bahkan bagi mereka yang disiplin menjaga kebersihan mulut sekalipun.

Tim peneliti merekomendasikan kolaborasi antara puskesmas, Perusahaan Daerah Air Minum, dan Dinas Pekerjaan Umum untuk memastikan standar kualitas air terpenuhi hingga ke pelosok desa. Penyuluhan tentang pentingnya air bersih layak konsumsi, termasuk melalui kader kesehatan dan kader PKK, juga disebut sebagai langkah penting.

Penelitian ini juga membuka peluang besar bagi pemanfaatan SIG dalam surveilans kesehatan gigi di tingkat kabupaten atau provinsi. Dengan pemetaan yang tepat, pemerintah daerah bisa mengidentifikasi wilayah berisiko tinggi lebih awal — jauh sebelum warganya kehilangan gigi satu per satu.

Karena pada akhirnya, kesehatan gigi seseorang tidak hanya ditentukan oleh apa yang dilakukannya di depan cermin setiap pagi, tapi juga oleh air yang mengalir dari sumur di halaman rumahnya.

Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam

Photo: Freepik

Sumber DOI: https://doi.org/10.14710/jkli.18.2.98-103

Tags

Share News

Related News
23 July 2026

Satu Penyuluhan, Skor Melonjak: Misi Sadar Gigi di Ngaglik

23 July 2026

Peta yang Bicara: Ketika Ketinggian dan Air Sumur Menentukan Kesehatan Gusi Warga Pundong

23 July 2026

Kopi Robusta Hijau untuk Gusi yang Terluka: Menjanjikan, tapi Belum Cukup

en_US