Tidak semua luka di rongga mulut berhenti sebagai persoalan mulut. Pada kasus tertentu, luka yang berulang justru dapat menjadi petunjuk awal adanya penyakit yang bekerja lebih jauh di dalam tubuh. Di titik inilah ketelitian seorang dokter gigi dapat menentukan arah perjalanan diagnosis seorang pasien.
Persoalan tersebut diangkat drg. Anindita Laksitasari, Residen Ilmu Penyakit Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) Angkatan 2024, melalui sebuah case report tentang ulserasi oral berulang sebagai manifestasi ekstraintestinal yang menjadi petunjuk awal diagnosis ulcerative colitis. Karya itu mengantarkannya meraih Best Paper kategori Case Report untuk kelompok dokter gigi pada The 19th FDI-IDA Continuing Dental Education Program (CDEP) 2026.
Penghargaan tersebut diraih dalam forum yang berlangsung di Bekasi, Jawa Barat, Jumat-Sabtu, 23–24 Oktober 2026. Forum itu mempertemukan mahasiswa, dokter gigi, residen, dan spesialis dalam ruang pertukaran pengetahuan serta presentasi karya ilmiah. Kasus yang dipresentasikan menunjukkan satu hal penting dalam praktik kedokteran: gejala yang terlihat sederhana tidak selalu memiliki persoalan yang sederhana pula.
Ulserasi oral berulang dapat menjadi manifestasi ekstraintestinal. Artinya, persoalan yang tampak di rongga mulut dapat berkaitan dengan penyakit sistemik yang berada di luar organ tersebut. Dalam situasi seperti ini, dokter gigi tidak hanya dituntut mampu mengenali kelainan di rongga mulut, tetapi juga memiliki kepekaan untuk membaca kemungkinan adanya persoalan kesehatan yang lebih luas.
Jangan Berhenti pada Gejala
Dalam praktik pelayanan kesehatan, gejala sering menjadi titik awal. Tantangannya adalah menentukan apakah gejala tersebut merupakan masalah yang berdiri sendiri atau bagian dari persoalan yang lebih besar.
Kasus yang dibawa Anindita memperlihatkan pentingnya pertanyaan kedua. Ketika ulserasi oral muncul berulang, seorang dokter dituntut untuk tidak berhenti pada penanganan gejala. Ada kebutuhan untuk memahami konteks klinis secara lebih menyeluruh. Pada kasus tertentu, kemampuan melihat keterkaitan antara manifestasi oral dan penyakit sistemik dapat membantu membuka jalan menuju diagnosis yang tepat.
Perspektif seperti itu membuat kedokteran gigi tidak dapat dipisahkan dari disiplin kesehatan lainnya. Dokter gigi, khususnya spesialis Penyakit Mulut, berada pada posisi penting untuk mengenali berbagai manifestasi penyakit sistemik yang muncul di rongga mulut. Namun, pengenalan tersebut tidak selalu berakhir di ruang praktik dokter gigi. Diperlukan komunikasi dan kolaborasi interdisiplin agar temuan klinis dapat ditindaklanjuti menuju penegakan diagnosis yang lebih tepat.
Kasus individual yang ditemukan dalam praktik klinis dapat menjadi bahan pembelajaran ketika disusun secara ilmiah, dipresentasikan, dan didiskusikan bersama komunitas profesi. Pengalaman klinis tidak berhenti menjadi pengalaman seorang dokter dan seorang pasien, tetapi dapat berkembang menjadi pengetahuan yang dibagikan.
Forum The 19th FDI-IDA CDEP 2026 menyediakan ruang untuk proses tersebut. Kegiatan ini merupakan kolaborasi Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI), PDGI Cabang Kota Bekasi, dan PDGI Training Center, dengan melibatkan FDI World Dental Federation. Tahun ini, forum mengangkat tema “Practicing Dentistry with Integrity, Ethics and Professional Responsibility”.
Integritas dalam praktik kedokteran tidak berhenti pada kemampuan melakukan prosedur. Integritas juga menyangkut kesediaan seorang profesional untuk melihat persoalan pasien secara cermat, mengakui kompleksitas kasus, dan mencari jawaban melalui pengetahuan serta kolaborasi.
Dalam konteks itu, penghargaan Best Paper menjadi lebih dari sekadar pengakuan akademik. Ia memperlihatkan bagaimana pendidikan berbasis kasus dapat mendorong calon spesialis untuk mempertajam kemampuan klinis sekaligus membangun tradisi ilmiah.
Pendidikan yang Tidak Berhenti di Ruang Kelas
Bagi pendidikan kedokteran gigi, capaian tersebut juga membawa pesan penting. Mahasiswa dan residen tidak cukup hanya dibekali kemampuan teknis. Mereka perlu didorong untuk bertanya, meneliti, mempresentasikan temuan, dan berani menguji gagasan di hadapan komunitas akademik yang lebih luas.
Ketua Panitia FDI-IDA CDEP 2026, drg. Toni Achmad, Sp.Ort., menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia juga menekankan pentingnya forum ilmiah internasional bagi dokter gigi dan mahasiswa kedokteran gigi untuk memperluas wawasan, berbagi pengetahuan, serta memperkuat jejaring profesional.
Pesan itu penting karena kualitas pelayanan kesehatan pada masa depan sangat bergantung pada kualitas pembelajaran tenaga kesehatannya hari ini. Forum ilmiah menjadi salah satu ruang untuk membentuk budaya tersebut. Di sana, seorang residen belajar bahwa sebuah kasus bukan hanya persoalan untuk diselesaikan, tetapi juga kesempatan untuk menghasilkan pengetahuan.

Harapan dari Generasi Baru
Keberhasilan drg. Anindita membawa satu pesan yang sederhana tetapi penting: generasi muda kedokteran gigi memiliki kemampuan untuk menghasilkan gagasan yang bernilai dan membawanya ke forum ilmiah yang lebih luas. Capaian itu diharapkan menjadi motivasi bagi mahasiswa dan residen FKG UGM untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan, menghasilkan karya ilmiah, serta berpartisipasi dalam forum akademik nasional maupun internasional.
Harapan tersebut tidak hanya berkaitan dengan prestasi akademik. Dibalik setiap penelitian dan presentasi ilmiah terdapat tujuan yang jauh lebih mendasar: meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan dalam memahami persoalan pasien.
Satu kasus mungkin hanya melibatkan satu pasien. Namun, pengetahuan yang lahir dari kasus tersebut dapat dipelajari oleh banyak tenaga kesehatan. Dari sanalah sebuah pengalaman klinis berpotensi memberikan manfaat yang lebih luas. Karena itu, penghargaan bukanlah akhir dari perjalanan Anindita. Justru sebaliknya, penghargaan tersebut dapat menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar: terus belajar, terus meneliti, dan terus memastikan bahwa ilmu yang dikembangkan memiliki arti bagi manusia.
Dari sebuah luka di rongga mulut, terbuka pertanyaan tentang kesehatan tubuh secara keseluruhan. Dari satu kasus klinis, lahir pengetahuan. Dan dari pengetahuan yang dibagikan, tumbuh harapan bahwa diagnosis dapat dilakukan lebih tepat dan pelayanan kesehatan dapat diberikan dengan lebih baik.
Pada akhirnya, kemajuan kedokteran bukan hanya tentang seberapa canggih teknologi yang digunakan atau seberapa banyak penghargaan yang diraih. Kemajuan juga ditentukan oleh seberapa peka seorang tenaga kesehatan membaca tanda-tanda kecil yang mungkin menyelamatkan perjalanan kesehatan seorang pasien.
(PIC Pemberitaan : drg. Putri Ramelia Yain, Redaksi: Andri Wicaksono)