Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) menyelenggarakan kegiatan praktikum simulasi Disaster Victim Identification (DVI) Fase 1 (Olah Tempat Kejadian Perkara/TKP). Kegiatan pelatihan penanganan jenazah korban bencana ini berlangsung di lingkungan kampus FKG UGM (17/09/2026).
Praktikum ini diikuti oleh mahasiswa S1 Kedokteran Gigi semester 7, mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter Gigi (Koas), hingga mahasiswa Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis (PPDGS) Radiologi Kedokteran Gigi FKG UGM. Bekerja sama dengan Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pelatihan ini bertujuan memperkuat wawasan akademis dan kesiapsiagaan praktis para calon dokter gigi dalam mendukung penanganan bencana nasional.
Penanggung Jawab Topik Etikolegal dan Forensik Kedokteran Gigi FKG UGM drg. Silviana Farrah Diba, Sp. RKG., Sub.Sp.RP(K), menyampaikan bahwa simulasi DVI Fase 1 ini dirancang untuk memberikan gambaran nyata prosedur olah TKP kepada para peserta didik. “Pada hari ini, kami melakukan praktikum simulasi DVI Fase 1. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk memperkenalkan mahasiswa-mahasiswa kedokteran gigi dalam kasus olah TKP. Diharapkan simulasi ini bisa dijadikan bekal untuk kedepannya apabila para mahasiswa sudah lulus dan menjadi dokter gigi,” ujar drg. Fara.

Kaur Doksik Biddokkes Polda DIY, dr. Titi Rahma Purihayati, yang hadir sebagai pemateri menjelaskan esensi penting dari simulasi olah TKP bagi mahasiswa semester 7 FKG UGM. Menurutnya, pemahaman mengenai tata cara perlakuan terhadap jenazah korban bencana secara benar merupakan fondasi utama sebelum memasuki tahap identifikasi lanjutan. “Pagi ini kita memperkenalkan apa itu fase 1 pada olah TKP DVI. Esensinya adalah bagaimana mereka melakukan tata cara olah TKP DVI dan cara memperlakukan jenazah korban bencana secara baik dan benar. Meskipun kita berharap tidak terjadi bencana, adik-adik ini harus mengerti bagaimana kerja kami di lapangan.” ungkap dr. Rahma. Ia juga menegaskan bahwa kontribusi utama sektor kedokteran gigi nantinya akan sangat terasa pada Fase 2 (Post-Mortem). “Gigi-geligi memiliki ketahanan yang sangat lama terhadap proses pengrusakan fisik maupun suhu. Oleh karena itu, peran dokter gigi sangat krusial dalam mengidentifikasi jenazah yang sudah tidak dapat dikenali secara fisik.” he added.
Kasubbid Dokpol Biddokkes Polda DIY, AKBP drg. Budi Santoso, Sp.Pros., menggarisbawahi pentingnya kemitraan sinergis antara Biddokkes Polda DIY dan FKG UGM dalam pengembangan kapasitas DVI kedepan. “Subbid Dokpol Biddokkes Polda DIY memiliki peran operasional kepolisian serta pembinaan keterampilan dan wawasan melalui jejaring internal maupun eksternal. Salah satu kunci identifikasi pada tahap ante-mortem maupun post-mortem adalah identifikasi gigi. Odontogram merupakan bukti autentik yang senantiasa menjadi kunci penanganan DVI.” jelas AKBP drg. Budi Santoso, Sp.Pros.
Menanggapi pesatnya perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), AKBP drg. Budi Santoso, Sp.Pros memandang kemajuan teknologi tersebut sebagai peluang besar bagi dunia forensik kedokteran gigi. “Isu perkembangan AI memberikan tantangan tersendiri. Namun, kami memandang AI justru sebagai alat dan teknologi yang bisa kita adopsi untuk menyempurnakan serta menajamkan akurasi proses identifikasi forensik ke depan,” she said.
Kegiatan praktikum ini mendapatkan antusiasme tinggi dari para peserta. Sanya, mahasiswa Koas Angkatan 86 yang bertindak sebagai supervisor kegiatan, menceritakan pengalaman dan dinamika mengelola simulasi lapangan ini. “Tantangan utamanya adalah mengoordinasi seluruh komponen, mulai dari praktikan, asisten, hingga ketersediaan alat dan bahan. Kami juga harus menyamakan persepsi antar-kelompok agar tidak terjadi miskomunikasi. Asiknya belajar odontologi forensik adalah kita tidak hanya belajar teori di dalam ruangan, tetapi langsung melakukan simulasi di lapangan dan nantinya dilanjutkan ke RS Bhayangkara,” tutur Sanya.
Dukungan dan impresi positif juga disampaikan oleh drg. Bonifasius Primario Wicaksono, M.Biotech, perwakilan residen Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis (PPDGS) Radiologi Kedokteran Gigi FKG UGM. Kampus ini mencatatkan sejarah dengan menyertakan angkatan pertama residen spesialis ini dalam praktikum forensik kedokteran gigi. “Forensik kedokteran gigi merupakan salah satu kompetensi utama kami sebagai calon dokter gigi spesialis radiologi kedokteran gigi. Kesempatan menjadi angkatan pertama yang mengikuti praktikum ini memberikan pengalaman baru yang sangat berkesan untuk meningkatkan kemampuan identifikasi korban bencana,” ungkap drg. Boni.

Melalui pelaksanaan simulasi ini, FKG UGM terus berkomitmen untuk menghasilkan lulusan dokter gigi dan dokter gigi spesialis yang tidak hanya unggul secara akademis dan klinis, tetapi juga memiliki kesiapan sosial dan kemanusiaan dalam mendukung tugas-tugas DVI di Indonesia.
(Reporter: Andri Wicaksono, Foto: Annisa)