News

/

Latest News

Prodi Magister Ilmu Kedokteran Gigi FKG UGM Gelar Pelatihan Online Assessment & Mitigasi Kecurangan Melalui Artificial Intelligence (AI)

Program Studi Magister Ilmu Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) menyelenggarakan workshop dan pelatihan bertajuk “Perancangan Online Assessment dan Strategi Mitigasi Kecurangan berbasis Artificial Intelligence (AI)”. Kegiatan pelatihan ini menghadirkan pakar pendidikan kedokteran UGM, dr. Yoyo Suhoyo, M.Med.Ed. PhD, sebagai narasumber utama untuk memberikan pengarahan strategis kepada seluruh jajaran dosen pengampu prodi.

Seiring dengan berkembangnya metode pembelajaran jarak jauh (online learning), tantangan besar yang dihadapi oleh institusi pendidikan tinggi adalah bagaimana memastikan proses evaluasi (assessment) tetap obyektif dan kredibel. Permasalahan ini menjadi kian kompleks dengan pesatnya perkembangan Generative Artificial Intelligence (AI) dan berbagai piranti lunak cerdas yang berpotensi memicu kecurangan akademik.

Merespons fenomena tersebut, Program Studi Magister Ilmu Kedokteran Gigi FKG UGM menggelar pelatihan khusus guna membekali para dosen pengampu dengan strategi merancang online assessment yang tidak hanya modern, namun juga tahan terhadap potensi manipulasi teknologi.

Acara diawali dengan sambutan resmi dari perwakilan Pengelola Program Studi Magister Ilmu Kedokteran Gigi FKG UGM. Dalam sambutannya, pihak pengelola menekankan urgensi menjaga kualitas lulusan di tengah fleksibilitas sistem perkuliahan daring.

Perwakilan dari pihak pengelola prodi menyampaikan bahwa sebagian besar perkuliahan Magister Ilmu Kedokteran Gigi saat ini memanfaatkan sarana daring. Oleh karena itu, diperlukan instrumen penilaian yang sah (valid) dan tepat sasaran tanpa mengabaikan kualitas capaian pembelajaran mahasiswa.

“Tujuan kita bersama adalah agar pelaksanaan pembelajaran secara daring di prodi Magister Ilmu Kedokteran Gigi dapat berjalan sesuai harapan dan capaian pembelajarannya tercapai. Saat ini marak mahasiswa menggunakan AI atau kemudahan teknologi lainnya yang belum menggambarkan kemampuan asli mereka. Melalui pelatihan ini, kita berharap mendapatkan gambaran metode assessment yang benar-benar akurat,” ujar perwakilan panitia saat membuka acara. Dalam paparan utamanya, dr. Yoyo Suhoyo, menyoroti empat isu kritis yang wajib diidentifikasi oleh pengelola pendidikan ketika menerapkan online assessment:

  1. Isu Intelektual (Intellectual Issue): Berfokus pada kriteria penilaian ideal yang mencakup validitas isi (content validity), reliabilitas (konsistensi hasil evaluasi), dampak pembelajaran (educational impact), keterlaksanaan (feasibility), serta penerimaan (acceptability) oleh dosen, mahasiswa, dan lembaga.
  2. Isu Legal (Legal Issue): Menyangkut hak cipta (copyright) gambar, video, maupun penggunaan aplikasi berlisensi agar tidak melanggar hukum atau merugikan reputasi institusi.
  3. Isu Teknis dan Keamanan (Technical & Security Issue): Meliputi kendala bandwidth, stabilitas server, hingga ancaman peretasan (hacking), kebocoran soal, dan modus mirroring screen yang marak terjadi.
  4. Isu Ekonomi (Economic Issue): Berkaitan dengan alokasi anggaran operasional server, lisensi aplikasi, hingga pengembangan sumber daya manusia (SDM).

dr. Yoyo Suhoyo, menegaskan bahwa instrumen evaluasi untuk mahasiswa jenjang Magister (S2) tidak cukup hanya menguji aspek hafalan atau pemahaman tingkat dasar (C1–C2/ Knows). Mahasiswa Magister dituntut memiliki kemampuan penalaran tingkat tinggi (C3–C6/ Knows How dan Show How), seperti menantang teori, menganalisis konteks klinis/kurikulum, dan merumuskan rekomendasi baru.

Kehadiran Large Language Models (LLM) seperti ChatGPT, Claude, dan Gemini diibaratkan sebagai pisau bermata dua di dunia pendidikan tinggi. Di satu sisi, AI menjadi sarana bantu yang sangat efisien bagi dosen dalam merancang draf awal bank soal, menyusun rubrik penilaian, memberikan umpan balik otomatis (adaptive feedback), hingga mengolah analisis data pembelajaran (learning analytics).

Namun di sisi lain, pengujian internasional membuktikan bahwa AI tingkat lanjut mampu meraih skor kelulusan sangat tinggi (89%–94%) pada ujian-ujian profesi berstandar ketat (high-stakes exams). Tanpa intervensi dan desain soal yang tepat, mahasiswa dapat dengan mudah menghasilkan jawaban esai atau analisis kasus klinis dalam hitungan detik tanpa benar-benar memahami materinya. Sesi pelatihan dilanjutkan dengan diskusi interaktif dan penarikan kesimpulan. Dalam pengarahannya saat menutup sesi diskusi, dr. Yoyo Suhoyo,memberikan pencerahan mengenai filosofi evaluasi di era digital:

“Bapak dan Ibu Dosen sekalian, kita tidak mungkin sepenuhnya membendung keberadaan Artificial Intelligence dalam dunia akademik. Namun, kunci utamanya terletak pada bagaimana kita mendesain proses evaluasi tersebut,” penjelasannya. “Gunakanlah kombinasi metode assessment. Ujian lisan singkat, analisis kasus lokal, serta verifikasi data primer adalah benteng terkuat kita saat ini untuk membuktikan pemahaman substantif mahasiswa. Mari kita bangun sistem penilaian yang tidak hanya adil dan kredibel, tetapi juga mendidik mahasiswa kita menjadi akademisi yang berintegritas tinggi.” papar dr. Yoyo Suhoyo

Melalui pelaksanaan pelatihan ini, Program Studi Magister Ilmu Kedokteran Gigi FKG UGM berkomitmen untuk terus melakukan pembaruan cetak biru penilaian, meningkatkan literasi teknologi staf pengajar, serta menegakkan sistem evaluasi yang objektif, akurat, dan berintegritas tinggi di tengah pesatnya era digitalisasi.

(Reporter: Dodi, Nanda, Redaksi: Andri Wicaksono)

Tags

Share News

Related News
11 September 2026

Dorong Pembelajaran Digital & Inklusif FKG UGM Gelar Penyegaran Penggunaan eLOK bagi Para Dosen

11 September 2026

FKG UGM & Kolegium Dokter Gigi & Sepakati Kerja Sama Perkuat Pelatihan Implan Gigi

9 September 2026

FKG UGM Gelar Pembekalan Calon Dokter Gigi, Tanamkan Profesionalisme Medis & Nilai Kemanusiaan