News

/

Artikel, Latest News

Ketika Sel Kanker Lidah Dipaksa Mati dari Dalam

Sebuah sel kanker tidak mati begitu saja. Ia bertahan, membelah, menyebar, dan mengabaikan sinyal kematian yang seharusnya datang dari tubuh sendiri. Itulah yang membuat karsinoma sel skuamosa lidah menjadi salah satu keganasan paling agresif di wilayah kepala dan leher. Namun sebuah penelitian dari Departemen Ilmu Penyakit Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada membuka celah kecil yang mungkin bisa mengubah cara kita melawannya.

Prof. drg. Supriatno, M.Kes, MDSc, PhD, peneliti sekaligus pengajar di FKG UGM, menemukan bahwa protein bernama Jab1 memainkan peran kunci dalam kelangsungan hidup sel kanker lidah. Lebih penting lagi: ketika ekspresi protein itu ditekan menggunakan pendekatan antisense, sel kanker justru berbalik dan menghancurkan dirinya sendiri.

Ketika Penjaga Siklus Sel Disingkirkan

Untuk memahami temuan ini, perlu sedikit perkenalan dengan dua aktor utama: Jab1 dan p27 Kip1.

Jab1, atau Jun activation domain-binding protein 1, adalah protein yang bekerja seperti “pembersih” di dalam sel. Salah satu tugasnya adalah mendegradasi p27 Kip1, sebuah protein yang secara alami berfungsi sebagai rem siklus sel. Ketika p27 Kip1 aktif, ia menghentikan sel agar tidak membelah sembarangan. Namun ketika Jab1 terlalu dominan, p27 Kip1 dihancurkan sebelum sempat bekerja. Sel pun kehilangan rem-nya, terus membelah tanpa kendali, dan jadilah kanker.

Pada banyak kanker manusia, termasuk karsinoma kepala dan leher, kadar p27 Kip1 yang rendah sudah lama dikaitkan dengan prognosis buruk. Hubungan terbalik antara Jab1 yang tinggi dan p27 Kip1 yang rendah ini menjadi titik berangkat penelitian Supriatno.

Sel Sp-C1 dan Strategi Antisense

Dalam penelitian ini, Supriatno menggunakan lini sel kanker lidah manusia bernama Supri’s clone-1, atau Sp-C1, yang dikembangkan sendiri di laboratoriumnya. Nama itu bukan kebetulan: Sp-C1 adalah lini sel yang lahir dari tangan peneliti yang sama, menjadikannya salah satu kontribusi orisinal FKG UGM dalam riset onkologi oral.

Strategi yang dipakai adalah antisense oligonucleotide, semacam “umpan balik molekuler” yang dirancang untuk memblokir ekspresi gen Jab1 secara spesifik. Oligonukleotida antisense ini dimasukkan ke dalam sel Sp-C1, lalu diamati apa yang terjadi.

Hasilnya tidak mengecewakan. Analisis flow cytometry menunjukkan bahwa sel yang mendapat perlakuan Jab1-antisense mengalami peningkatan apoptosis awal hingga 33,5%, jauh di atas sel kontrol yang hanya 18,8%. Fase apoptosis akhir pun tercatat sebesar 17,6%. Sel-sel itu tidak sekadar berhenti tumbuh. Mereka mati secara terprogram.

Caspase Sebagai Algojo Seluler

Kematian sel yang teratur itu tidak terjadi secara acak. Di baliknya ada mekanisme biokimia yang presisi, melibatkan enzim yang disebut caspase.

Penelitian ini mengukur aktivitas dua caspase kunci: caspase-3 dan caspase-9. Keduanya adalah komponen utama jalur apoptosis, baik ekstrinsik maupun intrinsik. Hasilnya menunjukkan peningkatan aktivitas proteolitik caspase-3 sebesar 2,4 kali lipat dan caspase-9 sebesar 1,9 kali lipat pada sel yang diberi perlakuan antisense, dibandingkan sel kontrol.

“Down-regulation of Jab1 by the antisense approach could be a useful apoptosis-modulating strategy for treatment of head and neck cancers.”

Kalimat itu ditulis Supriatno dalam makalahnya yang diterbitkan di Indonesian Journal of Cancer edisi Januari–Maret 2011. Sederhana, tapi berat konsekuensinya: jika Jab1 bisa dijadikan target terapi, maka ada jalur baru yang bisa dijajaki untuk melawan kanker kepala dan leher, terutama yang sudah resisten terhadap pengobatan konvensional.

Harapan Baru di Tepi Lidah

Karsinoma sel skuamosa lidah dikenal dengan angka kekambuhan lokal yang tinggi setelah terapi awal. Bahkan dengan semua kemajuan medis, rasio mortalitas terhadap insidens kanker ini tidak banyak berubah selama satu dekade. Ini bukan sekadar angka statistik. Ini berarti ribuan pasien yang bertahan dari operasi dan radioterapi, lalu menemukan tumornya kembali.

Penelitian Supriatno tidak serta-merta menawarkan obat baru. Ia tidak mengklaim demikian. Yang ditawarkan adalah pemahaman yang lebih dalam tentang mekanisme molekuler di balik kelangsungan hidup sel kanker, dan satu strategi yang terbukti secara in vitro mampu membalikkeadaan: mematikan Jab1, membebaskan p27 Kip1, dan membiarkan sel kanker mati sesuai kodratnya.

Tentu masih jauh dari bangku laboratorium ke meja pasien. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengonfirmasi apakah pendekatan yang sama berlaku pada jenis tumor lain, dan bagaimana cara mengantarkan antisense ini ke dalam tubuh manusia secara aman. Tapi setiap terapi yang hari ini sudah ada, dulu juga dimulai dari satu pertanyaan di laboratorium, dan satu sel yang akhirnya mau mati.

Sumber DOI : https://doi.org/10.33371/ijoc.v5i1.88

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Freepik

Tags

Share News

Related News
22 July 2026

27 Wisudawan Pascasarjana FKG UGM Periode Juli 2026 Resmi Dilepas

22 July 2026

Adaptif Dengan Teknologi Informasi, Tanpa Mengurangi Substansi & Ketahanan Pembelajaran

22 July 2026

Saat Gen Penekan Kanker Disuntikkan Langsung ke Tumor Lidah

en_US