Selesai memakai behel bukan berarti perjuangan berakhir. Bagi jutaan pasien ortodonsi di seluruh dunia, ada ancaman diam-diam yang mengintai begitu kawat gigi dilepas: gigi perlahan-lahan bergerak kembali ke posisi semula. Fenomena ini disebut relapse ortodontik, dan selama ini ia menjadi salah satu tantangan paling frustrasi dalam dunia perawatan gigi.
Sebuah studi yang melibatkan peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada mencoba menawarkan solusi berbeda — bukan dengan retainer konvensional, melainkan dengan gel pintar yang disuntikkan langsung ke jaringan periodontal.
Musuh Lama Bernama Relaps
Setelah alat ortodontik dilepas, ligamen periodontal yang selama berbulan-bulan teregang mulai “menuntut” kembali posisinya. Serat-serat yang tertanam dalam tulang alveolar menarik gigi ke arah semula. Di saat yang sama, osteoklas — sel-sel pemakan tulang — aktif bekerja merombak struktur tulang di sekitar akar gigi.
Proses ini tidak bisa diprediksi sepenuhnya. Ada pasien yang giginya stabil selama bertahun-tahun, ada yang relaps hanya dalam hitungan minggu. Inilah yang membuat relaps ortodontik begitu sulit ditangani secara klinis.
Salah satu pendekatan yang sudah lama diteliti adalah penggunaan bisphosphonate, senyawa kimia yang dikenal mampu menekan aktivitas osteoklas dan memperlambat resorpsi tulang. Masalahnya: pemberian bisphosphonate secara sistemik — lewat suntikan atau konsumsi oral — membawa risiko efek samping pada seluruh kerangka tubuh, bukan hanya pada area gigi yang ditargetkan.
Di sinilah penelitian Prof. Dr. drg. Pinandi Sri Pudyani, SU., Sp.Ort(K.) bersama tim lintas institusi menjadi relevan.
Gel Gelatin Sebagai Pengantar Obat
Tim peneliti yang terdiri dari Tita Ratya Utari, Ika Dewi Ana, Prof. Dr. drg. Pinandi Sri Pudyani, SU., Sp.Ort(K.), dan Widya Asmara merancang sistem pengiriman obat berbasis hidrogel gelatin. Idenya sederhana namun cerdas: bungkus risedronate — salah satu jenis bisphosphonate generasi ketiga — di dalam matriks gel berpori, lalu suntikkan langsung ke area subperiosteal di sisi mesial gigi.
Gelatin dipilih bukan tanpa alasan. Material ini bersifat biokompatibel, dapat terurai secara biologis, dan mampu melepaskan obat secara bertahap sesuai kebutuhan. Dalam uji laboratorium, hidrogel gelatin terbukti memperlambat pelepasan risedronate dibanding obat murni tanpa pembawa. Pada kelompok Bis-CR250 (konsentrasi 250 mmol/L), laju pelepasan turun dari 19,9 persen menjadi 15,7 persen. Pada Bis-CR500 (500 mmol/L), penurunannya lebih signifikan: dari 39,7 persen menjadi 22,3 persen.
Artinya, gel ini tidak langsung melepaskan semua obat sekaligus. Ia melepaskannya perlahan, terkontrol, tepat di lokasi yang dibutuhkan.
Tujuh Puluh Lima Marmot dan Sebuah Temuan
Untuk menguji efektivitasnya secara in vivo, tim menggunakan 75 ekor marmot jantan dengan berat 500–600 gram. Hewan ini dipilih karena kemiripan fisiologis dan imunologisnya dengan manusia, serta kemudahan pemasangan alat ortodontik.
Gigi insisivus bawah marmot digerakkan sejauh ±3 mm menggunakan open coil spring berbahan Ni-Ti, lalu distabilkan selama 14 hari. Setelah periode stabilisasi, alat dilepas dan pengamatan relaps dimulai. Kelompok perlakuan mendapat aplikasi hidrogel risedronate setiap tiga hari melalui jarum berukuran 30-gauge yang dimasukkan ke area sulkus gingiva.
Hasilnya terukur jelas. Pada hari ke-14 dan ke-21 setelah pelepasan alat, kedua kelompok perlakuan menunjukkan pergerakan relaps yang jauh lebih kecil dibanding kelompok kontrol (p < 0,05). Yang lebih menarik: Bis-CR500 terbukti lebih efektif menghambat relaps dibanding Bis-CR250 pada hari ke-21 — membuktikan adanya hubungan dosis-respons yang konsisten.
Pewarnaan TRAP (Tartrate-Resistant Acid Phosphatase) pada jaringan tulang alveolar memperkuat temuan ini. Jumlah osteoklas aktif pada kelompok perlakuan nyata lebih sedikit dibanding kontrol. Sel-sel pemakan tulang itu terhambat kerjanya oleh risedronate yang dilepas secara bertahap dari matriks gel.
“Controlled release of bisphosphonate risedronate with a topically administered gelatin hydrogel has shown to be effective in decreasing the tooth relapse movement and osteoclast activity.” — Utari et al., Saudi Dental Journal, 2021
Dari Laboratorium Menuju Klinik
Penelitian ini diterbitkan dalam Saudi Dental Journal pada 2021 dan mendapat dukungan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Etika penelitian disetujui oleh Komite Etik Penelitian Biomedis FKG UGM dengan nomor klirens 355/KKEP/FKG-UGM/EC/2012.
Temuan ini membuka pintu bagi pendekatan baru dalam retensi pasca-ortodontik. Selama ini, pasien mengandalkan retainer lepasan atau cekat yang menuntut kepatuhan tinggi. Jika hidrogel risedronate ini suatu hari bisa dikembangkan untuk penggunaan klinis pada manusia, ia menawarkan sesuatu yang berbeda: efek lokal yang terkontrol, tanpa perlu khawatir obat menyebar ke seluruh sistem tulang.
Tentu, jalan dari meja laboratorium ke kursi dental masih panjang. Uji klinis pada manusia belum dilakukan, dan pertanyaan soal keamanan jangka panjang penggunaan bisphosphonate di rongga mulut masih perlu dijawab. Namun bagi jutaan pasien yang sudah bersusah payah menjalani perawatan ortodontik bertahun-tahun, temuan ini setidaknya memberi harapan: mungkin suatu hari nanti, sebuah suntikan kecil bisa menjaga hasil kerja keras itu tetap bertahan.
Sumber DOI : https://doi.org/10.1016/j.sdentj.2020.03.003
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels