Bayangkan seorang nenek berusia 68 tahun yang menolak diajak makan bersama keluarga besar. Bukan karena malas, tapi karena mengunyah sudah terasa seperti siksaan. Mulutnya kering sepanjang hari, sebagian besar giginya sudah tanggal, dan rasa percaya dirinya perlahan ikut runtuh. Cerita seperti ini bukan pengecualian. Di Yogyakarta, kondisi semacam itu dialami oleh mayoritas lansia yang menjadi peserta penelitian Prof. Dr. drg. Dewi Agustina, MDSc dari Departemen Ilmu Penyakit Mulut FKG Universitas Gadjah Mada.
Hasilnya mengejutkan, sekaligus memprihatinkan: tujuh dari sepuluh lansia di Yogyakarta memiliki kualitas hidup terkait kesehatan mulut yang rendah. Dan dari sekian banyak faktor yang diperiksa, dua kondisi terbukti paling berbahaya: xerostomia (mulut kering) dan sedikitnya pasangan gigi yang masih beroklusi secara alami.
Ketika Mulut Tak Lagi Bisa Diandalkan
Penelitian yang diterbitkan dalam European Journal of Dentistry (2023) ini melibatkan 153 lansia berusia 60 tahun ke atas dari lima Posyandu Lansia di tiga kecamatan Yogyakarta, yaitu Danurejan, Gedongtengen, dan Jetis. Para partisipan menjalani pemeriksaan menyeluruh: indeks kebersihan mulut, kondisi jaringan periodontal, indeks DMFT (gigi yang rusak, hilang, dan ditambal), hingga jumlah natural occluding pairs atau NOP, yaitu pasangan gigi atas-bawah yang masih berkontak saat menggigit.
Selain itu, setiap peserta diwawancarai menggunakan Xerostomia Inventory dan Geriatric Oral Health Assessment Index (GOHAI) versi Indonesia untuk mengukur persepsi subjektif mereka tentang kenyamanan, fungsi, dan kesejahteraan psikososial terkait kondisi mulut mereka.
Dari 153 peserta, 108 orang atau 70,6 persen masuk kategori OHRQoL rendah. Artinya, sebagian besar lansia ini merasakan dampak nyata dari kondisi mulut mereka terhadap kehidupan sehari-hari, mulai dari kesulitan makan, gangguan tidur, hingga menarik diri dari pergaulan sosial.
Dua Faktor yang Melipatgandakan Risiko
Dari enam variabel yang diuji secara statistik, hanya dua yang terbukti secara bermakna meningkatkan risiko kualitas hidup rendah: xerostomia dan jumlah NOP kurang dari atau sama dengan lima pasang.
Analisis multivariat menunjukkan bahwa lansia dengan xerostomia memiliki risiko 2,5 kali lebih tinggi mengalami OHRQoL rendah dibanding yang tidak. Hal yang sama berlaku bagi mereka yang hanya memiliki lima pasang gigi beroklusi atau kurang: risikonya setara, yakni 2,5 kali lipat.
“Xerostomia dan NOP ≤5 merupakan faktor risiko utama yang berkontribusi terhadap rendahnya OHRQoL pada lansia di Yogyakarta. Lansia yang mengalami xerostomia atau NOP ≤5 memiliki risiko 2,5 kali lebih tinggi untuk mengalami OHRQoL yang rendah.” Prof. Dr. drg. Dewi Agustina, MDSc, peneliti utama
Xerostomia sendiri bukan sekadar rasa tidak nyaman. Kondisi ini mengganggu fungsi saliva yang vital: membersihkan rongga mulut secara alami, menetralisir keasaman, membantu pembentukan bolus makanan, bahkan membantu seseorang merasakan cita rasa makanan. Ketika saliva berkurang atau dirasakan berkurang, efek dominonya panjang: kebersihan mulut memburuk, karies berkembang, penyakit periodontal meluas, dan akhirnya gigi tanggal.
Dari data penelitian ini, 60,1 persen peserta mengalami xerostomia, sementara 71,9 persen memiliki indeks DMFT yang tinggi, dan 73,2 persen hanya punya lima pasang gigi beroklusi atau kurang. Angka-angka ini bukan sekadar statistik; ini adalah gambaran mulut yang sudah kehilangan banyak fungsinya.
Mengapa Obat-obatan Jadi Tersangka Utama
Salah satu temuan yang menarik perhatian adalah tingginya prevalensi xerostomia dibanding hiposalivasi yang terukur secara objektif. Sebanyak 60,1 persen peserta melaporkan gejala mulut kering, namun hanya 26,1 persen yang terbukti mengalami penurunan laju aliran saliva secara klinis.
Selisih ini memberi petunjuk penting. Banyak lansia dalam penelitian ini menderita hipertensi (42 orang) dan diabetes mellitus (18 orang), dan sebagian besar mengonsumsi obat antihipertensi yang bersifat xerogenik, artinya obat yang sebagai efek samping mengurangi produksi saliva. Diperkirakan sekitar 80 persen obat yang diresepkan dokter untuk lansia memiliki efek xerogenik. Kondisi ini menciptakan lingkaran setan: penyakit kronis memerlukan obat, obat memperparah kondisi mulut, dan kondisi mulut yang buruk menekan kualitas hidup.
Faktor gender juga muncul dalam data. Lansia perempuan cenderung melaporkan OHRQoL yang lebih rendah dibanding laki-laki, bukan karena kondisi mulut mereka secara klinis lebih buruk, melainkan karena perempuan umumnya memiliki standar dan ekspektasi yang lebih tinggi terhadap kesehatan dirinya, sehingga lebih kritis dalam menilai kualitas hidupnya sendiri.
Dari Posyandu ke Kebijakan: Apa yang Bisa Dilakukan
Penelitian ini tidak berhenti pada diagnosis masalah. Prof. Dewi Agustina dan tim menekankan bahwa temuan ini harus menjadi acuan bagi pemerintah dalam merancang program kesehatan mulut lansia yang lebih tepat sasaran. Salah satu rekomendasi konkret yang muncul adalah rehabilitasi prostodontik, penggunaan gigi tiruan bagi lansia yang kehilangan banyak gigi, sebagai salah satu cara meningkatkan OHRQoL sekaligus mengurangi kecemasan dan meningkatkan persepsi kelembaban mulut.
Di sisi lain, penelitian ini juga menegaskan perlunya instrumen penilaian OHRQoL yang benar-benar lahir dari konteks Indonesia. GOHAI yang digunakan dalam penelitian ini merupakan adaptasi dari instrumen luar negeri. Mengembangkan alat ukur yang betul-betul merespons nilai, budaya, dan tingkat pendidikan masyarakat Indonesia, terutama lansia di berbagai daerah, adalah langkah yang mendesak.
Yogyakarta dikenal sebagai kota dengan angka harapan hidup tertinggi di Indonesia dan proporsi lansia yang terus bertumbuh. Ironisnya, panjang umur belum tentu berarti hidup yang nyaman. Selama mulut kering masih dianggap wajar karena “sudah tua” dan gigi yang tanggal dibiarkan tanpa rehabilitasi, jutaan tahun kehidupan yang secara statistik berhasil diperpanjang itu akan terus dijalani dalam ketidaknyamanan yang seharusnya bisa dicegah.
Sumber DOI : DOI: 10.1055/s-0042-1757566
Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Freepik