News

/

Artikel, Latest News

Satu Foto Rontgen, Jejak DNA yang Tak Terlihat

Bayangkan sebuah foto panoramik gigi diambil dalam hitungan detik. Pasien duduk, mesin berputar, dan gambar muncul di layar. Proses itu tampak sederhana, hampir tanpa konsekuensi. Namun di balik kilatan sinar-X yang singkat itu, sel-sel mukosa gingiva menyimpan cerita lain: jejak kerusakan DNA yang bisa diukur, dan kini bisa dideteksi tanpa prosedur invasif sama sekali.

Itulah inti temuan Dr. drg. Rurie Ratna Shantiningsih, MDSc, bersama tim dari Departemen Radiologi Dentomaksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. Penelitian mereka, yang dipublikasikan dalam Malaysian Journal of Medicine and Health Sciences edisi September 2022, membuktikan bahwa kadar 8-oxo-dG dalam cairan sulkus gingiva berkorelasi kuat dengan peningkatan jumlah mikronukleus setelah paparan radiografi panoramik, baik teknik konvensional maupun digital.

Penanda Kecil dengan Pesan Besar

Mikronukleus adalah fragmen kecil di luar inti sel, berukuran sekitar sepertiga hingga seperlima inti utama, dengan warna yang sama persis. Keberadaannya bukan kebetulan. Ia adalah penanda instabilitas genomik, sinyal bahwa sel pernah mengalami tekanan genotoksik.

Selama ini, menghitung mikronukleus memerlukan pengambilan sampel usap mukosa dan pengamatan di bawah mikroskop, prosedur yang cukup memakan waktu dan membutuhkan keahlian khusus. Pertanyaannya: adakah cara yang lebih sederhana untuk memantau efek radiasi tersebut?

Jawabannya mungkin tersimpan dalam cairan yang selama ini kurang diperhatikan, yaitu cairan sulkus gingiva atau gingival crevicular fluid (GCF). Cairan ini mengisi celah antara gigi dan gusi, dan ternyata mengandung molekul 8-oxo-dG, produk sampingan kerusakan DNA akibat stres oksidatif. Yang menarik, 8-oxo-dG dalam GCF bisa diukur menggunakan teknik ELISA, tanpa perlu biopsi atau tindakan invasif apa pun.

Dari RSGM Prof. Soedomo ke Laboratorium

Penelitian ini melibatkan 20 pasien yang menjalani radiografi panoramik di instalasi radiologi RSGM UGM Prof. Soedomo, sepuluh orang dengan teknik digital dan sepuluh dengan teknik konvensional. Semua peserta berusia 18 hingga 30 tahun, dalam kondisi sistemik sehat, dan bebas dari peradangan jaringan periodontal.

Sampel diambil dua kali: sebelum paparan dan sepuluh hari setelahnya untuk usap mukosa, serta sebelum dan sesaat setelah paparan untuk GCF. Usap mukosa diwarnai dengan metode Feulgen-Rossenbeck yang dimodifikasi, lalu diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran 40 kali. Sementara GCF dikumpulkan menggunakan paper point yang dimasukkan ke dalam sulkus gingiva selama satu menit, kemudian dianalisis dengan ELISA untuk mengukur kadar 8-oxo-dG.

Hasilnya cukup mengejutkan. Kadar 8-oxo-dG meningkat setelah paparan pada kedua teknik, meski peningkatannya tidak mencapai signifikansi statistik secara terpisah. Yang jauh lebih penting adalah temuan korelasi: kadar 8-oxo-dG berkorelasi signifikan dengan jumlah mikronukleus (r = 0,749, p < 0,01). Korelasi pada teknik digital bahkan lebih kuat (r = 0,879) dibanding teknik konvensional (r = 0,673).

“8-oxo-dG dapat digunakan sebagai parameter untuk mendeteksi efek paparan radiografi, dan kami sangat menyarankan agar perlindungan radiasi dipertimbangkan pada pasien yang menjalani radiografi panoramik.”

Demikian simpulan yang ditegaskan Dr. drg. Rurie Ratna Shantiningsih, MDSc, dan tim dalam publikasi tersebut.

Digital Lebih Aman, Tapi Bukan Tanpa Risiko

Salah satu temuan yang patut dicatat adalah perbedaan antara teknik digital dan konvensional. Kadar 8-oxo-dG sebelum dan sesudah paparan pada kelompok konvensional lebih tinggi dibanding kelompok digital. Jumlah mikronukleus pada kelompok konvensional juga secara signifikan lebih banyak (p = 0,01). Ini konsisten dengan prinsip yang sudah lama diketahui: radiografi panoramik digital menggunakan dosis lebih rendah, sehingga dampaknya terhadap sel pun lebih kecil.

Namun penelitian ini sekaligus mengingatkan bahwa “lebih kecil” tidak berarti “tidak ada”. Prinsip ALARA (as low as reasonably achievable) menegaskan hal ini: bahkan dosis kecil sekalipun tetap berpotensi memengaruhi jaringan yang terpapar. Efek radiasi panoramik bersifat stokastik, tidak ada ambang batas dosis yang pasti aman.

Implikasinya tidak kecil. Jika 8-oxo-dG dalam GCF terbukti sebagai biomarker yang andal, maka pemantauan efek radiasi gigi bisa dilakukan dengan cara yang jauh lebih mudah dan tidak menyakitkan pasien. Tidak perlu mengambil irisan jaringan, tidak perlu pewarnaan imunohistokimia yang rumit. Cukup paper point, satu menit di dalam sulkus gingiva, dan analisis ELISA.

Tentu, penelitian ini baru langkah awal. Jumlah subjek masih terbatas, dan para peneliti sendiri mengakui perlunya studi lanjutan, termasuk untuk menyelidiki agen antioksidan yang berpotensi menjadi pelindung tambahan dari efek radiasi. Sebab stres oksidatif akibat ionisasi, menurut temuan ini, juga dipengaruhi oleh status nutrisi dan ketersediaan antioksidan dalam tubuh.

Foto panoramik memang hanya berlangsung beberapa detik. Tapi sel-sel di gusi pasien mencatatnya jauh lebih lama dari yang kita kira.

Sumber DOI : doi:10.1007/s11604-008-0232-0.

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
21 July 2026

FKG UGM Usung Konsep Green Dentistry pada Summer Course 2026

21 July 2026

Ketika Karier Mandek, Siapa yang Bertanggung Jawab?

21 July 2026

Nanokitosan Lawan Bakteri Tersembunyi di Balik Kawat Gigi

en_US