Selama ini, ekspansi rahang atas pada anak-anak lebih sering dibicarakan dalam konteks gigi berjejal atau gigitan silang. Tapi sebuah meta-analisis terbaru dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada mengungkap sesuatu yang lebih jauh: prosedur ortodontik itu ternyata juga memperluas dimensi saluran napas atas secara signifikan, termasuk rongga hidung, nasofaring, dan orofaring.
Penelitian yang diterbitkan di jurnal Dentistry Review (Elsevier, 2026) ini merupakan hasil kolaborasi tim residen ortodonsia FKG UGM bersama drg. Anrizandy Narwidina, MDSc, Sp.KGA, Ph.D dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak, dan Prof. Ananto Ali Alhasyimi dari Departemen Ortodonsia. Tim menganalisis 13 studi dari berbagai penjuru dunia, semuanya menggunakan pencitraan cone beam computed tomography (CBCT) sebagai alat ukur tiga dimensi.
Rahang Sempit, Napas Terganggu
Defisiensi maksila pada anak yang sedang tumbuh bukan sekadar soal estetika wajah atau susunan gigi. Maksila secara anatomis membentuk lantai rongga hidung dan memengaruhi ruang nasofaring serta orofaring. Ketika tulang rahang atas terlalu sempit atau terlalu mundur, struktur di sekitarnya ikut terdampak, termasuk jalur udara yang dilewati setiap kali anak bernapas.
Prosedur ekspansi maksila, khususnya rapid maxillary expansion (RME), bekerja dengan melebarkan lengkung rahang atas melalui alat ekspander. Efek sampingnya terhadap fungsi pernapasan selama ini masih diperdebatkan. Sebagian studi melaporkan peningkatan volume saluran napas, sementara yang lain tidak menemukan perubahan bermakna. Kontradiksi inilah yang mendorong tim peneliti FKG UGM melakukan sintesis sistematis berbasis bukti.
Angka yang Bicara
Dari 1.370 artikel yang ditelusuri di PubMed, ScienceDirect, dan beberapa basis data lain hingga Mei 2026, tim akhirnya menyaring 13 studi untuk analisis kualitatif dan 12 studi untuk meta-analisis kuantitatif. Seluruh studi menggunakan CBCT, bukan radiografi dua dimensi yang rentan distorsi dan superimposisi.
Hasilnya cukup tegas. Ekspansi maksila berkaitan dengan peningkatan signifikan pada tiga segmen saluran napas: rongga hidung menunjukkan efek terbesar (standardized mean difference/SMD = 0,91; p < 0,001), diikuti volume nasofaring (SMD = 0,71; p < 0,001), dan volume orofaring (SMD = 0,54; p < 0,001).
“Nasal cavity volume showed the largest pooled effect; however, substantial heterogeneity was observed for nasopharyngeal and nasal cavity outcomes.” — Amly et al., Dentistry Review, 2026
Peningkatan terbesar pada rongga hidung masuk akal secara anatomis: pembukaan sutura midpalatal langsung melebarkan lantai rongga hidung. Namun heterogenitas tinggi pada kelompok alat tooth-borne (I² = 88,46%) mengingatkan bahwa angka rerata tidak bisa dibaca mentah-mentah tanpa mempertimbangkan variasi protokol dan jenis alat.
Bukan Semua Alat Bekerja Sama
Salah satu temuan paling klinispraktis dari penelitian ini berkaitan dengan jenis alat ekspander. Ketika tim memecah data berdasarkan tipe alat, perbedaan yang muncul cukup mencolok, terutama pada volume nasofaring.
Alat tooth-borne konvensional, yang paling banyak digunakan secara klinis, ternyata tidak menunjukkan perubahan signifikan pada volume nasofaring (SMD = 0,65; p > 0,05). Sebaliknya, alat hybrid and miniscrew-assisted memberikan peningkatan bermakna (SMD = 0,90; p < 0,001). Perbedaan ini kemungkinan besar berkaitan dengan mekanisme transmisi gaya: alat berbasis miniscrew menyalurkan tekanan lebih langsung ke sutura sirkumaksila dan struktur skeletal yang lebih dekat ke nasofaring, sementara RME konvensional menghasilkan komponen dentoalveolar yang lebih dominan.
Implikasinya bagi klinisi cukup penting: asumsi bahwa ekspansi konvensional otomatis memperbesar nasofaring perlu ditinjau ulang.
Antara Volume dan Fungsi: Jurang yang Belum Terjembatani
Di sinilah kehati-hatian ilmiah penelitian ini terlihat paling kuat. Tim dengan tegas memisahkan antara perubahan anatomis yang terukur via CBCT dan fungsi pernapasan yang sesungguhnya.
Peningkatan volume rongga hidung atau nasofaring pada gambar CBCT belum otomatis berarti anak bernapas lebih baik. Belum ada konfirmasi melalui rhinomanometry, polysomnography, atau indeks apnea-hipopnea. Sebagian besar studi yang dianalisis juga tidak memiliki kelompok kontrol yang tidak diobati, sehingga sulit memisahkan efek perawatan dari pertumbuhan normal saluran napas anak.
Hal lain yang perlu dicatat: hampir semua pasien dalam studi-studi ini berusia 7 hingga 16 tahun, masa di mana saluran napas memang secara alami membesar seiring pertumbuhan. Rentang pengamatan antara 23 hari hingga 15 bulan membuat interpretasi kausalitas semakin rumit.
Para peneliti menegaskan bahwa uji klinis terkontrol dengan endpoint pernapasan yang tervalidasi masih sangat dibutuhkan sebelum rekomendasi klinis yang tegas bisa diberikan. Volume CBCT, bagaimanapun, hanya surrogate anatomis, bukan cermin langsung dari fungsi.
Bagi anak dengan rahang sempit yang duduk di kursi perawatan ortodonsia, temuan ini membuka kemungkinan bahwa manfaat ekspansi mungkin melampaui senyum yang lebih rapi. Tapi seberapa jauh manfaat itu menyentuh kualitas napas mereka sehari-hari, masih menunggu jawaban dari penelitian generasi berikutnya.
Sumber DOI : https://doi.org/10.1016/j.dentre.2026.100433
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels