Tujuh puluh satu dari seratus siswa SMP di Kulon Progo mengonsumsi jajanan dengan tingkat kariogenik rendah. Seharusnya, angka karies mereka ikut rendah. Kenyataannya tidak demikian: tepat separuh dari mereka, 50 siswa, justru masuk kategori risiko karies tinggi berdasarkan penilaian klinis. Temuan paradoks inilah yang mendorong peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada untuk menggali lebih dalam hubungan antara jajanan sekolah dan kesehatan gigi anak remaja.
Penelitian yang dipublikasikan di Indonesian Dentistry Magazine edisi Desember 2021 ini melibatkan 100 siswa kelas VII berusia 12-15 tahun dari sejumlah SMP Negeri di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tim peneliti terdiri atas Yulita Subandari dari RSU Santa Elisabeth Bantul, Prof. Dr. drg. Bambang Priyono dari Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat FKG UGM, serta Prof. Dr. drg. Al. Supartinah, Sp.KGA dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG UGM.
Mengukur Jajanan dengan Tabel Papas
Selama lima hari berturut-turut, peneliti mencatat setiap jajanan yang dikonsumsi subjek pada jam istirahat pertama dan kedua. Penilaian tingkat kariogenik menggunakan tabel Papas, sistem skoring yang mengklasifikasikan makanan berdasarkan kandungan karbohidrat, tekstur fisik, dan kemampuannya merangsang produksi asam oleh bakteri mulut.
Hasilnya menunjukkan bahwa jajanan yang paling banyak dikonsumsi siswa di kantin sekolah justru tergolong rendah kariogenik. Nasi kucing, teh, susu, batagor, hingga mendoan mendominasi pilihan mereka. Makanan-makanan ini mengandung air, lemak, protein, dan serat, sehingga lebih mudah dibersihkan dari permukaan gigi dibandingkan makanan padat dan lengket seperti permen, dodol, atau gulali. Tidak ada satu pun subjek yang masuk kategori konsumsi jajanan kariogenik tinggi.
Namun, 29 siswa (29%) tetap mengonsumsi jajanan dengan kariogenik sedang, seperti gorengan basah dan kering yang mengandung karbohidrat. Angka ini menjadi perhatian tersendiri, karena jajanan semacam itu masih berpotensi memicu fermentasi bakteri dan pembentukan plak pada permukaan gigi.
Risiko Karies Bukan Hanya Soal Apa yang Dimakan
Penilaian risiko karies dilakukan menggunakan Caries Assessment Tool (CAT), instrumen yang dikembangkan oleh American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD). CAT tidak hanya menilai kondisi gigi secara klinis, melainkan juga mempertimbangkan indikator sosial, biologis, protektif, dan kondisi klinis secara menyeluruh.
Hasil uji statistik Chi-Square menunjukkan nilai Asymp. Sig. sebesar 0,557, jauh di atas ambang batas 0,05. Artinya, tidak ada hubungan signifikan antara tingkat kariogenik jajanan sekolah dengan tingkat risiko karies pada siswa.
Temuan ini terdengar mengejutkan, tetapi penjelasannya justru membuka perspektif yang lebih luas. Risiko karies tidak ditentukan oleh satu faktor tunggal. Bakteri di rongga mulut, frekuensi makan, paparan fluorida, kondisi saliva, hingga kebiasaan menyikat gigi, semuanya berperan secara bersamaan.
“Siswa yang bebas karies pun bisa memiliki risiko tinggi karena dipengaruhi oleh kebiasaan ngemil dan kondisi sosial ekonomi keluarga serta laju saliva yang tinggi, sementara anak yang sudah menunjukkan tanda karies langsung masuk kategori risiko tinggi.”
Fakta di lapangan memperkuat hal ini: sebagian besar siswa hanya menyikat gigi pada permukaan oklusal, bukan seluruh permukaan gigi. Frekuensi makan yang tinggi juga menjadi faktor tersendiri, karena semakin sering gula bersentuhan dengan gigi, semakin lama kondisi asam bertahan di rongga mulut.
Ketika Kebiasaan Lebih Menentukan daripada Menu
Satu temuan menarik lain dari penelitian ini berkaitan dengan gender. Dari 100 subjek, 62 di antaranya perempuan. Pada rentang usia 12-14 tahun, siswa perempuan cenderung lebih memperhatikan kebersihan diri, termasuk kesehatan gigi. Data menunjukkan siswa perempuan lebih konsisten menyikat gigi dua kali sehari, pagi dan malam sebelum tidur, dibandingkan siswa laki-laki.
Di sisi lain, penelitian ini juga menemukan bahwa 18 siswa (18%) memiliki risiko karies rendah. Mereka umumnya sudah terbiasa menggunakan pasta gigi berfluoride dan bahkan sebagian berkumur dengan antiseptik secara rutin. Ini menegaskan bahwa kebiasaan menjaga kebersihan mulut mampu menekan risiko karies, bahkan pada anak yang mengonsumsi makanan kariogenik.
Kondisi program Usaha Kesehatan Gigi dan Mulut Sekolah (UKGS) di tingkat SMP Kulon Progo juga menjadi catatan penting dalam penelitian ini. Saat penelitian dilakukan, program UKGS di jenjang SMP belum berjalan secara reguler, berbeda dengan jenjang SD yang lebih terpantau. Kekosongan ini berpotensi memperbesar celah pengawasan terhadap kesehatan gigi remaja yang seharusnya masuk masa kritis.
Kantin Bukan Satu-satunya Penjaga Gigi Anak
Penelitian ini tidak menyimpulkan bahwa jajanan sekolah tidak berbahaya bagi gigi. Sebaliknya, temuan ini mengingatkan bahwa fokus perhatian tidak cukup hanya pada apa yang dijual di kantin. Frekuensi makan, kualitas dan konsistensi menyikat gigi, akses terhadap fluorida, serta kondisi sosial ekonomi keluarga, semua itu membentuk risiko karies secara kolektif.
Para peneliti merekomendasikan agar sekolah tidak hanya mengawasi jenis jajanan yang dijual, tetapi juga menyediakan fasilitas untuk berkumur atau menyikat gigi setelah makan. Kunjungan tenaga kesehatan gigi ke sekolah untuk memberikan penyuluhan tentang makanan kariogenik dan cara menjaga kesehatan mulut juga dinilai mendesak, terutama di wilayah yang program UKGSnya belum berjalan optimal.
Separuh siswa SMP di Kulon Progo berisiko tinggi mengalami karies. Angka itu tidak berubah hanya karena jajanan mereka kebetulan rendah gula. Selama kebiasaan menyikat gigi masih setengah hati dan program kesehatan gigi di sekolah belum menyentuh mereka secara konsisten, risiko itu akan terus bertahan, tersembunyi di balik menu kantin yang tampaknya sudah cukup sehat.
Sumber DOI : http://doi.org/10.22146/majkedgiind.58950
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels