News

/

Artikel, Latest News, SDG 10, SDG 3, SDG 4, SDG 8, SDG 9

Saat Rahang Patah: ORIF Terbukti Percepat Penyembuhan Tulang Kondilus Mandibula

Bayangkan sebuah foto rontgen panoramik — gambar abu-abu yang tampak biasa bagi orang awam, tapi menyimpan informasi mendalam tentang kepadatan tulang bagi mata terlatih. Di sinilah riset terbaru dari Universitas Gadjah Mada bermula: membaca perubahan gradasi abu-abu pada gambar tersebut untuk menjawab pertanyaan lama di dunia bedah mulut — metode manakah yang lebih baik menyembuhkan patah tulang kondilus mandibula?

Hasilnya cukup tegas. Metode ORIF (Open Reduction Internal Fixation) menghasilkan penyembuhan tulang yang lebih cepat dan lebih padat dibandingkan reduksi tertutup, dan perbedaan itu terukur secara objektif dari hari pertama pasca operasi hingga lebih dari tiga bulan kemudian.

Ketika Dagu Menghantam Aspal

Fraktur kondilus mandibula bukan cedera langka. Kondilus — tonjolan tulang di ujung rahang bawah yang membentuk sendi temporomandibular — adalah titik paling rentan patah ketika terjadi benturan keras. Kondisi ini menyumbang 52 persen dari seluruh kasus fraktur mandibula, dan di negara berkembang seperti Indonesia, penyebab utamanya adalah kecelakaan lalu lintas.

Penelitian yang diterbitkan di Research Square pada Oktober 2025 ini melibatkan 30 pasien dengan diagnosis fraktur kondilus mandibula yang dirawat di RSUD Margono Soekarjo, Purwokerto, antara 2017 hingga 2024. Mayoritas pasien adalah laki-laki, berusia rata-rata 26–28 tahun, dengan riwayat kecelakaan kendaraan bermotor. Penelitian ini digagas oleh Ainu Zuhad Sukaton dan Poerwati Soetji Rahajoe, dengan drg. Yosaphat Bayu Rosanto, MDSc, Sp.BMM sebagai supervisor penelitian, ketiganya dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi UGM.

Pasien dibagi menjadi dua kelompok: 15 orang ditangani dengan ORIF — operasi terbuka di mana fragmen tulang difiksasi langsung menggunakan pelat dan sekrup — sementara 15 orang lainnya ditangani dengan reduksi tertutup, pendekatan konservatif yang mengandalkan imobilisasi rahang tanpa pembedahan terbuka pada sendi.

Membaca Tulang Lewat Piksel

Alih-alih mengandalkan penilaian visual subjektif atas foto rontgen panoramik (OPG), tim peneliti menggunakan pendekatan yang lebih terukur: Gray Scale Value (GSV) dan Pixel Value Ratio (PVR). Dengan bantuan perangkat lunak ImageJ, setiap piksel pada area fraktur dianalisis nilai keabuannya — makin tinggi nilai GSV, makin padat tulang di area tersebut.

Untuk meminimalkan bias antar individu, peneliti menghitung PVR, yakni rasio antara GSV di area fraktur dibandingkan GSV di tulang sehat pada pasien yang sama. Angka ini lalu diamati pada empat titik waktu: hari pertama, minggu kedua, minggu ke-8 hingga ke-13, dan lebih dari 13 minggu pasca operasi.

Hasilnya konsisten di semua titik pengamatan. PVR kelompok ORIF selalu lebih tinggi: pada hari pertama (0,84 berbanding 0,75), minggu kedua (0,88 berbanding 0,85), minggu ke-8 hingga ke-13 (0,93 berbanding 0,90), dan lebih dari 13 minggu (0,95 berbanding 0,93). Perbedaan ini bermakna secara statistik di seluruh titik waktu, dengan nilai P berkisar antara 0,001 hingga 0,018.

“GSV dan PVR pada kelompok ORIF ditemukan lebih tinggi dibandingkan kelompok reduksi tertutup, yang berarti penyembuhan pada kelompok ORIF lebih baik dibandingkan kelompok reduksi tertutup.”

Peningkatan PVR tertinggi pada kelompok ORIF terjadi antara minggu kedua dan minggu ke-8 hingga ke-13 — periode ketika tulang anyaman (woven bone) mematang menjadi tulang lamelar yang lebih padat dan terstruktur. Sementara pada kelompok reduksi tertutup, lonjakan PVR justru paling besar di dua minggu pertama, saat kalus mulai terbentuk mengisi celah fraktur.

Dua Jalur Menuju Tulang yang Pulih

Perbedaan angka ini mencerminkan dua mekanisme biologis yang berbeda. Pada ORIF, fragmen tulang dirapatkan dan difiksasi tanpa celah, sehingga penyembuhan berlangsung secara primer: kanal Haversian terbentuk langsung di garis fraktur, mengisi area tersebut dengan matriks tulang tanpa melalui fase kalus. Prosesnya lebih linear, lebih cepat.

Reduksi tertutup, di sisi lain, mengandalkan penyembuhan sekunder yang melewati empat tahap berurutan: inflamasi akut, pembentukan kalus lunak, mineralisasi menjadi kalus keras, lalu remodeling. Setiap tahap membutuhkan waktu, dan celah fraktur yang tidak tertutup sempurna membuat densitas tulang lebih rendah dalam jangka pendek maupun menengah.

Namun peneliti menegaskan satu hal penting: temuan ini tidak berarti reduksi tertutup adalah metode yang lebih buruk secara absolut. Pada kasus tertentu — fraktur kondilus kepala yang tidak bergeser, fraktur pada pasien anak, atau kondisi medis yang menghalangi tindakan bedah — reduksi tertutup tetap menjadi pilihan yang tepat dan bijaksana. Keputusan klinis selalu bergantung pada indikasi spesifik setiap pasien.

Angka yang Bicara untuk Pasien

Implikasi praktis dari penelitian ini melampaui angka statistik. Fraktur kondilus yang tidak sembuh optimal dapat berujung pada maloklusi — gigitan yang tidak pas — disfungsi sendi temporomandibular, keterbatasan membuka mulut, hingga nyeri kronis yang mengganggu kualitas hidup jangka panjang.

Penggunaan GSV dan PVR sebagai alat evaluasi juga membuka pintu bagi pendekatan pemantauan yang lebih objektif dan terjangkau. Analisis ini memanfaatkan foto OPG yang sudah rutin dilakukan, dipadukan dengan perangkat lunak gratis seperti ImageJ — tidak membutuhkan alat pencitraan canggih tambahan.

Pada akhirnya, foto rontgen yang tampak biasa itu menyimpan lebih banyak informasi daripada yang terlihat oleh mata. Dan ketika piksel-piksel abu-abu itu diterjemahkan dengan cermat, mereka bisa menjadi panduan bagi dokter bedah mulut untuk memilih jalan terbaik — bukan hanya agar tulang menyatu, tetapi agar pasien kembali mengunyah, berbicara, dan menjalani hidup tanpa rasa sakit.

Sumber DOI : https://doi.org/10.21203/rs.3.rs-7613590/v1

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
15 July 2026

Ketika Gigi Hitam Bisa Kembali Putih: Kisah Internal Bleaching dan Restorasi Porselen

15 July 2026

Tonjolan Misterius di Gigi Anak: Saat Temuan Langka Membuka Jendela Baru Ilmu Kedokteran Gigi

15 July 2026

Hidroksiapatit dari Tulang Ayam: Solusi Murah untuk Luka Pasca Cabut Gigi

en_US