News

/

Artikel, Latest News

Mengunyah Boba Mengubah Saliva Riset FKG UGM Ungkap Efek Bubble Tea pada Enzim dan Fosfat Air Liur

Bagi jutaan penggemar minuman kekinian, menyeruput bubble tea sambil mengunyah butiran kenyal tapioka adalah ritual yang hampir tak perlu dipikirkan. Namun di balik sensasi itu, ada proses biokimia yang diam-diam berlangsung di rongga mulut — dan peneliti FKG Universitas Gadjah Mada ingin tahu persis apa yang terjadi.

Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO, bersama dua mahasiswi Program Studi Higiene Gigi FKG UGM, Dinda Kusumajati dan Hania Fathiyah, merancang sebuah uji eksperimental untuk mengukur dampak konsumsi bubble tea terhadap kadar salivary α-amylase (SAA) dan fosfat dalam air liur. Hasilnya dipublikasikan dalam prosiding BioMIC 2021 melalui platform BIO Web of Conferences.

Ketika Boba Menjadi Stimulus Ganda

Pertanyaan yang mendorong penelitian ini sesungguhnya sederhana tapi jarang diajukan: apakah mengunyah tapioka pearl dalam bubble tea memberikan efek berbeda pada saliva dibandingkan hanya meminum teh biasa?

Untuk menjawabnya, tim peneliti merekrut 15 subjek berusia 21–22 tahun dengan total 60 sampel saliva. Skema penelitian dirancang dengan cermat: pada minggu pertama, setiap subjek mengonsumsi bubble tea lengkap dengan tapioka pearl selama tiga hari sebagai kelompok intervensi. Minggu berikutnya, mereka beralih ke teh tanpa boba sebagai kontrol. Saliva dikumpulkan setiap pagi antara pukul 09.00 hingga 12.00 — masing-masing selama satu menit penuh — pada hari pertama sebelum perlakuan dan hari ketiga setelah perlakuan.

Pengukuran SAA dilakukan dengan ELISA kit menggunakan optical density pada panjang gelombang 405 nm, sementara kadar fosfat diukur melalui kit uji semi-kuantitatif. Seluruh analisis statistik menggunakan ANOVA, Kruskal-Wallis, uji-t, dan Pearson dengan ambang signifikansi p < 0,05.

Hasilnya menunjukkan perbedaan yang bermakna. Kadar SAA setelah mengonsumsi bubble tea lebih tinggi secara signifikan dibandingkan kelompok teh tanpa boba. Fosfat pun meningkat pada kedua kelompok, meski perbedaan antara keduanya tidak mencapai taraf signifikan secara statistik.

Dua Jalur Stimulasi, Satu Kelenjar yang Bekerja Keras

Mengapa bubble tea tampak lebih efektif dalam mendongkrak SAA? Jawabannya terletak pada dua mekanisme stimulasi yang bekerja bersamaan.

Ketika seseorang mengunyah tapioka pearl yang kenyal dan lembut, terjadi stimulasi mekanis yang mengaktifkan otot-otot pengunyahan dan mendorong impuls saraf melalui jalur parasimpatik — melewati saraf glossopharyngeal (CN IX), fasial (CN VII), vagal (CN X), dan trigeminal (CN V). Pada saat yang sama, rasa manis dari minuman memberikan stimulasi kimiawi. Kedua rangsangan ini secara sinergis memacu sekresi kelenjar parotis, yang bertanggung jawab atas sekitar 80 persen produksi SAA dalam tubuh.

Teh tanpa boba hanya memberikan stimulasi kimiawi. Tanpa komponen kunyah, impuls mekanis tidak terbentuk — dan kelenjar parotis pun bekerja pada kapasitas yang lebih rendah.

Peningkatan SAA ini bukan tanpa konsekuensi. Enzim tersebut memecah karbohidrat dalam bubble tea, yang berpotensi menurunkan pH saliva. Di sinilah fosfat mengambil peran: ion fosfat berfungsi sebagai salah satu sistem buffer saliva, mengonversi diri menjadi HPO₄²⁻ dan H₂PO₄⁻ ketika keasaman meningkat, sehingga membantu menstabilkan pH rongga mulut.

“Konsumsi bubble tea dan teh tanpa boba dapat meningkatkan salivary α-amylase (SAA) dan kadar fosfat. Mengunyah tapioka pearl dalam bubble tea dapat meningkatkan kualitas saliva melalui mekanisme buffer saliva.” — Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO, et al., BioMIC 2021

Korelasi antara SAA dan fosfat terbukti signifikan secara statistik (p < 0,05) dengan nilai r = 0,451 — masuk kategori korelasi moderat. Artinya, peningkatan SAA memang berjalan seiring dengan peningkatan fosfat, meski tidak dalam hubungan yang linear sempurna.

Boba Bukan Sekadar Tren, Ada Pertanyaan Klinis yang Menunggu

Penelitian ini tidak berhenti pada konfirmasi bahwa bubble tea meningkatkan SAA dan fosfat. Ada catatan penting yang patut dicermati.

Kadar fosfat tertinggi yang terukur setelah konsumsi bubble tea adalah 83,33 mg/L atau setara 0,877 mmol/L. Angka ini masih jauh di bawah referensi standar untuk saliva terstimulasi yang berkisar 5,69 mmol/L. Tim peneliti menduga keterbatasan ini muncul dari kondisi pengambilan sampel yang dilakukan secara mandiri oleh subjek selama pandemi Covid-19 — tanpa pengawasan langsung peneliti di lapangan.

Ada pula pertanyaan yang sengaja dibiarkan menggantung oleh penelitian ini: apakah konsumsi rutin bubble tea berperan dalam mekanisme transpor fosfat melalui protein NPT2b — transporter fosfat yang bergantung pada natrium di membran basolateral sel asinar? Jawabannya masih menunggu penelitian lanjutan.

Yang sudah terjawab adalah bahwa minuman yang kerap dianggap sekadar hiburan lidah ini ternyata menyentuh sistem biologis yang sangat fundamental: keseimbangan kimiawi saliva, pertahanan email gigi, dan risiko karies. Bagi klinisi gigi dan peneliti kesehatan mulut, boba bukan lagi sekadar tren — melainkan variabel yang layak masuk dalam perhitungan.

Sumber DOI : https://doi.org/10.1051/bioconf/20214105001

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Tags

Share News

Related News
15 July 2026

Rahasia Saliva: Kadar Estrogen dan Ekspresi Sitokeratin 5 pada Mukosa Oral Perempuan

15 July 2026

Ketika Air Liur Bercerita: Estrogen, Keratin, dan Rahasia Mukosa Mulut Perempuan

15 July 2026

Protein Berumur Pendek yang Memegang Kunci Pembentukan Enamel Gigi

en_US