Pengalaman belajar di luar negeri kerap dipandang sebagai pencapaian personal mahasiswa. Namun, bagi FKG UGM, kegiatan student exchange programs to the National University of Singapore (NUS) pada akhir Januari 2026 lalu justru menjadi ruang refleksi institusional: sejauh mana sistem pendidikan kedokteran gigi di Indonesia siap berdialog dan bertumbuh bersama standar global?
Kegiatan bertajuk The 1-week Elective Programme at Faculty of Dentistry NUS yang berlangsung pada 26–30 Januari 2026 itu diikuti mahasiswa Program Studi S1 Kedokteran Gigi UGM. Program ini sekaligus disertai pendampingan dosen serta pembahasan awal pengembangan skema pertukaran mahasiswa yang lebih panjang, khususnya bagi mahasiswa International Undergraduate Program (IUP).
Pendampingan Akademik dan Representasi Institusi
Selama kegiatan berlangsung, pendampingan mahasiswa dilakukan secara langsung oleh dosen FKG UGM, drg. Heriati Sitosari, M.DSc., Ph.D bersama 2 mahasiswa IUP FKG UGM: Sabrina Aliya Putri Susanto & Narary Ganes Sulistyo. Kehadiran dosen pendamping tidak hanya berfungsi memastikan kelancaran aktivitas akademik mahasiswa, tetapi juga mewakili institusi dalam komunikasi strategis dengan pihak NUS.
Salah satu agenda penting adalah pertemuan dengan Dr. Hu Sijia dari Faculty of Dentistry NUS. Pertemuan ini menjadi forum awal pembahasan pengembangan skema student exchange programs yang lebih terstruktur dan berjangka panjang. Isu yang dibicarakan mencakup penyelarasan learning outcomes, mekanisme evaluasi akademik, durasi pertukaran yang ideal, serta periode pelaksanaan yang memungkinkan konversi kredit secara akademik.

Mengamati Sistem, Membandingkan Pendekatan
Bagi mahasiswa, program satu pekan ini memberikan kesempatan mengamati langsung sistem pendidikan kedokteran gigi di salah satu universitas terbaik Asia. Kurikulum NUS yang berbasis B.D.S. empat tahun dengan Integration interprofessional education (IPE) menampilkan pendekatan pembelajaran yang terstruktur, padat, dan menuntut kedisiplinan tinggi.
Pengalaman tersebut memberi gambaran konkret tentang perbedaan pendekatan pembelajaran, mulai dari struktur kurikulum hingga budaya akademik. Bagi FKG UGM, observasi ini menjadi bahan perbandingan dalam mengevaluasi dan memperkuat kurikulum yang ada, termasuk menilai relevansi skema one-week elective maupun kemungkinan pertukaran mahasiswa selama satu semester untuk program IUP.
Dampak Pembelajaran di Luar Kelas
Laporan kegiatan mencatat bahwa manfaat program ini tidak hanya terletak pada aspek akademik formal. Mahasiswa memperoleh pengalaman berinteraksi dalam lingkungan multikultural, beradaptasi dengan sistem akademik internasional, serta menginternalisasi standar profesional dan etika global.
Kompetensi nonakademik semacam ini seperti: komunikasi lintas budaya, disiplin, dan adaptasi menjadi bagian penting dari pembentukan lulusan kedokteran gigi yang siap berkiprah di tingkat internasional, meskipun tidak selalu tercermin dalam penilaian akademik konvensional.
Jejaring & Jelajah yang Mengarah ke Strategi Pengembangan Kedokteran Gigi
Dari sisi kelembagaan, kegiatan ini turut memperkuat jejaring internasional FKG UGM dengan NUS. Hubungan yang terbangun tidak lagi sebatas kerja sama administratif, tetapi mulai bergerak ke arah diskusi strategis jangka panjang.
Penjajakan kemungkinan student exchange programs selama satu semester dinilai sebagai peluang signifikan, mengingat skema tersebut sebelumnya belum pernah dijalankan oleh NUS. Meski masih berada pada tahap awal, peluang ini membuka ruang bagi FKG UGM untuk menyiapkan sistem akademik yang lebih adaptif dan kompetitif di tingkat global.
Kontribusi pada Agenda Nasional
Activity student exchange programs ini juga berkontribusi pada agenda nasional internasionalisasi pendidikan tinggi, khususnya Indikator Kinerja Utama (IKU) terkait mobilitas mahasiswa dan penguatan kolaborasi internasional. Namun, lebih dari sekadar pemenuhan indikator, kegiatan ini menegaskan pentingnya kesinambungan antara pengalaman internasional mahasiswa dan penguatan mutu pendidikan di dalam negeri.
Tindak lanjut yang direncanakan mencakup pelaporan hasil diskusi kepada pimpinan fakultas, evaluasi menyeluruh pengalaman mahasiswa, serta pembahasan lanjutan lintas unit untuk mematangkan potensi kerja sama jangka panjang dengan NUS.

Refleksi dari Program Singkat
Program yang berlangsung singkat ini meninggalkan pesan yang lebih panjang. Internasionalisasi pendidikan tidak berhenti pada keberangkatan mahasiswa ke luar negeri, tetapi menuntut kesiapan kurikulum, kebijakan, dan budaya akademik untuk terus belajar dan berbenah.
Dari Singapura, mahasiswa dan institusi kembali membawa pengalaman. Yang menjadi pekerjaan rumah selanjutnya adalah memastikan pengalaman itu benar-benar menjadi bagian dari proses peningkatan mutu pendidikan kedokteran gigi di FKG UGM.
(Redaksi : Andri Wicaksono, Foto: Arsip Narary & Sabrina)