Di balik ketelitian ruang operasi dan ketegangan suasana di meja Ujian Kompetensi Nasional (UKOMNAS), lahir kabar membanggakan dari dunia pendidikan dokter gigi spesialis Indonesia. Enam kandidat dari Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) dinyatakan lulus dalam Ujian Kompetensi Nasional Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut dan Maksilofasial yang diselenggarakan pada 27–28 Februari 2026 di Universitas Indonesia.
Enam kandidat yang mengikuti UKOMNAS Bedah Mulut & Maksilofasial yakni: drg. Ardhian Rahma Kristiasih, drg. Refitia Inayah Putri, drg. Tresy Charlotte Marito, drg. Chairul Muzakky Eka Burhani, drg. Luthfir Rahman Nugraha Putra, dan drg. Nandika Desta Dewara. Mereka menjalani rangkaian evaluasi nasional yang dirancang untuk menilai kesiapan akademik, keterampilan klinis, serta profesionalisme sebelum resmi menyandang kompetensi sebagai dokter gigi spesialis bedah mulut dan maksilofasial.
Ujian kompetensi ini diikuti peserta oleh 7 pusat pendidikan bedah mulut di Indonesia. Bagi setiap kandidat, tahapan tersebut merupakan ujian terakhir dari perjalanan panjang pendidikan spesialis yang menuntut ketelitian ilmiah sekaligus kematangan klinis.
Di antara para peserta nasional, drg. Nandika Desta Dewara berhasil meraih Juara 1 Computer Based Test (CBT) sekaligus Juara 2 Ujian Kompetensi Nasional. Prestasi ini menunjukkan penguasaan akademik yang kuat sekaligus kemampuan analisis klinis yang tinggi.
Sementara itu, drg. Chairul Muzakky Eka Burhani juga mencatat capaian membanggakan dengan meraih Juara 3 Ujian Kompetensi Nasional serta Juara 3 pada sesi wawancara, salah satu tahapan yang menguji kedalaman pemahaman klinis, etika profesi, dan kemampuan pengambilan keputusan dalam praktik kedokteran gigi spesialis.

Seluruh kandidat dari FKG UGM dinyatakan lulus dan kompeten, menandai keberhasilan mereka melewati seluruh tahapan evaluasi nasional yang ketat.
Bagi institusi, capaian tersebut bukan sekadar angka kelulusan atau peringkat. Keberhasilan para kandidat menjadi refleksi dari proses pendidikan yang panjang—mulai dari pembelajaran akademik, praktik klinis, hingga pembentukan profesionalisme dalam pelayanan kesehatan.
Prestasi ini juga menegaskan komitmen Program Studi Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG UGM dalam menyiapkan dokter gigi spesialis yang tidak hanya unggul secara ilmiah, tetapi juga memiliki integritas serta kesiapan melayani kebutuhan kesehatan masyarakat yang semakin kompleks.
Lebih jauh, capaian ini menjadi indikator keberhasilan program pendidikan dalam mendorong mahasiswa menyelesaikan studi secara optimal dan tepat waktu. Dengan bertambahnya lulusan spesialis bedah mulut dan maksilofasial yang kompeten, diharapkan kontribusi keilmuan dan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Indonesia akan semakin kuat di masa mendatang.
(Kontributor: Dodi Hendro Wibowo, Redaksi: Andri Wicaksono)