Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Dua Kali Oles, Ikatan Lebih Kuat: Sodium Askorbat dan Rahasia Restorasi Pasca-Bleaching

Gigi putih bersinar memang menggoda, tetapi ada harga yang jarang dibicarakan di balik prosedur pemutihan. Setelah bleaching intrakoral dengan hidrogen peroksida 35%, dokter gigi dilarang langsung menambal gigi pasiennya. Sebab, radikal bebas yang tersisa di dalam tubulus dentin masih aktif, siap mengganggu proses polimerisasi resin komposit, dan berpotensi membuat tambalan gagal sebelum sempat berfungsi baik.

Pertanyaannya bukan apakah penundaan itu perlu, melainkan apakah ada cara untuk mempersingkatnya.

Radikal Bebas yang Menjadi Penghalang

Hidrogen peroksida bekerja dengan melepaskan radikal bebas perhydroxyl dan oksigen nasent. Radikal-radikal ini memecah ikatan rangkap molekul kromogenik di enamel dan dentin, mencerahkan warna gigi. Masalah muncul ketika radikal bebas tersebut tidak habis terpakai: sisanya bersembunyi di antara matriks kolagen dan ruang interprismatik enamel, bertahan satu hingga tiga minggu.

Ketika resin komposit ditempelkan di atas permukaan dentin yang masih mengandung residu radikal bebas, hasilnya bisa ditebak. Radikal bebas bereaksi dengan monomer resin, menghentikan rantai polimerisasi lebih awal dari seharusnya. Polimer yang terbentuk pun lemah secara mekanis, daya rekatnya rendah, dan celah mikro (microleakage) pun terbuka. Ujung-ujungnya, kegagalan restorasi saluran akar menjadi ancaman nyata.

Solusi yang ditawarkan selama ini adalah menunggu. Namun bagi pasien, satu hingga dua minggu tanpa restorasi definitif bukan hanya merepotkan, melainkan juga meningkatkan risiko kontaminasi bakteri.

Antioksidan sebagai Jalan Pintas

Dr. drg. Tunjung Nugraheni, M.Kes., Sp.KG.(K) bersama tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada mencoba menjawab pertanyaan itu lewat pendekatan yang lebih aktif: menggunakan sodium askorbat sebagai agen antioksidan untuk menangkap sisa radikal bebas sebelum restorasi dilakukan.

Sodium askorbat adalah garam natrium dari asam L-askorbat, larut dalam air, tidak toksik, dan memiliki pH 6,5 hingga 8 yang ramah terhadap jaringan gigi. Secara kimiawi, ia menyumbangkan satu elektron untuk berikatan dengan radikal bebas, mengubahnya menjadi bentuk yang lebih stabil, yaitu air dan asam dehidroaskorbat.

Yang menjadi fokus penelitian ini bukan sekadar apakah sodium askorbat efektif, tetapi berapa kali ia harus diaplikasikan agar hasilnya optimal. Studi sebelumnya umumnya menggunakan konsentrasi 10%, namun terbukti tidak cukup kuat untuk menetralkan residu dari hidrogen peroksida 35% yang melepaskan radikal bebas dalam jumlah jauh lebih besar.

Dua Kali Lebih Baik dari Satu

Tim peneliti membagi 36 sampel dentin dari sembilan gigi premolar menjadi empat kelompok perlakuan. Semua sampel terlebih dahulu diblocking dengan hidrogen peroksida 35%, kemudian diperlakukan berbeda: kelompok A (kontrol) direndam dalam saliva buatan selama tujuh hari; kelompok B menerima satu kali aplikasi sodium askorbat 35%; kelompok C dua kali aplikasi; dan kelompok D tiga kali aplikasi. Seluruh sampel kemudian direstorasi dengan resin komposit dan diuji kekuatan geser (shear bond strength) menggunakan alat universal testing instrument Zwick.

Hasilnya tegas. Kelompok C, yang mendapat dua kali aplikasi, mencatat rata-rata kekuatan geser tertinggi, yaitu 13,40 ± 1,54 N/mm², diikuti kelompok D dengan 13,34 ± 3,05 N/mm². Sementara kelompok B, yang hanya mendapat satu kali aplikasi, justru menghasilkan nilai terendah: 9,11 ± 2,14 N/mm², bahkan lebih rendah dari kelompok kontrol yang dibiarkan selama tujuh hari (10,68 ± 2,63 N/mm²).

“Aplikasi sodium askorbat 35% lebih dari satu kali terbukti meningkatkan kekuatan geser resin komposit pada dentin yang diblaching dengan H₂O₂ 35%, sehingga penundaan satu minggu sebelum restorasi tidak lagi diperlukan.” — Dr. drg. Tunjung Nugraheni, M.Kes., Sp.KG.(K), Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi), 2017

Uji statistik one-way ANOVA memastikan perbedaan antarkelompok signifikan (p < 0,05). Uji LSD lebih lanjut mengungkap bahwa tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok C dan D, artinya menambah frekuensi dari dua menjadi tiga kali tidak memberikan manfaat tambahan yang berarti. Dua kali sudah cukup.

Implikasi untuk Kursi Perawatan

Temuan ini membawa pesan praktis yang langsung bisa diterapkan di klinik. Satu kali aplikasi sodium askorbat, ternyata, belum mampu menangkap semua sisa radikal bebas yang ditinggalkan oleh hidrogen peroksida berkonsentrasi tinggi. Justru kondisi ini bisa lebih buruk daripada menunggu, karena sodium askorbat yang sudah teroksidasi dapat kehilangan kapasitas antioksidannya dengan cepat, sementara radikal bebas yang tersisa tetap mengganggu polimerisasi.

Dua kali aplikasi, masing-masing selama lima menit, tampaknya menjadi titik keseimbangan: cukup untuk menetralkan residu radikal bebas, cukup untuk memulihkan kualitas lapisan hibrid dentin, dan cukup untuk memungkinkan restorasi komposit yang kuat terbentuk tanpa harus menunggu berminggu-minggu.

Penelitian ini juga menegaskan bahwa bentuk gel sodium askorbat lebih mudah dikendalikan dalam aplikasi klinis dibanding larutan, karena viskositasnya yang tinggi memungkinkan kontak lebih lama dan lebih presisi dengan permukaan dentin.

Bagi jutaan pasien yang menjalani prosedur bleaching intrakoral setiap tahunnya, dua kali olesan antioksidan bisa menjadi perbedaan antara menunggu dan langsung selesai. Pertanyaannya kini berpindah ke praktisi: sudahkah protokol ini masuk ke dalam standar perawatan sehari-hari?

Referensi:
Nugraheni, T., Nuryono, N., Sunarintyas, S. and Mulyawati, E. (2017) ‘Composite resin shear bond strength on bleached dentin increased by 35% sodium ascorbate application’, Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi), 50(4), pp. 178–182. Available at: https://doi.org/10.20473/j.djmkg.v50.i4.p178-182

Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Annisa Dwi Noviyanti | Foto: Freepik

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
9 Juli 2026

Prof. Dr. Chettiyappan Visvanathan, Tekankan Pentingnya Economy Circular di Sektor Kesehatan

9 Juli 2026

Minyak Zaitun Berozon, Senjata Baru Melawan Kerusakan Tulang Akibat Radang Gusi

9 Juli 2026

Transformasi Radiologi Kedokteran Gigi Digital, Wujudkan Kedokteran Gigi Berkelanjutan

id_ID