Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 10, SDG 15, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Daun Jamblang Melawan Karies: Ketika Tanaman Obat Tradisional Menghentikan Bakteri Perusak Gigi

Konsentrasi 22,5 persen. Angka itu ternyata cukup untuk membuat nol koloni Streptococcus mutans menempel pada permukaan hidroksiapatit. Tidak satu pun. Hasil itu mungkin terdengar teknis, namun implikasinya jauh lebih luas: daun jamblang, pohon yang tumbuh liar di pekarangan rumah hingga pinggir sawah, menyimpan potensi sebagai senjata alami melawan karies gigi anak.

Itulah temuan kunci dari penelitian yang melibatkan tim peneliti lintas institusi, termasuk Prof. Dr. drg. Al. Supartinah, Sp.KGA dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. Penelitian ini dipublikasikan dalam Advances in Health Science Research pada forum International Dental Conference of Sumatera Utara 2017.

Bakteri Kecil, Kerusakan Besar

Streptococcus mutans bukan sekadar nama latin yang rumit diucapkan. Bakteri ini adalah aktor utama di balik karies, penyakit gigi yang prevalensinya pada anak-anak prasekolah usia 4 hingga 6 tahun tergolong tinggi. Ia bekerja diam-diam: melekat pada permukaan gigi, membentuk biofilm, lalu memproduksi asam yang menggerogoti enamel dari dalam.

Kunci kemampuan merusak itu terletak pada faktor virulensi yang dimilikinya. Glucosyltransferase (gtf) membantu bakteri membentuk glukan tidak larut air, yang memungkinkan koloni menumpuk di permukaan gigi. Protein permukaan bernama SpaP, khususnya antigen I/II, berperan sebagai “jangkar” yang mengikat bakteri ke struktur gigi berbahan hidroksiapatit. Semakin kuat jangkar itu bekerja, semakin masif plak terbentuk, dan semakin besar risiko karies berkembang.

Pertanyaannya kemudian: bisakah kita memotong rantai adhesion itu sebelum kerusakan terjadi?

Dari Pekarangan ke Laboratorium

Jamblang (Syzygium cumini (L) Skeels) bukan tanaman asing bagi masyarakat Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di India, serbuk daun jamblang sudah lama dipakai dalam pengobatan tradisional sebagai bahan pembersih yang dipercaya menguatkan gigi dan gusi. Kandungan kimianya terbilang kaya: flavonoid, tanin, alkaloid, saponin, dan terpenoid, semua senyawa yang dikenal memiliki aktivitas antibakteri.

Tim peneliti kemudian mengekstrak daun jamblang menggunakan etanol 70 persen melalui teknik maserasi. Identifikasi senyawa aktif dilakukan dengan Thin Layer Chromatography (TLC) dan Liquid Chromatograph-Mass Spectrography (LC-MS). Hasilnya: ekstrak mengandung flavonoid seperti quercetin, myricetin, 3-0-a-L-rhamnocyl myricetin, dan taxifolin, ditambah tanin serta terpenoid berupa eugenyl acetate dan tricosanoyl lupeol.

Bakteri uji diisolasi langsung dari lesi karies gigi sulung anak-anak Taman Kanak-Kanak As-Surrur, Prujakan, Sleman, Yogyakarta. Blok hidroksiapatit berukuran 0,5×0,5 mm direndam dalam musin sebagai pengganti glikoprotein saliva, lalu dipaparkan pada suspensi bakteri yang dicampur dengan ekstrak konsentrasi 15%, 20%, dan 22,5%.

Semakin Pekat, Semakin Senyap

Hasil uji adhesion berbicara jelas. Pada kelompok kontrol negatif, rata-rata 293,33 koloni S. mutans per mililiter menempel pada hidroksiapatit. Konsentrasi ekstrak 15% menekan angka itu menjadi 125,33 koloni. Konsentrasi 20% menurunkannya lebih jauh ke 49,33 koloni. Dan pada konsentrasi 22,5%, angkanya mencapai nol.

Uji Kruskal-Wallis mengonfirmasi bahwa perbedaan antar kelompok signifikan secara statistik (p=0,000). Uji Mann-Whitney kemudian memastikan bahwa setiap kelompok berbeda nyata satu sama lain.

“Jamblang leaves ethanolic extract 22.5% reduce the number of Streptococcus mutans attached to hydroxyapatite better than Jamblang leaves extract 20% and 15%.” — Suzanna Sungkar dkk., Advances in Health Science Research, vol. 8, 2018

Mekanismenya berlapis. Senyawa polifenol seperti tanin memodifikasi protein permukaan antigen I/II pada S. mutans, mengganggu kemampuan bakteri untuk mengikat diri ke hidroksiapatit. Gangguan pada protein permukaan ini menurunkan hidrofobisitas sel bakteri, sehingga daya cengkeram bakteri pada permukaan gigi melemah. Di sisi lain, quercetin, myricetin, dan taxifolin menghambat aktivitas enzim gtf yang selama ini membantu pembentukan glukan. Eugenyl acetate menambah efek antibakteri langsung, membunuh koloni yang sudah ada.

Potensi yang Menunggu Dibuktikan Lebih Jauh

Penelitian ini memang masih bersifat in vitro, artinya dilakukan di luar tubuh manusia dengan model buatan berupa blok hidroksiapatit dan musin sebagai pengganti saliva. Jarak antara hasil laboratorium dan aplikasi klinis masih perlu dijembatani oleh serangkaian uji lanjutan.

Namun kontribusi ilmiahnya tidak kecil. Penelitian ini membuka jalur eksplorasi bahan aktif alami yang terjangkau, mudah didapat, dan secara historis sudah dikenal masyarakat sebagai tanaman berkhasiat. Di tengah kekhawatiran resistensi antimikroba dan kebutuhan akan agen antikaries yang aman untuk anak, daun jamblang menawarkan titik awal yang menjanjikan.

Pohon jamblang mungkin sudah lama berdiri di sudut halaman. Yang berubah adalah cara kita memandangnya.

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
17 Juli 2026

Ekspansi Rahang Atas Ternyata Memperluas Saluran Napas Anak: Bukti dari 13 Studi CBCT

17 Juli 2026

Bibir yang Tak Bisa Menutup: Alat Sederhana di Balik Masalah Tumbuh Kembang Anak

17 Juli 2026

Tekanan Cairan Gigi Ternyata Bisa Memicu Regenerasi Dentin: Bukti dari Sel Punca Gigi Susu

id_ID