Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 10, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Bur Bulat dan Asam Fosfat: Kombinasi Kunci Meminimalkan Kebocoran Sealant Gigi Anak

Bayangkan sebuah celah sempit di permukaan gigi geraham anak — begitu dalam hingga sikat gigi pun tak mampu menjangkau dasarnya. Di sinilah bakteri bersembunyi, sisa makanan mengendap, dan karies perlahan bermula. Fissure sealant hadir sebagai perisai fisik untuk menutup celah itu. Namun, sebuah pertanyaan mendasar kerap luput dari perhatian: seberapa besar pengaruh cara mempersiapkan permukaan gigi sebelum sealant diaplikasikan?

Penelitian dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada menjawab pertanyaan itu dengan temuan yang cukup mengejutkan. Hasilnya dipublikasikan dalam Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) edisi Juni 2022.

Celah Kecil, Masalah Besar

Fissure sealant berbahan resin modified glass ionomer cement (RMGIC) dikenal sebagai pilihan populer karena kemampuannya melepaskan fluor dan melekat langsung pada jaringan keras gigi. Namun, material ini tidak luput dari kelemahan: literatur mencatat bahwa efektivitasnya dapat berkurang lima hingga sepuluh persen setiap tahun, terutama akibat microleakage — kebocoran mikro yang terjadi di antara sealant dan permukaan enamel.

Kebocoran ini bukan sekadar soal teknis material. Ketika celah terbentuk antara sealant dan gigi, bakteri mendapat pintu masuk. Karies pun berkembang justru di bawah lapisan yang seharusnya menjadi pelindung.

Tim peneliti yang terdiri dari Gesti Kartiko Sari, Sri Kuswandari, dan drg. Putri Kusuma Wardani Mahendra, M.Kes., Sp.KGA., merancang eksperimen untuk menguji apakah jenis bur dan jenis asam yang digunakan dalam preparasi gigi memengaruhi seberapa parah microleakage yang terjadi.

Empat Kelompok, Satu Pertanyaan

Dua puluh empat gigi premolar rahang atas yang dicabut untuk keperluan ortodonti dibagi menjadi empat kelompok perlakuan. Setiap kelompok mendapat kombinasi berbeda: bur bulat atau bur taper, dikombinasikan dengan asam fosfat 37% atau asam poliakrilat 10%.

Setelah preparasi dan aplikasi RMGIC, gigi disimpan dalam saliva buatan selama 24 jam pada suhu 37°C, kemudian menjalani 100 siklus thermocycling antara 5°C dan 55°C untuk mensimulasikan perubahan suhu di rongga mulut. Tahap berikutnya adalah perendaman dalam larutan methylene blue 1% — pewarna biru yang akan menyusup ke celah sekecil apapun. Gigi kemudian dipotong melintang dan diamati di bawah mikroskop stereo dengan perbesaran delapan kali.

Hasilnya ditangkap dalam angka yang kontras. Kelompok bur bulat dengan asam fosfat 37% mencatat microleakage paling dangkal, rata-rata 500,70 ± 38,55 mikrometer. Sebaliknya, kelompok bur bulat dengan asam poliakrilat 10% menunjukkan kebocoran terdalam: 1.657,87 ± 78,08 mikrometer — lebih dari tiga kali lipat. Uji ANOVA satu arah mengkonfirmasi perbedaan ini signifikan secara statistik (F=562,14; p<0,05).

Mengapa Bur Bulat dan Asam Fosfat Unggul?

Ada dua mekanisme yang menjelaskan keunggulan kombinasi ini.

Pertama, soal geometri. Bur bulat menghasilkan permukaan preparasi seluas 2,46 mm², sedikit lebih luas dibanding bur taper yang hanya 2,27 mm². Selisih yang tampak kecil ini ternyata bermakna: permukaan yang lebih luas berarti lebih banyak resin tag terbentuk — tonjolan-tonjolan mikro material yang “mencengkeram” enamel. Semakin banyak resin tag, semakin kuat ikatan antara sealant dan gigi. Bentuk fissure yang dihasilkan bur bulat pun berbeda: lebih menyerupai huruf “U” dengan dasar yang lebih lebar, memudahkan material mengisi celah hingga ke dasar.

Kedua, soal kimia permukaan. Asam fosfat 37% mampu melarutkan inti prisma enamel dan membentuk pola etsa tipe 1 yang menciptakan lapisan berpori sedalam 5 hingga 50 mikrometer. Asam poliakrilat 10%, sesuai rekomendasi pabrik RMGIC, hanya menghasilkan kedalaman mikro-tag sekitar 8,73 mikrometer — jauh lebih dangkal. Ikatan yang lebih dalam berarti material lebih sulit terlepas, dan risiko microleakage pun berkurang.

“Berdasarkan penelitian ini, jika menggunakan rekomendasi pabrik RMGIC dengan aplikasi asam poliakrilat 10%, preparasi mekanis dengan bur taper (fissurotomy) disarankan. Namun untuk hasil terbaik, direkomendasikan menggunakan RMGIC setelah preparasi gigi dengan kombinasi bur bulat dan asam fosfat 37% sebelum aplikasi sealant.” — Sari, Kuswandari, dan Mahendra, Dental Journal, 2022

Implikasi bagi Praktik Klinis

Temuan ini memberi pesan yang praktis bagi dokter gigi anak. Preparasi fissure bukan langkah yang bisa diabaikan atau dilakukan sekadar rutinitas. Pilihan bur dan pilihan agen etsa menentukan seberapa lama sealant akan bertahan melindungi gigi pasien.

Di klinik, keputusan ini kerap diambil berdasarkan kebiasaan atau rekomendasi pabrik material semata. Penelitian drg. Putri Kusuma Wardani Mahendra, M.Kes., Sp.KGA., bersama tim menunjukkan bahwa protokol yang sedikit berbeda dari rekomendasi standar — mengganti asam poliakrilat dengan asam fosfat 37% — dapat menghasilkan perbedaan yang signifikan secara klinis.

Gigi anak hanya punya satu kesempatan untuk terlindungi dengan baik. Ketika sealant gagal, bukan hanya material yang perlu diganti — kepercayaan pasien kecil dan orang tuanya pun ikut tergerus. Dalam hitungan mikrometer itulah, keputusan klinis yang tepat menemukan maknanya yang sesungguhnya.

Sumber DOI : http://10.20473/j.djmkg.v55.i2.p67–70

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
17 Juli 2026

Literasi Kesehatan Gigi Rendah, Gusi Pun Meradang: Temuan Peneliti FKG UGM pada Lansia Yogyakarta

17 Juli 2026

Filtrat Bawang Putih Ungguli Kalsium Hidroksida: Temuan dari Saluran Akar Gigi Susu

17 Juli 2026

Saat Komputer Belajar Membaca Rongga Mulut: Kecerdasan Buatan di Balik Kursi Gigi

id_ID