Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 10, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Bibir Tak Bisa Menutup Rapat: Solusi Alat Mioungsional untuk Anak

Bayangkan seorang anak duduk diam, menonton televisi, dan mulutnya terbuka begitu saja tanpa disadari. Bukan karena sedang berbicara, bukan pula karena terkejut. Bibirnya memang tidak mampu menutup dengan sempurna saat istirahat. Kondisi ini bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan sebuah masalah klinis bernama lip incompetence (LI), yang diam-diam bisa mengubah cara seorang anak bernapas, menelan, bahkan membentuk wajahnya.

Sebuah artikel tinjauan yang diterbitkan di Journal of International Dental and Medical Research (2024) oleh tim peneliti dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG UGM, termasuk drg. Putri Kusuma Wardani Mahendra, M.Kes., Sp.KGA., menyajikan temuan yang layak mendapat perhatian lebih luas: alat orofacial myofunctional (OMA) prefabrikasi terbukti secara klinis mampu meningkatkan kekuatan penutupan bibir pada anak, dengan hasil signifikan hanya dalam satu hingga empat bulan pemakaian.

Satu dari Tiga Anak Berpotensi Mengalaminya

Prevalensi LI pada anak usia 3 hingga 12 tahun mencapai sekitar 30,7 persen, dan angka ini meningkat seiring bertambahnya usia. Kondisi ini terjadi ketika bibir atas dan bawah terpisah tiga hingga empat milimeter pada posisi istirahat, sehingga mulut tidak pernah benar-benar tertutup.

Akibatnya tidak sepele. Anak yang mengalami LI cenderung beralih dari pernapasan hidung ke pernapasan mulut, yang membuat rongga mulut mudah kering. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu penyakit periodontal dan gingivitis. Lebih jauh, ketidakseimbangan tekanan antara bibir dan lidah bisa mendorong gigi depan rahang atas ke posisi yang tidak ideal, memperbesar overjet, bahkan mempersempit lengkung gigi rahang atas. Postur mulut terbuka yang berkepanjangan, menurut studi yang dikutip dalam tinjauan ini, secara signifikan menghambat pertumbuhan lengkung gigi rahang atas dan mempengaruhi perkembangan kraniofasial secara keseluruhan.

Diagnosis definitif LI di klinik gigi dilakukan dengan mengukur Lip Closure Strength (LCS), yaitu kekuatan yang dibutuhkan untuk mempertahankan bibir tetap tertutup. Semakin rendah nilai LCS, semakin lemah kemampuan bibir menutup rapat.

Tiga Alat, Satu Tujuan

Tim peneliti yang dipimpin oleh drg. Anrizandy Narwidina dan melibatkan drg. Putri Kusuma Wardani Mahendra, M.Kes., Sp.KGA. bersama sejumlah kolega di FKG UGM ini menelaah literatur dari PubMed dan pencarian manual sejak 1980 hingga 2023. Dari 401 artikel yang disaring, tujuh studi menunjukkan hasil signifikan (p<0,001) untuk tiga jenis OMA prefabrikasi utama: Oral Screen, Lip Trainer Patakara®, dan Lipple Trainer® dari SHOFU Inc., Jepang.

Lipple Trainer® bekerja dengan latihan tarikan dua tipe. Pada tipe A, alat ditarik selama lima detik dan diistirahatkan lima detik, diulang lima kali. Pada tipe B, tarikan tiga detik dan istirahat tiga detik, diulang sepuluh kali, dari tiga posisi berbeda di sudut bibir. Setelah tiga bulan, peningkatan LCS tercatat signifikan pada tiga kelompok usia: anak 3–6 tahun mengalami kenaikan 6,2 hingga 11,4 Newton, kelompok 7–9 tahun sebesar 7,9 hingga 12,8 Newton, dan kelompok 10–12 tahun naik 6,8 hingga 11,4 Newton.

Patakara® bekerja dengan cara berbeda namun tujuannya sama: memberikan beban langsung pada otot bibir, khususnya otot orbicularis oris dan buccinator. Dalam studi yang dikutip, pemakaian selama dua bulan dengan frekuensi lima menit dua kali sehari menghasilkan peningkatan LCS rata-rata 4,1 Newton. Yang menarik, alat ini juga terbukti memperbaiki Apnea-Hypopnea Index (AHI) dan saturasi oksigen perifer (SpO2) selama tidur, artinya kualitas pernapasan dan tidur anak turut membaik.

Oral Screen, alat tertua di antara ketiganya, digunakan sepuluh menit dua kali sehari. Selain meningkatkan LCS secara signifikan, alat ini juga terbukti memperpanjang bibir atas dan bawah secara vertikal, mempersempit celah antarlabial, dan bahkan meningkatkan lebar lengkung intermaksila.

Cara Kerja yang Membentuk Ulang Otot

Mekanisme di balik keberhasilan OMA ini menarik secara fisiologis. Saat alat digunakan, serat otot pada otot-otot protaktor mandibula mengalami peregangan. Pada fase istirahat, diameter pembuluh darah mengecil, aliran darah berkurang, dan asam laktat menumpuk sehingga otot mengalami kelelahan. Namun ketika alat ditarik kembali, otot masuk ke fase hiperkontraksi yang justru merangsang aliran darah lebih deras. Peningkatan aliran darah ini mendorong sel-sel yang belum terdiferensiasi untuk berkembang menjadi myoblast, yang kemudian menghasilkan serat otot baru.

“OMA therapy may help improve oral coordination and stability, lip closure, and facial development. OMA may be a treatment option for improvement of LCS in children with LI.” — Narwidina et al., Journal of International Dental and Medical Research, 2024

Dengan kata lain, latihan bibir bukan sekadar melatih kebiasaan, melainkan benar-benar membangun kembali jaringan otot. Kekuatan penutupan bibir yang meningkat, pada gilirannya, membantu mengarahkan erupsi gigi ke posisi ideal dan menjaga stabilitas lengkung gigi.

Kerjasama Pasien dan Orang Tua, Kunci yang Tak Bisa Diabaikan

Para peneliti tidak menutup mata terhadap keterbatasan temuan ini. Saat anak berlatih di rumah tanpa supervisi klinisi, kepatuhan pemakaian sulit dipantau. Pada studi dengan Oral Screen, misalnya, hanya empat dari tujuh pasien yang menunjukkan peningkatan bermakna, dan hasilnya dipengaruhi kondisi umum serta sistemik masing-masing anak.

Artinya, efektivitas OMA tidak berdiri sendiri. Ia membutuhkan ekosistem dukungan: orang tua yang konsisten mendampingi, anak yang kooperatif, dan tenaga medis yang cermat memonitor perkembangan. Terapi ini bukan solusi instan, melainkan sebuah komitmen jangka menengah yang, bila dijalani dengan disiplin, bisa mengubah trajektori tumbuh kembang wajah seorang anak secara bermakna.

Bibir yang tampak sepele ternyata menyimpan peran besar, bukan hanya untuk senyum, tetapi untuk seluruh sistem stomatognatik yang menopang cara seorang anak makan, bernapas, berbicara, dan tumbuh.

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
16 Juli 2026

Permukaan Implan Gigi Pun Bisa Menjadi “Rumah” bagi Bakteri Mematikan

16 Juli 2026

Tambal Gigi Retak, Apakah Cukup Hanya Ditambal Ulang?

16 Juli 2026

Tujuh Hari Sembuh: Kala Kasa Berklorheksidin Menjawab Tantangan Sariawan Traumatik pada Anak

id_ID