Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Bakteri Penyebab Periodontitis Ditemukan di 95% Jaringan Kanker Lidah Stadium Dini

Sebuah temuan mengejutkan muncul dari penelitian yang melibatkan dr. Dyah Listyarifah, M.Sc., D.Med.Sci., peneliti dari Departemen Biomedika Kedokteran Gigi FKG UGM yang saat itu berkolaborasi dengan Universitas Helsinki, Finlandia. Dalam studi yang dipublikasikan di Journal of Oral Pathology and Medicine pada 2018, tim peneliti menemukan bahwa Treponema denticola, bakteri yang selama ini dikenal sebagai penyebab periodontitis berat, terdeteksi pada 95% sampel jaringan kanker lidah stadium dini. Lebih jauh, bakteri ini bukan sekadar “penumpang” — kehadirannya berkorelasi dengan seberapa dalam tumor menginvasi jaringan dan seberapa besar ukurannya. Studi ini dilakukan terhadap 60 pasien kanker lidah yang dirawat di Helsinki University Hospital antara tahun 1992 dan 2002, dengan tujuan memahami apakah bakteri mulut bisa ikut berperan dalam proses karsinogenesis lidah.

Dari Gusi ke Lidah: Jalur yang Selama Ini Diabaikan

Treponema denticola (Td) bukan nama baru dalam ilmu kedokteran gigi. Bakteri ini adalah anggota dari “red complex” — kelompok tiga bakteri paling berbahaya dalam rongga mulut yang mencakup pula Porphyromonas gingivalis dan Tannerella forsythia. Ketiganya dikenal sebagai dalang di balik kerusakan jaringan pendukung gigi yang parah.

Yang membuat Td istimewa sekaligus mengkhawatirkan adalah enzim yang ia hasilkan: chymotrypsin-like proteinase, atau CTLP. Enzim ini bisa merusak berbagai protein tubuh, menembus lapisan sel epitel, bahkan mengaktifkan enzim perusak jaringan lain yang disebut matrix metalloproteinase (MMP). Singkatnya, CTLP adalah “senjata” utama Td untuk menembus pertahanan tubuh.

Dalam penelitian ini, tim menggunakan metode imunohistokimia — teknik pewarnaan khusus pada jaringan tumor yang diawetkan — untuk melacak keberadaan Td-CTLP di tiga area berbeda setiap sampel tumor: permukaan, bagian tengah, dan tepi invasif. Hasilnya gamblang: dari 60 sampel, 57 di antaranya positif mengandung Td-CTLP. Bahkan, 40,4% dari yang positif menunjukkan tingkat imunopositivitas yang tinggi.

Semakin Banyak Bakterinya, Semakin Dalam Tumornya

Temuan yang paling mengusik para peneliti bukan sekadar soal keberadaan bakteri ini di jaringan kanker, melainkan polanya. Semakin tinggi kadar Td-CTLP yang terdeteksi, semakin dalam tumor menginfiltrasi jaringan (invasion depth), dan semakin besar diameter tumor tersebut. Kedua korelasi ini bermakna secara statistik.

Sebagian besar tumor yang menunjukkan positivitas Td-CTLP tinggi berlokasi di tepi lateral lidah — area yang paling sering bersentuhan langsung dengan daerah dentogingival, tempat biofilm bakteri periodontal menumpuk. Ini memberi petunjuk tentang bagaimana Td bisa berpindah dari jaringan gusi ke epitel lidah.

Peneliti juga menemukan korelasi signifikan antara Td-CTLP dengan ekspresi TLR-7, TLR-9, dan c-Myc — protein-protein yang terlibat dalam respons imun dan proliferasi sel kanker. TLR-7 dan TLR-9 adalah reseptor imun bawaan yang diaktifkan oleh bakteri intraseluler seperti Td. Aktivasi keduanya diketahui mendorong kelangsungan hidup sel tumor dan resistansinya terhadap kematian. Sementara c-Myc, yang berkorelasi dengan Td-CTLP dalam studi ini, adalah proto-onkogen yang berperan dalam mengabadikan sel epitel dan mendorong proliferasi sel kanker.

Pasien Muda dengan Td-CTLP Tinggi: Ancaman Kambuh Lebih Cepat

Ada satu temuan yang layak mendapat perhatian khusus dari para klinisi. Pada pasien berusia 60 tahun ke bawah, ekspresi Td-CTLP yang tinggi terbukti secara statistik berhubungan dengan waktu kambuh (disease-free survival) yang lebih pendek. Artinya, pasien muda dengan kadar Td-CTLP tinggi di jaringan tumornya cenderung mengalami kekambuhan lebih cepat setelah pengobatan.

Ini relevan karena pasien kanker lidah yang lebih muda umumnya tidak memiliki faktor risiko klasik seperti konsumsi alkohol berat atau merokok jangka panjang. Jika faktor-faktor itu absen, maka peran mikroba seperti Td mungkin justru lebih dominan dalam mendorong perkembangan penyakit.

“Untuk pasien yang lebih muda, faktor penyebab umum seperti alkohol dan tembakau mungkin tidak begitu signifikan. Karena itu, keberadaan dan aktivitas mikroba tertentu bisa memainkan peran yang lebih besar.”

Pernyataan ini, yang tercantum dalam diskusi paper tersebut, membuka pintu pada perspektif baru: bahwa pada sebagian pasien kanker lidah, akar masalahnya mungkin berawal dari kesehatan gusi yang terabaikan.

Antara Periodontitis dan Kanker: Mengapa Ini Penting

Kanker lidah jenis squamous cell carcinoma adalah kanker rongga mulut yang paling umum. Angka kelangsungan hidup lima tahun pasiennya hanya sekitar 62% — angka yang hampir tidak berubah meski teknologi pengobatan terus berkembang. Situasi ini mendorong para peneliti mencari faktor-faktor baru yang mungkin ikut mendorong pertumbuhan tumor.

Penelitian ini bukan yang pertama menghubungkan bakteri mulut dengan kanker. Sebelumnya, Porphyromonas gingivalis dan Fusobacterium nucleatum telah lebih dulu mendapat sorotan. Namun ini adalah salah satu studi pertama yang secara khusus menunjukkan keberadaan Td-CTLP dalam jaringan kanker lidah, sekaligus mengaitkannya dengan karakteristik klinis tumor.

Tentu saja, satu studi belum cukup untuk menarik kesimpulan sebab-akibat. Para peneliti sendiri menegaskan perlunya studi lanjutan dengan jumlah sampel lebih besar, serta eksperimen menggunakan kultur sel dan model hewan untuk membuktikan secara langsung kontribusi Td dalam pembentukan kanker lidah.

Namun pesan yang lebih mendesak dari penelitian ini sebenarnya lebih sederhana: kesehatan gusi bukan urusan estetika semata. Periodontitis yang dibiarkan tidak tertangani membawa konsekuensi yang jauh melampaui gigi goyang atau gusi berdarah. Bakteri yang hidup diam-diam di kantong periodontal itu, seperti yang kini mulai terungkap, mungkin tengah merencanakan sesuatu yang jauh lebih serius di jaringan di sekitarnya.

Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam

Foto: Freepik

Sumber DOI: https://doi.org/10.1111/jop.12729

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
16 Juli 2026

Bakteri Ini Ditemukan di Semua Jaringan Penderita Periodontitis dan Dampaknya Lebih Serius dari yang Dikira

16 Juli 2026

Kolaborasi FKG UGM dan Tokushima University Ciptakan Cairan Pembersih Gigi Alami Berbasis Nano Kitosan

16 Juli 2026

Bur Bulat dan Asam Fosfat: Kombinasi Kunci Meminimalkan Kebocoran Sealant Gigi Anak

id_ID