Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Bahan Ajar Bahasa Jepang yang Menjembatani Dua Budaya

Bayangkan seorang mahasiswa Indonesia harus memperkenalkan gamelan kepada teman kuliahnya di Tokyo, tapi tidak tahu satu pun kosakata bahasa Jepang yang tepat untuk menggambarkan alat musik itu. Situasi semacam ini bukan fiksi. Itulah celah nyata yang coba dijawab oleh sebuah penelitian pengembangan bahan ajar bahasa Jepang yang diterbitkan dalam jurnal LingTera pada Oktober 2015. Penelitian yang dilakukan oleh Dr. drg. Sri Widiati, MPH bersama Prof. Dr. Sugirin, M.A., Ph.D. dari Universitas Negeri Yogyakarta ini menghasilkan buku ajar keterampilan berbicara bahasa Jepang tingkat menengah yang memuat budaya Jepang dan Indonesia secara seimbang, diujicobakan di Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada semester genap tahun ajaran 2012/2013, karena selama ini belum ada bahan ajar yang mengangkat kedua budaya tersebut dalam porsi yang setara.

Dua Budaya, Satu Buku Ajar

Selama ini, buku ajar bahasa Jepang yang digunakan di Indonesia hampir semuanya diterbitkan langsung dari Jepang. Isinya tentu saja berpusat pada budaya Jepang. Akibatnya, mahasiswa Indonesia memang bisa belajar tentang festival Obon atau tradisi tahun baru Jepang, tapi mereka tidak punya bekal kosakata dan ungkapan untuk menceritakan hal sebaliknya: wayang, batik, atau tradisi antri yang sangat berbeda antara kedua negara.

Penelitian ini menjawab kebutuhan itu dengan mengembangkan bahan ajar berjudul Nihon to Indonesia no Bunka de Manabu Chuukyuu Nihongo, yang kurang lebih berarti “Belajar Budaya Jepang dan Indonesia dengan Bahasa Jepang Tingkat Menengah.” Bahan ajar ini terdiri dari lima unit dengan tema-tema kebudayaan yang khas, mulai dari keunikan budaya daerah di Jepang dan Indonesia, permainan tradisional yang ingin diwariskan ke generasi muda, persamaan dan perbedaan budaya kedua negara, hingga pembentukan karakter bangsa.

Setiap unit dilengkapi dengan latihan empat keterampilan berbahasa sekaligus: membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Namun latihan berbicara (kaiwa) mendapat porsi paling banyak, sesuai fokus utama bahan ajar ini. Selain buku cetak, penelitian ini juga mengembangkan media VCD berisi lima video pendukung, salah satunya video tentang Papua yang diberi judul “Pulau Mutiara Hitam,” disampaikan dalam narasi bahasa Jepang.

Budaya sebagai Jembatan, Bukan Sekadar Hiasan

Yang membedakan bahan ajar ini dari buku ajar konvensional bukan hanya soal isi, tapi cara konten budaya itu diintegrasikan ke dalam pembelajaran bahasa.

Penelitian ini menggunakan pendekatan task-based instruction (pembelajaran berbasis tugas), di mana mahasiswa tidak sekadar menghafal kosakata, melainkan diminta menyelesaikan tugas komunikatif yang nyata: berdiskusi, bermain peran, mempresentasikan penelitian tentang budaya, hingga mensimulasikan situasi percakapan lintas budaya. Konsep ini menekankan bahwa bahasa paling baik dipelajari ketika dipakai untuk tujuan yang bermakna, bukan dilatih dalam kekosongan konteks.

Materi tata bahasa yang digunakan mengacu pada standar bahasa Jepang tingkat menengah, dengan rujukan buku ajar Minna no Nihongo Chuukyuu II dan panduan ekspresi untuk pelajar Indonesia yang setara dengan ujian kemampuan bahasa Jepang level N2.

“Bahan ajar yang dikembangkan layak digunakan di dalam kegiatan pembelajaran, baik di kelas maupun secara mandiri.” — Kesimpulan validasi ahli dalam penelitian Dr. drg. Sri Widiati, MPH dan Prof. Dr. Sugirin, M.A., Ph.D., 2015

Nilai “Sangat Baik” dari Para Ahli

Sebelum diujicobakan kepada mahasiswa, bahan ajar ini melewati proses validasi ketat oleh dua ahli materi dan tiga ahli media, semuanya merupakan dosen bahasa Jepang dan pakar media pembelajaran dari UGM dan Universitas Negeri Yogyakarta.

Hasilnya cukup meyakinkan. Nilai rata-rata kelayakan materi mencapai 4,76 dari skala 5, masuk kategori “sangat baik.” Nilai rata-rata kelayakan media adalah 4,31, juga berkategori “sangat baik.” Dari lima penilai, hanya satu ahli media yang meminta revisi, yaitu menambahkan rangkuman materi di setiap unit. Dua ahli materi menyatakan bahan ajar sudah layak tanpa perubahan.

Uji coba dilakukan dalam dua tahap: uji coba terbatas pada kegiatan ekstrakurikuler percakapan (kaiwa-kai) untuk tingkat lanjut, dan uji coba lapangan pada perkuliahan Kaiwa 6 (Berbicara 6) yang diikuti mahasiswa semester enam. Tingkat pemahaman mahasiswa terhadap materi di semua unit berkisar antara 61% hingga 90%, dengan sebagian besar mahasiswa berada di rentang 71% hingga 80%.

Relevansi yang Melampaui Ruang Kuliah

Meski penelitian ini berlatar pembelajaran bahasa, implikasinya jauh lebih luas. Di era mobilitas akademik yang tinggi, kemampuan mahasiswa untuk memperkenalkan budaya sendiri dalam bahasa asing bukan sekadar nilai tambah, tapi kebutuhan nyata.

Bahan ajar ini secara tidak langsung membekali mahasiswa dengan dua hal sekaligus: kompetensi bahasa Jepang tingkat menengah, dan kepercayaan diri untuk berbicara tentang Indonesia kepada dunia. Dosen pengampu yang terlibat dalam uji coba bahkan menyatakan akan menggunakan materi-materi dari bahan ajar ini untuk perkuliahan sesuai kebutuhan, sementara mahasiswa menilai bahan ajar ini cukup mandiri untuk dipelajari sendiri di luar kelas.

Sebuah buku ajar yang baik, seperti yang pernah ditulis seorang peneliti pendidikan bahasa, adalah media yang menopang kelangsungan budaya sekaligus mengembangkan literasi. Bahan ajar ini tampaknya sedang mencoba melakukan keduanya, satu percakapan bahasa Jepang tentang gamelan atau permainan tradisional pada satu waktu.

Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam

Foto: Freepik

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
21 Juli 2026

FKG UGM Usung Konsep Green Dentistry pada Summer Course 2026

21 Juli 2026

Ketika Karier Mandek, Siapa yang Bertanggung Jawab?

21 Juli 2026

Nanokitosan Lawan Bakteri Tersembunyi di Balik Kawat Gigi

id_ID