Pada 2021, masalah gigi dan mulut di Desa Karangtengah, Imogiri, Bantul, menyentuh angka 25,9 persen. Setahun kemudian, angka itu melonjak menjadi 57,6 persen — lebih dari dua kali lipat. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul 2022 itu menjadi sinyal keras: ada yang tidak beres, dan diam bukan pilihan.
Desa dengan 1.929 kepala keluarga dan 6.044 jiwa ini memang telah memasang target ambisius dalam misi 2021–2026: meningkatkan kesehatan masyarakat melalui perbaikan infrastruktur dan kerja sama lintas lembaga. Namun di lapangan, kesadaran warga soal kesehatan gigi dan mulut nyaris nol. Pihak pengelola setempat bahkan mengakui bahwa edukasi kesehatan gigi belum pernah satu kali pun diselenggarakan di wilayah itu.
Dari celah itulah, tim lintas institusi bergerak.
Ketika Akademisi Turun ke Dusun
Tim pengabdian masyarakat yang terdiri dari peneliti Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Universitas Gadjah Mada — termasuk Dr. drg. Indra Bramanti, M.Sc., Sp.KGA(K) dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG UGM — merancang intervensi dua tahap untuk menyentuh persoalan ini dari akarnya.
Tahap pertama dimulai dengan koordinasi bersama kepala dusun Karangtengah beserta jajarannya. Bukan sekadar formalitas: pertemuan ini menjadi momen pemetaan kebutuhan, penegasan tujuan program, dan penyelarasan harapan antara tim akademisi dan komunitas penerima manfaat.
Tahap kedua adalah jantung dari seluruh kegiatan — penyuluhan langsung kepada 30 warga. Sebelum materi disampaikan, peserta mengisi pretest sepuluh pertanyaan. Setelah sesi edukasi berlangsung, posttest diberikan untuk mengukur perubahan yang terjadi.
Dari Skor Nol ke Pengetahuan yang Tumbuh
Hasil pretest membuka gambaran yang gamblang. Satu peserta memperoleh nilai 90, dua orang di angka 80, empat orang di 70, empat orang di 60, satu orang di 50 — dan satu peserta mendapat nilai 0. Artinya, dari 30 orang yang hadir, pengetahuan mereka soal kesehatan gigi dan mulut benar-benar beragam, dan sebagian besar membutuhkan intervensi mendasar.
Setelah penyuluhan, peta itu berubah. Dua peserta meraih nilai sempurna 100, tujuh orang di angka 90, sebelas orang di 80. Distribusi skor bergeser signifikan ke arah yang lebih baik, meski sejumlah peserta masih berada di kisaran 60 dan 70.
“Pengetahuan adalah hasil dari tahu, yang terjadi ketika manusia mempersepsi objek tertentu. Ini menunjukkan bagaimana edukasi kesehatan mulut memengaruhi informasi, pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan mulut.”
Kutipan itu bukan sekadar teori. Ia menjelaskan mengapa pendekatan berbasis edukasi langsung tetap relevan, bahkan di era ketika informasi tersedia di genggaman tangan.
Gigi Susu, Tanggung Jawab Orang Tua
Satu temuan yang layak dicermati adalah soal peran orang tua. Dalam laporan ini, tim menegaskan bahwa perkembangan gigi anak sangat bergantung pada pemahaman orang tua. Gigi susu bukan sekadar “gigi sementara” yang bisa diabaikan karena akan tanggal sendiri — ia adalah fondasi bagi pertumbuhan gigi permanen, terutama pada usia sekolah dasar.
Karies tidak muncul begitu saja. Ia dimulai dari enamel, merambat ke dentin, dan jika dibiarkan, mencapai pulpa. Kombinasi bakteri mulut, konsumsi karbohidrat, dan bentuk gigi menjadi faktor pemicunya. Ketika orang tua tidak memahami proses ini, anak-anak menjadi kelompok paling rentan — dan paling sering terlambat mendapat penanganan.
Kebanyakan orang baru mencari pertolongan ketika rasa sakit sudah muncul. Padahal, pencegahan jauh lebih murah, lebih mudah, dan lebih bermartabat daripada pengobatan.
Satu Kegiatan, Satu Titik Awal
Program ini selesai, tapi rekomendasinya belum. Tim menyarankan agar edukasi kesehatan gigi dan mulut di Karangtengah tidak berhenti pada satu sesi. Kegiatan rutin diperlukan untuk menahan laju pertumbuhan penyakit gigi dan mulut yang sudah terlanjur melonjak tajam.
Angka 57,6 persen bukan hanya statistik. Di baliknya ada anak-anak yang menahan sakit saat belajar, orang dewasa yang menghindari makan karena gigi berlubang, dan keluarga yang tidak tahu bahwa semua itu sebetulnya bisa dicegah. Satu kali penyuluhan di dusun yang belum pernah mendapat edukasi serupa adalah langkah kecil — tapi di tempat yang tepat, langkah kecil bisa menjadi titik balik.
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels