Bibir yang tidak bisa menutup sempurna saat istirahat mungkin terlihat sepele. Tapi bagi anak-anak yang mengalaminya, kondisi yang disebut lip incompetence (LI) ini bisa menjadi awal dari serangkaian masalah yang jauh lebih kompleks: gigi depan yang maju, rahang yang tidak berkembang optimal, hingga kebiasaan bernapas lewat mulut yang mengubah bentuk wajah secara perlahan.
Sebuah artikel ilmiah yang diterbitkan dalam Journal of International Dental and Medical Research (2024) oleh tim peneliti dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada mengulas secara sistematis efektivitas alat-alat mioungsional orofasial (orofacial myofunctional appliances/OMA) dalam menangani kondisi ini pada anak-anak. Tim peneliti tersebut terdiri atas Anrizandy Narwidina, Sabrina Ceasy Anggraeni, Irma Damayanti Suryana, Rani Satiti, Sri Kuswandari, Putri Kusuma Wardani Mahendra, dan drg. Ignatius Sulistyo Jatmiko, M.Kes., Sp.KGA.
Bibir Terbuka, Masalah yang Mengakar
Lip incompetence bukan sekadar soal estetika. Ketika bibir atas dan bawah terpisah lebih dari 3 hingga 4 milimeter dalam posisi istirahat, kondisi ini disebut incompetent lip seal (ILS). Prevalensinya pada anak usia 3 hingga 12 tahun mencapai sekitar 35,72 persen, dan angka ini cenderung meningkat seiring bertambahnya usia.
Penyebabnya beragam. Bisa dari faktor anatomis seperti protrusi maksila atau penyempitan nasofaring yang memaksa anak bernapas lewat mulut. Bisa pula karena amandel yang terlalu besar, sinusitis kronis, atau bahkan deviasi septum hidung. Ketika mulut terus-menerus terbuka, keseimbangan tekanan antara bibir dan lidah terganggu. Akibatnya, gigi depan rahang atas condong ke depan, lengkung gigi menyempit, dan pertumbuhan rahang terhambat.
Yang lebih mengkhawatirkan, otot orbicularis oris, yaitu otot melingkar di sekitar mulut yang berfungsi seperti sfingter, melemah. Otot yang lemah ini berdampak pada kemampuan mengunyah, menelan, bahkan berbicara. Penelitian menunjukkan bahwa fungsi menelan yang abnormal berkaitan erat dengan pembentukan bolus makanan yang tidak sempurna dan risiko aspirasi.
Tiga Alat, Satu Tujuan
Dari 401 artikel yang disaring melalui basis data PubMed dan pencarian manual sejak 1980 hingga 2023, tim peneliti FKG UGM menemukan tujuh studi yang menunjukkan hasil signifikan secara statistik (p<0,001) dari tiga jenis OMA prefabrikasi: Oral Screen, Lip Trainer Patakara®, dan Lipple Trainer®.
Ketiganya bekerja dengan prinsip yang serupa: melatih otot-otot perioral melalui beban fisiologis yang terukur, bukan dengan gaya mekanis aktif seperti kawat ortodontik konvensional.
Lipple Trainer® buatan SHOFU Inc., Jepang, digunakan dalam tiga posisi, yaitu di tengah bibir, sudut kiri, dan sudut kanan. Dalam studi pada 154 anak Jepang usia 3 hingga 12 tahun, kekuatan penutupan bibir (lip closure strength/LCS) meningkat signifikan setelah satu bulan pemakaian, dengan peningkatan paling besar pada kelompok usia 7 hingga 9 tahun (7,9 hingga 12,8 Newton).
Patakara® dari Tokyo bekerja dengan cara memberikan beban langsung pada otot orbicularis oris dan buccinator. Selain meningkatkan LCS sebesar 4,1 Newton setelah dua bulan terapi, alat ini juga terbukti memperbaiki Apnea-Hypopnea Index (AHI) dan saturasi oksigen perifer selama tidur. Dengan kata lain, latihan bibir bisa berdampak hingga ke kualitas tidur anak.
Oral Screen, alat yang paling lama dikenal, bekerja dengan cara berbeda: alat ini ditempatkan di vestibulum mulut dan merangsang keseimbangan otot di sekitar rahang. Penggunaan selama 9 hingga 12 bulan terbukti meningkatkan lebar lengkung intermaksila dan panjang bibir atas maupun bawah, sekaligus mengurangi celah interlabial.
Mekanisme di Balik Latihan Otot
Cara kerja OMA secara biologis cukup menakjubkan. Saat alat lip trainer ditarik, serat otot pada otot protractor mandibula mengalami peregangan. Selama fase istirahat, diameter pembuluh darah mengecil, aliran darah berkurang, dan asam laktat menumpuk, menyebabkan kelelahan otot. Namun setelah beberapa jam peregangan, hiperkontraksibilitas otot justru meningkatkan aliran darah dan memicu diferensiasi sel-sel yang belum berdiferensiasi menjadi mioblas, yang kemudian membentuk serat otot baru.
Proses ini menjelaskan mengapa pada awal terapi, sekitar tiga hingga empat minggu pertama, anak-anak kesulitan merelaksasikan rahang bawah atau mempertahankan posisi gigi dalam oklusi maksimal setelah alat dilepas. Itu bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari proses adaptasi otot.
“OMA therapy may help improve oral coordination and stability, lip closure, and facial development. OMA may be a treatment option for improvement of LCS in children with LI.”
Demikian simpulan yang dituliskan tim peneliti FKG UGM dalam artikel tersebut, menegaskan bahwa pendekatan ini bukan sekadar intervensi estetika, melainkan bagian dari tata laksana tumbuh kembang kraniofasial anak secara menyeluruh.
Janji dan Batasnya
Meski hasilnya menjanjikan, para peneliti mengingatkan bahwa terapi OMA bukan tanpa tantangan. Keberhasilan sangat bergantung pada kerja sama anak dan orang tua, terutama dalam memastikan konsistensi penggunaan alat di rumah tanpa pengawasan langsung klinisi. Dari tujuh pasien yang menggunakan oral screen selama 16 minggu dalam salah satu studi, hanya empat yang menunjukkan perbaikan signifikan. Kondisi sistemik dan umum pasien turut mempengaruhi hasil.
Para peneliti menyerukan perlunya studi lanjutan yang lebih komprehensif, tidak hanya mengukur LCS, tetapi juga menilai fungsi sistem stomatognatik secara keseluruhan, termasuk pengunyahan, penelanan, dan perkembangan bicara.
Pada akhirnya, sebuah alat plastik kecil yang ditarik-tarik beberapa menit sehari menyimpan potensi besar. Bukan hanya untuk membentuk senyum yang rapi, tetapi untuk menata ulang fondasi tumbuh kembang wajah seorang anak, jauh sebelum masalah yang lebih besar sempat berakar.
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels