Berita

/

Berita Terbaru

Adaptif Dengan Teknologi Informasi, Tanpa Mengurangi Substansi & Ketahanan Pembelajaran

FKG UGM mengadakan diskusi mengenai profesi dosen berkembang menjadi refleksi yang lebih besar tentang masa depan pendidikan tinggi Indonesia. Yang dipertaruhkan ternyata bukan sekadar metode mengajar, melainkan kualitas generasi yang kelak memegang tanggung jawab kesehatan masyarakat.

CNBCIndonesia.com (30/06/2026) merilis, sebanyak lebih dari 1.800 dosen matematika dan sains di Universitas California memperingatkan bahwa kualitas akademik mahasiswa baru terus menurun, terutama dalam kemampuan dasar matematika, membaca, dan berpikir kritis, sehingga perguruan tinggi kini terpaksa mengulang materi yang seharusnya telah dikuasai sejak sekolah menengah. Fenomena ini juga tercermin di berbagai universitas ternama seperti Harvard, Yale, dan sejumlah negara maju berdasarkan data OECD (Organization for Economic Co-operation and Development), yang menunjukkan meningkatnya proporsi mahasiswa dengan kemampuan literasi dan numerasi rendah. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari dampak pandemi, berkurangnya kebiasaan membaca, perubahan kurikulum, hingga meningkatnya waktu penggunaan gawai, sementara perubahan sistem seleksi mahasiswa, inflasi nilai, dan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam penyelesaian tugas semakin mempersulit perguruan tinggi menilai kemampuan akademik secara akurat.

Melalui kegiatan Capacity Building Pengembangan Profesionalisme Dosen yang diselenggarakan pada 24 Juni 2026, FKG UGM tidak hanya membekali dosen-dosen muda mengenai teknik mengajar. Forum ini menjadi ruang kritik terhadap budaya belajar generasi digital yang dinilai semakin kehilangan daya tahan membaca, berpikir mendalam, sekaligus kemampuan membangun integritas akademik.

Pesan menggelitik datang dari dosen senior FKG UGM, Prof. Dr. drg. Widowati Siswomihardjo, M.S.yang akrab disapa Prof. Bundi, yang telah melewati berbagai generasi mahasiswa selama puluhan tahun.

“Saya menyebut anak-anak sekarang sebagai generasi tablet. Mereka anak-anak pandai, namun perlu diperbaiki kecerdasan & sensitifitasnya. Mereka melihat layar, tetapi belum mampu mengintegrasikan apa yang dilihat, didengar, lalu dituangkan menjadi pemikiran mereka sendiri.”

Pernyataan itu bukan sekadar kritik terhadap penggunaan gawai. Ia lahir dari pengalaman nyata di ruang kuliah.

Suatu ketika Prof. Bundi meminta lebih dari 150 mahasiswa menutup seluruh perangkat digital, hanya membawa alat tulis, mendengarkan penjelasan, lalu menuliskan kembali gagasan penting yang mereka tangkap.

Hasilnya mengejutkan, hanya sekitar 35 mahasiswa yang mampu melakukannya secara utuh. Sebagian besar kesulitan menghubungkan proses melihat, mendengar, berpikir, kemudian menulis kembali dengan bahasa sendiri.

Bagi Prof. Bundi, fenomena itu menunjukkan adanya gejala yang lebih serius daripada sekadar menurunnya kebiasaan mencatat.

“Mereka anak-anak yang pintar, tetapi belum cerdas. Cerdas itu bukan sekadar nilai tinggi. Cerdas adalah kemampuan mengintegrasikan informasi, peka terhadap situasi, lalu mampu mengambil makna dari apa yang dipelajari.”

PowerPoint Bukan Kitab Suci

Persoalan berikutnya muncul pada budaya belajar mahasiswa.

Menurut Prof. Bundi, banyak mahasiswa menjadikan slide PowerPoint sebagai satu-satunya sumber belajar.

Padahal PowerPoint sejatinya hanyalah peta jalan, bukan keseluruhan perjalanan ilmiah.

“Kalau saya membuat soal dari buku teks yang saya cantumkan di referensi, sebenarnya tidak salah. Tetapi banyak mahasiswa tidak pernah membuka buku itu. Akhirnya dosen yang mengalah, membuat soal hanya berdasarkan PowerPoint.”

Di sinilah, menurutnya, kualitas literasi akademik mulai mengalami kemunduran.

Mahasiswa memang mampu memperoleh indeks prestasi tinggi, bahkan lulus dengan predikat memuaskan. Namun ketika memasuki pendidikan profesi atau menghadapi persoalan klinis yang menuntut penalaran, banyak yang mulai kesulitan.

Otokritik ini sesungguhnya menyasar sistem pembelajaran secara keseluruhan.

Materi dari Power Point memang mempermudah akses informasi. Namun kemudahan itu justru dapat melahirkan ilusi belajar apabila mahasiswa berhenti pada ringkasan-ringkasan materi tanpa pernah menyelami sumber pengetahuan yang sesungguhnya.

Literasi yang Perlu Daya Tahan Tinggi

Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia FKG UGM, drg. Heribertus Dedy Kusuma Yulianto, M.Biotech., Ph.D, melihat persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan dengan memperbanyak bahan bacaan. Yang lebih penting adalah membangun rasa ingin tahu mahasiswa.

“Kalau mahasiswa hanya diberi jurnal atau textbook, mereka cepat bosan. Tetapi ketika dosen mampu membangun curiosity, rasa ingin tahu itu akan mendorong mereka membaca sendiri.”

Baginya, PowerPoint justru seharusnya menjadi pemantik, bukan tujuan akhir pembelajaran.

“Kami harus memunculkan kata-kata kunci yang membuat mahasiswa penasaran. Ketika rasa ingin tahu muncul, mereka akan membaca jurnal dan buku dengan kemauan sendiri”.

Pendekatan ini menunjukkan perubahan paradigma mengajar.

Dosen bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan fasilitator yang membangun keingintahuan.

“Mengajar bukan sekadar menyelesaikan dua belas slide lalu pulang. Yang paling penting adalah membangun chemistry dengan mahasiswa.”

Hubungan emosional itulah yang diyakini mampu membentuk karakter, bukan hanya mentransfer pengetahuan.

Integritas Lebih Penting daripada IPK

Namun Capacity Building tersebut ternyata tidak berhenti pada persoalan literasi.

Yang jauh lebih ditekankan adalah integritas akademik.

drg. Dedy mengingatkan bahwa dosen memikul tanggung jawab moral yang jauh lebih besar daripada sekadar mengajar.

“Kalau seseorang memiliki akademik tinggi tetapi tidak memiliki integritas dan etika, justru akan menjadi orang yang berbahaya.”

Karena itu, menurutnya, FKG UGM ingin melahirkan dosen yang mampu membentuk dokter gigi berpengetahuan luas sekaligus berkarakter kuat.

“Kami ingin lulusan UGM dikenal bukan hanya karena ilmunya, tetapi karena integritas, etika, dan kepeduliannya kepada masyarakat.”

Pesan tersebut menjadi sangat relevan ketika dunia akademik Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari plagiarisme, manipulasi data penelitian, hingga budaya instan dalam menghasilkan karya ilmiah.

Dosen Muda: Kami Butuh Mentor

Bagi dosen muda seperti drg. Muhammad Akhsan Pridatama, forum tersebut menjadi bekal penting sebelum benar-benar berdiri di depan kelas.

Ia mengaku tantangan terbesar selain menguasai kelas, juga memahami karakter mahasiswa yang berubah setiap generasi.

“Kami belajar bagaimana menghargai mahasiswa, bagaimana menyampaikan materi, dan bagaimana mendapatkan umpan balik dari mereka.”

Ia juga menyoroti pentingnya menjaga integritas dalam penelitian.

“Kami diingatkan agar tidak melakukan hal-hal yang tidak sewajarnya dalam penelitian, misalnya menggunakan data orang lain.”

Menurutnya, pembelajaran mahasiswa saat ini memang harus dibuat lebih interaktif.

“Yang penting bukan hanya bagaimana menyampaikan materi, tetapi bagaimana menarik perhatian mereka sehingga mereka ingin belajar.”

Ia juga sepakat bahwa mahasiswa tidak boleh berhenti pada PowerPoint.

“Kalau hanya belajar dari PPT tanpa membaca textbook dan jurnal, mereka tidak akan bisa menjawab persoalan klinis secara utuh.”

Membimbing dengan Hati

Di balik seluruh realitas terhadap generasi digital, Prof. Bundi sebenarnya menyampaikan optimisme. Ia menolak menyalahkan mahasiswa sepenuhnya. Yang perlu berubah justru cara dosen mendidik.

“Bimbinglah mahasiswa dengan hati. I do care.

Baginya, mahasiswa tetaplah generasi cerdas yang berhasil melewati seleksi masuk perguruan tinggi yang sangat kompetitif.

Yang mereka perlukan adalah dosen yang mampu membangkitkan rasa ingin tahu, mengajarkan konstruksi berpikir, serta memberi teladan tentang integritas.

Teknologi bukan musuh. Tablet, gawai, bahkan kecerdasan buatan akan terus berkembang.

Namun satu hal yang tidak boleh hilang adalah kemampuan manusia untuk membaca secara mendalam, menulis dengan reflektif, berpikir kritis, dan memegang teguh nilai moral.

Buku, jurnal, hingga slide materi kuliah dari universitas terbaik dunia tersedia dalam hitungan detik. Namun di sisi lain, kemudahan itu justru sering menghasilkan pembelajaran yang dangkal, cukup mengandalkan & menghafal slide presentasi, mengejar nilai, lalu melupakan substansi. Prof. Bundi menegaskan bahwa mahasiswa kini adalah “generasi tablet” seharusnya tidak dipahami sebagai penolakan terhadap teknologi.

“Yang dipersoalkan adalah cara teknologi digunakan. Ketika perangkat digital hanya menjadi alat untuk mempercepat konsumsi informasi tanpa memperdalam pemahaman keilmuan, pendidikan serasa kehilangan esensinya”.

Karena pada akhirnya, perguruan tinggi tidak hanya bertugas melahirkan lulusan yang pandai menjawab soal, melainkan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan zaman dengan penguasaan ilmu pengetahuan, karakter, & hati nurani.

(Reporter: Andri Wicaksono, Fotografer: Fajar Budi Harsakti)

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
22 Juli 2026

Ketika Sel Kanker Lidah Dipaksa Mati dari Dalam

22 Juli 2026

Saat Gen Penekan Kanker Disuntikkan Langsung ke Tumor Lidah

22 Juli 2026

Kontaminasi Darah Mengancam Kekuatan Tambalan Ujung Gigi

id_ID