Berita

/

Berita Terbaru

FKG UGM Gelar Pembekalan Calon Dokter Gigi, Tanamkan Profesionalisme Medis & Nilai Kemanusiaan

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) menyelenggarakan kegiatan pembekalan komprehensif bagi para dokter gigi muda yang akan menempuh masa internship. Bertempat di Ruang DLC Lantai 5 Gedung FKG UGM pada Rabu, (9/9/26), acara ini menghadirkan drg. M. Bakhrul Lutfianto, Sp.B.M.M, Subsp. C.O.M. (K), guna memberikan pemaparan klinis serta penguatan mental pelayanan berbasis empati kemanusiaan.

Melalui pembekalan ini, FKG UGM terus berkomitmen mencetak lulusan tenaga kesehatan gigi yang unggul secara klinis, adaptif terhadap keterbatasan alat di daerah terpencil, serta memiliki kepekaan sosial tinggi dalam melayani masyarakat di seluruh pelosok Nusantara.

Acara diawali dengan sambutan dari perwakilan pengelola dan panitia pelaksana pembekalan, Dr. drg. Rurie Ratna Shantiningsih, M.D.Sc., Sp.RKG. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya masa transisi dari bangku akademik menuju dunia kerja nyata.

“Adik-adik sekalian, pembekalan hari ini merupakan bekal yang sangat berharga sebelum kalian melangkah ke medan pengabdian, khususnya bagi yang nantinya bertugas di daerah terpencil. Banyak hal teknis dan filosofis yang perlu dipelajari langsung dari praktisi lapangan. Kami sangat berterima kasih kepada drg. Bahrul yang telah meluangkan waktu di tengah padatnya agenda beliau untuk membagikan ilmu dan pengalaman berharga ini. Manfaatkan kesempatan ini untuk menyerap pengetahuan klinis sekaligus mengasah empati kalian sebagai seorang dokter.” Jelas drg. Ruri

Dalam pemaparan utamanya, drg. Bahrul menekankan bahwa keahlian klinis seorang dokter gigi harus ditopang oleh mental yang kuat, pengetahuan yang presisi, dan rasa empati. Beliau membagikan tiga prinsip utama yang wajib dipegang oleh seorang dokter gigi saat melakukan tindakan bedah maupun perawatan.

  • Lion Heart (Hati Singa): Memiliki keberanian dan mental pantang menyerah dalam menghadapi situasi penyulit, yang selalu dilandasi oleh perencanaan dan pengetahuan (planning A, B, dan C).
  • Lady’s Hand (Tangan yang Lembut): Perlakuan terhadap jaringan tubuh harus dilakukan secara halus dan lembut untuk mempercepat pemulihan serta meminimalkan rasa sakit pasien.
  • Eagle Eye (Mata Elang): Ketelitian tinggi dalam mengamati bidang operasi agar tidak terjadi kesalahan tindakan atau cedera pada jaringan sekitar.

“Jadikanlah pasien sebagai sumber inspirasi dan motivasi untuk terus belajar dan berkembang, bukan sekadar sumber donasi. Anggaplah pasien seperti keluarga sendiri orang tua, saudara, atau anak kalian. Dengan demikian, kalian tidak lagi berfokus pada materi, melainkan mendedikasikan seluruh ilmu untuk memberikan perawatan terbaik.”  harap drg. Bahrul

drg. Bahrul memaparkan bahwa celah bibir merupakan kelainan kongenital kompleks yang membutuhkan pendekatan multidisiplin. Penanganan yang terlambat sering kali disebabkan oleh stigma negatif masyarakat di daerah. Oleh karena itu, dokter gigi di lini pelayanan primer memegang peran kunci sebagai edukator dan penggerak rujukan. Dalam sesi ini, dibahas pula simulasi menghadapi kendala medis saat dokter gigi bertugas di Puskesmas atau fasilitas kesehatan terpencil tanpa dukungan radiologi (Rontgen).

Sesi tanya jawab berlangsung dinamis dan interaktif dengan antusiasme tinggi dari para peserta pembekalan yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendalam seputar kendala di lapangan.

“Jika kami bertugas di Puskesmas daerah sangat terpencil tanpa Rontgen dan terjadi penyulit pencabutan, kapan batas kami harus berhenti? Serta bagaimana alur merujuk pasien celah bibir agar mendapatkan bantuan operasi gratis dari yayasan?” Luciana Arasa (Peserta Pembekalan)

Pertanyaan menarik tersebut, langsung ditanggapi oleh drg. Bahrul:

“Tanda untuk berhenti adalah saat operator lelah atau potensi bahaya anatomi (seperti dekat dengan pembuluh darah utama atau dasar orbita) semakin tinggi. “Jadilah dokter yang bisa merasa, bukan merasa bisa,” tegasnya. Terkait pembiayaan yayasan bagi pasien celah bibir dari daerah terpencil, rujukan dapat diarahkan ke rumah sakit jejaring yang telah memiliki kerja sama resmi (seperti RSGM UGM) agar seluruh biaya tindakan dapat ditanggung penuh.” Tegas drg. Bahrul

Melalui pembekalan ini, para lulusan diharapkan tidak hanya siap secara teknis saat diterjunkan di berbagai fasilitas kesehatan maupun daerah terpencil, tetapi juga mampu membawa perubahan nyata bagi masyarakat. Dengan memegang teguh komitmen pelayanan yang berorientasi pada keselamatan dan senyum pasien, para dokter gigi muda ini siap melangkah menjadi bagian dari tenaga kesehatan yang profesional, adaptif, dan berintegritas tinggi di seluruh pelosok Indonesia.

Sebagai penutup pemaparan, drg. Bahrul menyampaikan pesan kunci yang menekankan hakikat sejati profesi dokter gigi

“Satu-satunya cara untuk melakukan pekerjaan yang hebat adalah mencintai apa yang kamu lakukan. Hidup ini akan mempunyai arti jika kita bisa berarti buat orang lain. Menjadi baik itu mudah kadang dengan diam kita sudah tampak baik. Tetapi menjadi bermanfaat itu sulit, karena butuh perjuangan dan pengorbanan. Kemanusiaan itu tanpa batas; ia lahir dari keajaiban nurani, tanpa sekat dan tanpa jarak, untuk memberikan senyuman dan harapan baru bagi sesama.” pesan drg. Bahrul

Acara diakhiri dengan penyerahan kenang-kenangan secara simbolis oleh panitia kepada narasumber serta foto bersama seluruh peserta.

(Reporter & Foto: Dodi Hendro Wibowo, Redaksi: Andri Wicaksono)

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
8 September 2026

Workshop Akselerasi Digitalisasi Pengelolaan Laboratorium FKG UGM

8 September 2026

FKG UGM Buka Pelatihan Advanced CBCT Batch 3

7 September 2026

Fakultas Kedokteran Gigi UGM Dampingi Dokter Gigi Muda Lewat Pembekalan Kerumahsakitan