Bayangkan sepasang sel yang bekerja berlawanan arah, namun saling bergantung: satu membangun, satu meruntuhkan. Itulah osteoblas dan osteoklas — dua pemain utama di balik setiap pergerakan gigi yang digerakkan kawat gigi. Tanpa keduanya bekerja dalam harmoni, perawatan ortodontik tak akan berhasil. Dan kini, sebuah penelitian dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada menemukan bahwa senyawa dalam kedelai — yang juga ada dalam tempe — bisa mempengaruhi keseimbangan dua sel itu secara bermakna.
Dua Sel, Dua Sisi Gigi
Setiap kali kawat gigi memberikan tekanan pada gigi, dua zona terbentuk di ligamen periodontal: sisi kompresi, tempat osteoklas meresorpsi tulang; dan sisi tegangan, tempat osteoblas membangun tulang baru. Proses inilah yang memungkinkan gigi berpindah posisi secara perlahan.
Namun ada satu variabel yang kerap diabaikan: usia pasien. Pada perempuan menopause atau individu lanjut usia, kadar estrogen menurun drastis. Akibatnya, keseimbangan antara pembentukan dan resorpsi tulang goyah — osteoklas menjadi terlalu dominan, pembentukan tulang melambat, dan risiko osteoporosis meningkat. Dalam konteks perawatan ortodontik, kondisi ini berpotensi menghambat keberhasilan terapi.
Di sinilah genistein masuk. Senyawa isoflavon dari kedelai ini dikenal memiliki struktur kimia yang menyerupai estrogen pada mamalia, sehingga mampu berikatan dengan reseptor estrogen dan meniru sebagian aktivitasnya. Prof. Dr. drg. Pinandi Sri Pudyani, SU., Sp.Ort(K), bersama drg. Sri Suparwitri dan tim lintas departemen FKG serta FK UGM, merancang penelitian untuk menguji apakah genistein dapat memodulasi respons sel-sel tulang selama pergerakan gigi ortodontik — khususnya pada subjek muda dan tua.
Percobaan dengan Marmut dan Formula Tempe
Penelitian yang dipublikasikan di Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) edisi September 2016 ini menggunakan 24 ekor marmut jantan, dibagi menjadi kelompok muda (usia sekitar 4 bulan) dan tua (sekitar 2,5 tahun). Masing-masing kelompok usia dibagi lagi menjadi empat subkelompok: kontrol, perawatan ortodontik saja, pemberian genistein saja, dan kombinasi ortodontik dengan genistein.
Genistein yang digunakan bukan senyawa sintetis dari laboratorium kimia, melainkan berasal dari “Genistein Tempe Formula” — produk berbasis kedelai yang dikembangkan oleh Prof. Mien Karmini dari Institut Pertanian Bogor, terdiri dari kedelai, tape, tepung, gula, krimer, garam, dan baking powder. Dosis diberikan secara oral sebesar 1,2 mg hingga 0,6 mg per hari.
Alat ortodontik berupa open coil spring dipasang di antara dua braket pada gigi seri bawah, menghasilkan gaya sebesar 35 cN. Pada hari ketujuh, seluruh subjek dikorbankan dan jaringan mandibula dianalisis secara histologis menggunakan dua metode pewarnaan: TRAP (Tartrate Resistance Acid Phosphatase) untuk mengidentifikasi osteoklas, dan Hematoxylin Eosin (HE) untuk osteoblas.
Angka yang Berbicara Sendiri
Hasilnya cukup mengejutkan. Pada kelompok yang mendapat kombinasi ortodontik dan genistein, jumlah osteoblas di sisi tegangan meningkat secara signifikan dibandingkan kelompok yang hanya mendapat perawatan ortodontik — baik pada marmut muda maupun tua. Uji Mann-Whitney menunjukkan perbedaan bermakna antara kelompok ortodontik dan ortodontik+genistein pada marmut tua (p=0,004), antara kelompok ortodontik marmut muda dan ortodontik+genistein marmut tua (p=0,016), serta antara kelompok ortodontik dan ortodontik+genistein pada marmut muda (p=0,025).
Di sisi kompresi, gambarannya sama mencolok. Pada kelompok ortodontik+genistein marmut muda, osteoklas bahkan tidak ditemukan sama sekali. Pada kelompok genistein saja (tanpa ortodontik) pada marmut tua, hasil serupa: tidak ada osteoklas yang terdeteksi.
“Pemberian isoflavon genistein kedelai pada pergerakan gigi ortodontik meningkatkan jumlah osteoblas di sisi tegangan dan menurunkan jumlah osteoklas di sisi kompresi.”
Mekanisme yang menjelaskan fenomena ini berkaitan dengan reseptor estrogen beta pada osteoblas. Genistein mampu berikatan dengan reseptor tersebut, memicu peningkatan sintesis DNA dalam osteoblas dan merangsang proliferasinya. Senyawa ini juga meningkatkan aktivitas enzim alkaline phosphatase, penanda diferensiasi osteoblas. Sementara itu, efek antiosteoklas genistein diduga berkaitan dengan kompetisi antara genistein dan estrogen endogen dalam memperebutkan reseptor yang sama.
Kedelai, Kawat Gigi, dan Masa Depan Ortodontik
Temuan ini membuka percakapan yang lebih luas. Selama ini, pertanyaan tentang efektivitas perawatan ortodontik pada pasien lansia atau perempuan pascamenopause kerap dijawab dengan kehati-hatian. Penurunan kadar estrogen dianggap sebagai hambatan biologis yang sulit diatasi. Penelitian ini mengisyaratkan bahwa fitoestrogen dari sumber pangan alami — kedelai, produk fermentasinya seperti tempe dan tahu — mungkin bisa menjadi pendamping terapeutik yang layak dieksplorasi lebih jauh.
Tentu, jarak antara hasil eksperimen hewan dan aplikasi klinis pada manusia masih panjang. Dosis optimal, durasi pemberian, serta interaksi dengan kondisi sistemik pasien masih memerlukan serangkaian uji lanjutan. Namun ada sesuatu yang menarik dari gagasan bahwa sebuah makanan yang sudah ribuan tahun hadir di meja makan orang Indonesia ternyata menyimpan potensi yang belum sepenuhnya dipahami dunia kedokteran gigi.
Kawat gigi dan tempe. Tidak ada yang menyangka keduanya bisa berada dalam satu kalimat ilmiah yang serius.
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels