Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Odontology pada 2025 mengungkap temuan yang cukup mengejutkan: susu sapi biasa ternyata mampu membantu memulihkan kekerasan permukaan email gigi yang telah terkikis oleh minuman asam seperti kola, jus jeruk, dan kopi. Penelitian ini dilakukan di Seoul National University, Korea Selatan, dengan melibatkan drg. Sri Larnani, MDSc., peneliti asal Indonesia, sebagai salah satu penulis. Studi laboratorium ini menguji sepuluh larutan asam berbeda terhadap spesimen email gigi sapi, lalu mengamati apakah susu dan air liur buatan mampu memperbaiki kerusakan yang terjadi. Hasilnya membuka pemahaman baru tentang bagaimana minuman sehari-hari berdampak pada kesehatan gigi, dan apa yang bisa dilakukan untuk memperlambat kerusakannya.
Cola Paling Asam, Kopi Paling “Jinak”
Di antara empat minuman asam yang diuji, cola original mencatatkan pH terendah, yaitu 2,4. Cola zero berada di angka 2,7, disusul jus jeruk dengan pH 3,9, dan kopi dengan pH 5,1. Semakin rendah angka pH, semakin asam larutan tersebut, dan semakin besar potensinya merusak email gigi.
Dalam percobaan ini, 80 spesimen email gigi sapi direndam dalam masing-masing larutan selama total satu jam. Hasilnya konsisten: semua larutan asam, termasuk minuman sehari-hari maupun larutan asam sitrat yang disiapkan di laboratorium, meningkatkan kekasaran permukaan (Ra) dan kedalaman abrasi email, sekaligus menurunkan kekerasan mikro. Dengan kata lain, email gigi menjadi lebih kasar, lebih tipis, dan lebih lunak setelah terpapar asam.
Yang paling merusak dari semua larutan yang diuji adalah larutan citric acid buffer pH 3 (CAB1), campuran asam sitrat dan dinatrium fosfat. Larutan ini memiliki kapasitas bufer yang tinggi, artinya ia mampu mempertahankan keasamannya lebih lama dan lebih sulit dinetralkan oleh air liur. Pada kelompok CAB1, nilai kekasaran permukaan terus meningkat bahkan setelah proses remineralisasi, satu-satunya kelompok yang menunjukkan pola seperti ini.
“Larutan bufer, dibandingkan dengan larutan asam sitrat biasa, menghasilkan perbedaan yang bermakna secara statistik pada permukaan email, dengan nilai kekasaran dan kedalaman abrasi yang lebih tinggi, serta penurunan kekerasan yang lebih besar.” — Sri Larnani et al., Odontology (2025)
Apa yang Terjadi di Dalam Email Gigi
Email gigi tersusun dari kristal hidroksiapatit, mineral terkeras dalam tubuh manusia. Namun kekerasan ini tidak berarti kebal terhadap asam. Ketika asam menyentuh permukaan email, ia melarutkan ion kalsium dan fosfat yang menjadi penyusun utama kristal tersebut.
Proses ini berbeda dari karies gigi yang melibatkan bakteri. Erosi email murni merupakan reaksi kimia langsung antara asam dan mineral gigi, tanpa perantara mikroba. Inilah mengapa erosi bisa terjadi pada siapa saja yang sering mengonsumsi minuman asam, bahkan pada mereka yang rajin menyikat gigi dan tidak punya masalah karies.
Asam sitrat, yang banyak ditemukan dalam minuman ringan dan bahkan produk pemutih gigi, bekerja melalui dua mekanisme sekaligus: melepaskan ion hidrogen yang langsung melarutkan mineral, dan mengikat ion kalsium melalui proses yang disebut kelasi. Kombinasi ini membuat asam sitrat menjadi salah satu zat yang paling agresif terhadap email gigi.
Susu Membuktikan Diri, tapi Ada Batasnya
Setelah proses demineralisasi, spesimen dibagi menjadi dua kelompok: sebagian direndam dalam susu segar, sebagian lagi dalam air liur buatan. Keduanya diuji selama tiga jam untuk melihat seberapa besar pemulihan yang bisa terjadi.
Hasilnya: kekerasan mikro meningkat secara bermakna pada kedua kelompok setelah remineralisasi. Susu menunjukkan performa yang lebih baik dalam meningkatkan kekerasan dibanding air liur buatan. Ini masuk akal secara kimiawi: susu mengandung kalsium, fosfat, dan protein kasein yang dapat membentuk lapisan pelindung di permukaan email serta menyuplai mineral yang dibutuhkan untuk pemulihan.
Namun ada kabar yang kurang menggembirakan. Meski kekerasan meningkat, permukaan email tidak kembali sepenuhnya ke kondisi awal. Kekasaran permukaan dan kedalaman abrasi tetap lebih tinggi dibanding sebelum paparan asam, bahkan setelah tiga jam remineralisasi. Artinya, susu dan air liur bisa memperlambat atau sebagian membalikkan kerusakan, tetapi tidak bisa menghapus bekas erosi yang sudah terjadi.
Temuan ini penting untuk dipahami masyarakat umum. Kondisi email yang masih lunak setelah terpapar asam membuatnya lebih rentan terhadap gesekan mekanis, misalnya dari sikat gigi. Menyikat gigi langsung setelah minum minuman asam justru bisa mempercepat keausan email.
Pesan untuk Kehidupan Sehari-hari
Penelitian ini bukan berarti masyarakat harus berhenti minum kopi atau jus jeruk. Namun ia memberikan gambaran yang lebih jelas tentang apa yang terjadi setiap kali kita meneguk minuman dengan pH rendah, dan mengapa pola konsumsi itu perlu diperhatikan.
Beberapa hal yang bisa dipetik dari studi ini: menunggu setidaknya 30 menit sebelum menyikat gigi setelah minum minuman asam, mengonsumsi susu atau produk susu setelah makan yang mengandung minuman asam, serta tidak mengabaikan peran air liur alami sebagai pelindung gigi.
Bagi para klinisi dan peneliti, studi ini juga membuka pertanyaan lanjutan yang menarik. Bagaimana dengan paparan jangka panjang dalam kondisi nyata di rongga mulut? Seberapa efektif remineralisasi alami dari air liur sesungguhnya dibanding kondisi laboratorium? Dan apakah ada agen remineralisasi lain yang lebih efektif dari susu biasa?
Penelitian drg. Sri Larnani, MDSc. dan tim dari Seoul National University ini menjadi salah satu pijakan penting dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, satu langkah kecil yang bermula dari gelas kopi pagi hari.
Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam
Foto: Pixabay
Sumber DOI: https://doi.org/10.1007/s10266-024-00960-y