Setiap kali pasien diminta berdiri di depan mesin foto panoramik, jarang ada yang bertanya apa yang terjadi pada jaringan lunaknya selama paparan berlangsung. Dalam hitungan detik, sinar-X menyapu seluruh rahang. Tak terasa, tak terlihat. Tapi di balik itu, sel-sel mukosa gingiva menyerap radiasi yang memicu reaksi oksidatif, merusak DNA, dan memicu peradangan lokal.
Penelitian yang dipublikasikan dalam AIP Conference Proceedings (2019) oleh tim dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada membawa temuan yang cukup mengejutkan: sebuah plester mukoadhesif gingiva berbahan beta-karoten ternyata mampu menekan dua penanda kerusakan biologis sekaligus, yaitu volume gingival crevicular fluid (GCF) dan kadar 8-oxo-dG, setelah paparan radiografi panoramik. Penelitian ini melibatkan drg. Rurie Ratna Shantiningsih sebagai penulis korespondensi, bersama Silviana Farrah Diba, dan drg. Anggun Dwi Andini, Sp.KGA.
Ketika Foto Gigi Meninggalkan Jejak di Jaringan
GCF adalah cairan eksudat yang disekresikan dari mukosa gingiva melalui sulkus gingiva. Dalam kondisi normal, cairan ini hadir dalam jumlah kecil. Namun paparan radiografi dapat meningkatkan permeabilitas pembuluh darah kapiler di pleksus gingiva, yang mendorong produksi GCF melonjak. Ini bukan sekadar perubahan volume biasa. Peningkatan GCF menjadi penanda terjadinya proses inflamasi.
Selain itu, radiasi sinar-X juga memicu terbentuknya 8-oxo-dG, yaitu produk adduct DNA yang dihasilkan dari reaksi oksidatif. Senyawa ini telah lama dikenal sebagai biomarker kerusakan DNA akibat reactive oxygen species (ROS). Makin tinggi kadarnya, makin besar kerusakan genetik yang telah terjadi pada sel-sel mukosa.
Di sinilah beta-karoten masuk. Senyawa karotenoid ini dikenal sebagai antioksidan kuat yang mampu meredam singlet oxygen dan menghambat akumulasi ROS. Ia juga terbukti menekan aktivasi NF-κB pada sel imun yang terstimulasi, sehingga mengurangi ekspresi gen-gen pro-inflamasi.
Plester Mungil dengan Mekanisme Ganda
Dalam studi ini, dua puluh subjek yang memerlukan pemeriksaan panoramik dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok sampel mendapatkan aplikasi plester mukoadhesif beta-karoten pada mukosa gingiva labial gigi insisivus sentral atas (#11 dan #21) sebelum paparan berlangsung. Kelompok kontrol tidak mendapat perlakuan apa pun.
Lima menit setelah paparan, GCF diambil menggunakan filter paper yang dimasukkan ke sulkus gingiva labial selama satu menit. Volume diukur dengan pewarnaan ninhydrin 2%, yang mengubah area basah menjadi ungu. Kadar 8-oxo-dG dianalisis menggunakan metode Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) dengan panjang gelombang 450 nm.
Hasilnya berbicara jelas. Kelompok yang menggunakan plester beta-karoten menunjukkan volume GCF yang secara signifikan lebih rendah dibanding kelompok kontrol (p < 0,05). Untuk kadar 8-oxo-dG, kelompok sampel mencatat rata-rata 0,767 ± 0,368, sementara kelompok kontrol mencapai 1,082 ± 0,547, dengan perbedaan yang juga bermakna secara statistik (p = 0,036).
“Aplikasi beta-karoten mucoadhesive gingival patch dapat mencegah peningkatan volume GCF dan kadar 8-oxo-dG setelah paparan radiografi panoramik pada mukosa gingiva.”
Demikian simpulan yang dituliskan tim peneliti dalam makalah tersebut.
Dari Prinsip ALARA ke Aplikasi Klinis
Dunia radiologi kedokteran gigi telah lama menganut prinsip ALARA, singkatan dari As Low As Reasonably Achievable. Artinya, paparan radiasi harus diminimalkan semaksimal mungkin. Selama ini, upaya perlindungan berfokus pada penggunaan apron timbal dan kolimasi berkas sinar. Namun mukosa gingiva, yang langsung berada dalam jalur paparan, hampir tidak pernah mendapat proteksi tambahan.
Plester mukoadhesif ini bekerja secara dua lapis. Secara fisik, ia melapisi mukosa gingiva dan menghambat interaksi langsung singlet oxygen dengan jaringan. Secara kimiawi, beta-karoten meningkatkan komunikasi gap junction antar sel melalui peningkatan ekspresi connexin-43, yang berperan dalam mempertahankan integritas jaringan.
Penelitian ini merupakan kelanjutan dari serangkaian studi sebelumnya, termasuk uji in vivo pada kelinci New Zealand yang membuktikan plester serupa mampu mencegah pembentukan adduct DNA. Pada studi klinis manusia sebelumnya, pengurangan jumlah mikronukleus pada mukosa gingiva pasca-panoramik sudah teramati, meskipun belum mencapai signifikansi statistik. Kini, dengan dua parameter baru, yaitu volume GCF dan kadar 8-oxo-dG, bukti efikasi plester ini semakin kuat.
Potensi yang Menunggu Dikembangkan
Pertanyaan yang wajar muncul: apakah plester ini suatu hari bisa menjadi perlengkapan standar di ruang radiologi gigi, seperti apron timbal yang kini sudah biasa? Penelitian ini belum menjawabnya secara langsung. Ukuran sampel yang masih kecil, yaitu sepuluh subjek per kelompok, menjadi keterbatasan yang diakui peneliti. Studi dengan skala lebih besar dan variabel tambahan masih diperlukan.
Namun arah riset ini sudah jelas. Di tangan para peneliti FKG UGM, selembar plester kecil berbahan alami tengah diuji kemampuannya melindungi jaringan yang selama ini luput dari perhatian. Mungkin suatu hari, sebelum pasien berdiri di depan mesin panoramik, seorang dokter gigi akan menempelkan sesuatu ke gusinya terlebih dahulu.
Sumberr DOI : https://doi.org/10.1063/1.5098429
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels