Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 10, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Tulang Baru di Celah Lama: Harapan Ortodontik bagi Pasien Celah Bibir dan Langit-Langit

Bayangkan seorang anak berusia sepuluh tahun yang terlahir dengan celah di bibir dan langit-langitnya. Setelah bertahun-tahun menjalani operasi dan perawatan, ia tiba di klinik ortodonti dengan satu pertanyaan menggantung: apakah giginya bisa ditata seperti anak-anak lainnya? Pertanyaan itu, yang tampak sederhana, menyimpan kerumitan biologis yang selama ini kurang mendapat perhatian ilmiah.

Sebuah systematic review yang diterbitkan di The Cleft Palate Craniofacial Journal mencoba menjawabnya. Tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, yang mencakup drg. Ananto Ali Alhasyimi, DDS, MDSc, M.Clin.Dent(orth), PhD sebagai peneliti utama, bersama drg. Anrizandy Narwidina, DDS, MDSc, Sp.KGA, PhD dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak, menyaring 528 rekam penelitian dari seluruh dunia untuk menjawab pertanyaan klinis yang selama ini terabaikan: apa yang sebenarnya terjadi pada gigi pasien setelah cangkok tulang alveolar sekunder dilakukan?

Mengisi Celah, Membuka Jalan Erupsi

Celah bibir dan langit-langit (cleft lip and palate/CLP) adalah salah satu kelainan kongenital paling umum. Penanganannya bukan soal menutup celah secara anatomis semata, melainkan memulihkan fungsi, estetika wajah, dan stabilitas oklusal dalam jangka panjang. Di sinilah peran secondary alveolar bone grafting (SABG) menjadi krusial: prosedur ini menanamkan tulang, umumnya diambil dari krista iliaka, ke dalam celah alveolar untuk memulihkan kontinuitas lengkung rahang atas.

Yang menarik dari review ini bukan sekadar konfirmasi bahwa SABG berhasil secara bedah. Para peneliti justru memindahkan lensa dari ruang operasi ke kursi ortodonti. Dari 528 rekam penelitian, hanya enam studi yang memenuhi kriteria inklusi ketat, melibatkan total 167 pasien. Hasilnya cukup menjanjikan: pada pasien yang graftnya terintegrasi dengan baik, pergerakan gigi secara ortodontik ke dalam tulang yang dicangkok ternyata layak dilakukan. Tidak ada kegagalan graft yang dilaporkan sebagai akibat langsung dari mekanika ortodontik.

Temuan soal erupsi kaninus maksila menjadi salah satu poin paling bermakna secara klinis. Kaninus permanen adalah gigi yang paling sering terdampak pada pasien CLP, dan erupsinya melalui daerah celah menjadi penanda keberhasilan rehabilitasi. Dari empat studi yang mengkaji 112 pasien, sebagian besar melaporkan erupsi spontan atau erupsi yang dipandu secara ortodontik berhasil dilakukan, terutama ketika SABG dilaksanakan sebelum gigi kaninus permanen mulai erupsi, yaitu pada fase gigi campuran.

Ketika CT Scan Bicara tentang Tulang dan Jaringan Periodontal

Evaluasi periodontal dan morfologi tulang alveolar pasca-perawatan ortodontik memberi gambaran yang lebih bernuansa. Menggunakan cone-beam computed tomography (CBCT), satu studi cross-sectional dengan 30 pasien menemukan bahwa pergerakan kaninus ke dalam daerah cangkok menghasilkan morfologi tulang alveolar yang secara umum dapat diterima. Ketebalan lempeng tulang bukal dan lingual terjaga, tinggi krista alveolar dipertahankan, dan tidak ditemukan dehisensi tulang yang signifikan secara klinis.

Namun ada catatan penting. Lempeng tulang bukal pada sisi celah cenderung lebih tipis dibandingkan sisi yang sehat. Ini bukan kegagalan, tetapi pengingat bahwa jaringan yang direkonstruksi tidak identik dengan jaringan asli, dan pengawasan jangka panjang tetap diperlukan.

“Current evidence indicates that SABG establishes a clinically viable foundation for subsequent orthodontic rehabilitation in patients with cleft lip and palate. Following successful osseous integration, both directed orthodontic tooth movement and the eruption of maxillary canines into the grafted site are highly feasible.”

Demikian simpulan yang dituliskan tim peneliti dalam artikel tersebut, sebuah pernyataan yang terasa hati-hati namun penuh makna bagi para klinisi yang setiap hari berhadapan dengan pasien CLP.

Kepastian Rendah, Relevansi Tinggi

Systematic review ini tidak berhenti pada optimisme. Menggunakan kerangka GRADE untuk menilai kualitas bukti, tim peneliti secara jujur menyatakan bahwa bukti untuk kelayakan ortodontik dan erupsi kaninus berada pada tingkat kepastian rendah (low certainty), sementara bukti untuk luaran periodontal hanya mencapai kepastian sangat rendah (very low certainty). Penyebabnya adalah dominasi desain studi observasional, heterogenitas protokol ortodontik antar studi, dan ukuran sampel yang kecil.

Ini bukan kelemahan yang mengecilkan temuan, melainkan transparansi ilmiah yang justru memperkuat nilai review ini. Dalam dunia klinis yang kompleks seperti penanganan CLP, di mana setiap keputusan menyentuh tumbuh kembang anak secara fisik dan psikologis, memilah antara “ini tampak berhasil secara klinis” dan “ini sudah terbukti secara definitif” adalah perbedaan yang krusial.

Yang menjadi rekomendasi utama tim peneliti adalah perlunya uji klinis prospektif multisenter dengan protokol ortodontik yang terstandarisasi, durasi follow-up lebih panjang, dan integrasi penilaian bedah, ortodontik, periodontal, serta kualitas hidup pasien dalam satu kerangka yang koheren. Penelitian semacam itu, bila terlaksana, akan mengisi kekosongan bukti yang saat ini membuat para klinisi harus bersandar pada kombinasi data yang ada dan keahlian klinis individual.

Bagi anak sepuluh tahun di kursi ortodonti itu, dan ribuan pasien CLP lainnya yang menanti kepastian soal senyum mereka, perjalanan ilmiah ini belum selesai. Tapi setidaknya, arahnya kini sedikit lebih jelas.

Sumber DOI : http://10.1177/10556656261454065

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
17 Juli 2026

Saluran Tersembunyi di Balik Gigi Geraham: Temuan Peneliti FKG UGM yang Diterbitkan Jurnal Internasional

17 Juli 2026

Ekspansi Rahang Atas Ternyata Memperluas Saluran Napas Anak: Bukti dari 13 Studi CBCT

17 Juli 2026

Bibir yang Tak Bisa Menutup: Alat Sederhana di Balik Masalah Tumbuh Kembang Anak

id_ID