Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 10, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Bibir yang Tak Bisa Menutup: Alat Sederhana di Balik Masalah Tumbuh Kembang Anak

Bayangkan seorang anak duduk tenang di kursi periksa, mulutnya sedikit terbuka bahkan saat ia tidak sedang berbicara atau mengunyah. Bagi sebagian orang tua, itu tampak biasa saja. Namun bagi drg. Anrizandy Narwidina, MDSc, Sp.KGA, Ph.D, kondisi itu adalah sinyal klinis yang perlu segera ditangani.

Kondisi tersebut dikenal sebagai lip incompetence (LI), yakni ketidakmampuan bibir atas dan bawah untuk menutup rapat secara natural saat istirahat. Bukan sekadar kebiasaan membuka mulut, LI adalah kondisi anatomis dan fungsional yang bisa berdampak jauh pada perkembangan gigi, rahang, bahkan kualitas tidur anak.

Lebih dari Sekadar Mulut Menganga

Angkanya tidak kecil. Prevalensi LI pada anak usia 3 hingga 12 tahun mencapai sekitar 30,7 persen, dan angka itu cenderung meningkat seiring pertambahan usia. Penelitian yang dipublikasikan drg. Anrizandy bersama tim dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG UGM di Journal of International Dental and Medical Research (2024) menyebutkan prevalensi LI secara umum mencapai sekitar 35,72 persen.

Penyebabnya beragam: mulai dari penyempitan nasofaring yang menghambat saluran napas atas, protrusi maksila yang membuat mulut sulit menutup, hingga kondisi sekunder seperti septum hidung yang menyimpang, sinusitis kronis, atau pembesaran tonsil palatina. Ketika anak terus-menerus bernapas lewat mulut, efeknya berantai. Lengkung gigi menyempit, gigi seri atas cenderung condong ke depan, bahkan pertumbuhan lengkung rahang atas bisa terhambat secara signifikan.

Yang lebih jarang disadari: otot orbicularis oris, yaitu otot melingkar di sekitar mulut yang berfungsi seperti sfingter, melemah akibat kurangnya latihan penutupan bibir. Otot yang lemah berdampak pada kemampuan mengunyah, menelan, berbicara, bahkan dapat memicu ngiler dan kesulitan artikulasi.

Tiga Alat, Satu Tujuan

Studi tinjauan literatur ini menelaah 401 artikel dari PubMed dan pencarian manual, mencakup publikasi tahun 1980 hingga 2023. Dari ratusan artikel tersebut, tujuh studi menunjukkan hasil signifikan secara statistik (p<0,001) untuk tiga jenis orofacial myofunctional appliance (OMA) prefabrikasi: Oral Screen, Lip Trainer Patakara® (PATAKARA Co., Ltd., Tokyo, Jepang), dan Lipple Trainer® (SHOFU Inc., Jepang).

Ketiganya bekerja dengan prinsip serupa namun mekanisme berbeda. Oral Screen adalah pelindung berbentuk perisai yang ditempatkan di vestibulum mulut, melatih otot bibir secara pasif maupun aktif. Patakara® bekerja dengan memberikan beban langsung pada otot perioral, khususnya orbicularis oris dan buccinator, sehingga merangsang kontraksi dan penguatan otot. Sementara Lipple Trainer® dirancang untuk latihan tarikan aktif dari tiga posisi: tengah bibir, sudut kiri, dan sudut kanan.

Durasi pemakaian rata-rata berkisar antara 1 hingga 4 bulan, dengan jadwal yang terstruktur. Patakara® misalnya, digunakan 3 menit sebanyak tiga kali sehari, lima hari seminggu selama tiga bulan. Hasilnya: peningkatan Lip Closure Strength (LCS) sebesar 4,1 N yang signifikan setelah dua bulan terapi pada anak-anak.

“OMA therapy may help improve oral coordination and stability, lip closure, and facial development. OMA may be a treatment option for improvement of LCS in children with lip incompetence.”

Demikian simpulan yang dituliskan drg. Anrizandy Narwidina dan tim dalam paper tersebut, menegaskan bahwa alat-alat ini bukan sekadar aksesori ortodontik, melainkan intervensi terapeutik yang terukur.

Angka yang Bicara, Syarat yang Mengikuti

Hasil klinis yang dicatat cukup menjanjikan. Pada anak usia 7 hingga 9 tahun yang menggunakan Lipple Trainer® selama tiga bulan, LCS meningkat dari 7,9 N menjadi 12,8 N. Kelompok usia 10 hingga 12 tahun menunjukkan peningkatan serupa: dari 6,8 N ke 11,4 N. Peningkatan paling bermakna terjadi setelah satu bulan pertama penggunaan. Studi lain bahkan mencatat bahwa Patakara® tidak hanya memperkuat otot bibir, tetapi juga memperbaiki Apnea-Hypopnea Index (AHI) dan saturasi oksigen perifer (SpO₂) selama tidur, artinya kualitas pernapasan dan tidur anak turut membaik.

Namun ada catatan penting. Tidak semua pasien merespons dengan sama baiknya. Dari tujuh pasien yang menggunakan oral screen selama 16 minggu dalam satu studi, hanya empat yang menunjukkan perbaikan signifikan. Kondisi sistemik dan umum pasien, serta tingkat kepatuhan pemakaian di rumah tanpa pengawasan klinisi, menjadi variabel yang sulit dikontrol.

Inilah yang membuat terapi OMA berbeda dari perawatan ortodontik konvensional: keberhasilannya sangat bergantung pada kerja sama aktif anak dan orang tua. Alat secanggih apa pun tidak akan banyak membantu jika tidak dipakai secara konsisten sesuai instruksi.

Deteksi Dini, Intervensi Tepat Waktu

Paper ini menegaskan sesuatu yang selama ini kerap luput dari perhatian: lip incompetence bukan kondisi yang bisa ditunggu “sampai anak lebih besar”. Semakin dini terdeteksi dan ditangani, semakin besar peluang tumbuh kembang kraniofasial anak berjalan normal.

Dalam praktik klinis, LCS diukur sebagai parameter diagnostik utama. Berbagai metode asesmen tersedia, dari pemeriksaan visual dan fotografi wajah hingga elektromyografi dan sensor distribusi tekanan. Namun di banyak klinik gigi anak, kesadaran untuk memeriksa kekuatan penutupan bibir secara rutin masih perlu ditingkatkan.

Penelitian drg. Anrizandy Narwidina dan tim ini menjadi pengingat bahwa di balik mulut anak yang tampak sedikit terbuka, ada sistem stomatognati yang sedang berkembang dan menunggu untuk dibimbing ke arah yang benar. Kadang, alat yang dibutuhkan tidak serumit yang dibayangkan.

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
17 Juli 2026

Tekanan Cairan Gigi Ternyata Bisa Memicu Regenerasi Dentin: Bukti dari Sel Punca Gigi Susu

17 Juli 2026

Sel Punca Tersembunyi di Kelenjar Ludah: Temuan Mengejutkan dari Eksperimen Ligasi

17 Juli 2026

Rahang Menyempit, Napas Tersumbat: Bukti CBCT dari Anak-Anak yang Bernapas Lewat Mulut

id_ID