Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Royal Jelly Lawan Bakteri Mematikan: Riset Kolaborasi FKG UGM dan Jepang Ungkap Potensi Baru Suplemen Lebah

Seekor ratu lebah tumbuh dari larva biasa berkat satu zat istimewa: royal jelly. Selama berabad-abad, manusia meminjam rahasia sarang lebah itu sebagai obat tradisional. Kini, di laboratorium Universitas Tokushima, Jepang, zat tersebut diuji menghadapi salah satu bakteri paling berbahaya di dunia rumah sakit.

Prof. drg. Heni Susilowati, M.Kes., Ph.D., PBO dari Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada menjadi satu-satunya peneliti dari Indonesia dalam studi internasional ini. Hasilnya diterbitkan di jurnal BioMed Research International pada September 2017, membuka kemungkinan baru: royal jelly bisa menjadi senjata pelengkap melawan Pseudomonas aeruginosa, bakteri oportunistik yang telah lama meresahkan dunia medis.

Musuh Lama di Lorong ICU

Pseudomonas aeruginosa bukan bakteri sembarangan. Ia hidup di tanah, air, dan bahan organik membusuk, tetapi justru paling berbahaya di lingkungan steril: ruang perawatan intensif, saluran pernapasan pasien lansia, dan luka infeksi nosokomial. Data yang dikutip dalam studi ini menunjukkan bakteri ini menyebabkan kematian pada 47,9% pasien ICU yang terinfeksi melalui aliran darah.

Yang memperparah situasi: bakteri ini kebal terhadap sejumlah antibiotik lini utama, mulai dari imipenem hingga siprofloksasin. Isolat klinis yang digunakan dalam penelitian ini, termasuk TUH-54 yang diambil dari sekret faring manusia, terbukti resisten terhadap imipenem.

Di sinilah royal jelly masuk ke dalam persamaan. Tim peneliti, yang terdiri dari Prof. Heni bersama Keiji Murakami, Hiromichi Yumoto, dan kolega dari Tokushima University Graduate School, tidak mencari pengganti antibiotik. Mereka mencari cara berbeda untuk memutus rantai infeksi.

Bukan Membunuh, tapi Mencegah Menempel

Pertanyaan utama penelitian ini bukan sekadar “apakah royal jelly bisa membunuh bakteri?” Melainkan: “bisakah ia mencegah bakteri menempel pada sel epitel manusia sejak awal?”

Perlekatan bakteri ke permukaan sel adalah langkah pertama kolonisasi. Tanpa perlekatan, tidak ada infeksi. Tim peneliti menguji royal jelly pada dua jenis sel epitel manusia: Detroit 562 (sel faring) dan NCI-H292 (sel paru). Hasilnya mengejutkan.

“Royal jelly pada konsentrasi 25% hampir sepenuhnya menghambat perlekatan P. aeruginosa pada permukaan abiotik, dengan tingkat inhibisi 99–100%. Bahkan pada konsentrasi serendah 5%, efek penghambatan sudah terdeteksi secara signifikan.”

Mekanisme di baliknya melibatkan komponen glikoprotein dalam royal jelly, khususnya Jelleine-I hingga III, yang diduga memblokir Lectin B, yaitu molekul adhesin yang digunakan bakteri untuk mencengkeram permukaan sel. Tanpa cengkeraman itu, P. aeruginosa kehilangan pijakan pertamanya.

Yang tidak kalah penting: royal jelly tidak bersifat toksik terhadap sel epitel manusia. Uji LDH (lactate dehydrogenase) menunjukkan tidak ada kerusakan sel yang signifikan bahkan setelah paparan 25% royal jelly. Lebih dari itu, royal jelly terbukti memberikan efek protektif fisik pada lapisan sel epitel faring terhadap agen perusak.

Meredam Badai Sitokin

Infeksi P. aeruginosa tidak hanya merusak jaringan secara langsung. Bahaya lainnya datang dari respons imun tubuh sendiri yang berlebihan, sebuah fenomena yang kini lebih dikenal luas sebagai “badai sitokin.”

Dalam studi ini, bakteri terbukti memicu produksi berlebihan IL-8 dan CCL20 di sel epitel, dua molekul sinyal peradangan yang menarik neutrofil dan limfosit secara masif ke lokasi infeksi. Peradangan yang tidak terkontrol inilah yang menyebabkan kerusakan jaringan jangka panjang.

Pretreatment sel epitel dengan royal jelly selama hanya 30 menit sebelum paparan bakteri secara signifikan menekan produksi IL-8 dan CCL20, baik di tingkat protein maupun ekspresi mRNA. Efek ini terdeteksi secara konsisten pada kedua galur bakteri yang diuji, PAO1 (galur liar standar) dan TUH-54 (isolat klinis resisten).

Temuan ini memperkuat studi sebelumnya yang menunjukkan royal jelly mampu menekan IL-6 dan kemokin lain pada sel ligamen periodontal, memperluas spektrum potensi anti-inflamasinya ke jaringan pernapasan.

Dari Sarang Lebah ke Meja Riset Klinis

Penelitian ini didukung oleh Fellowship Fund for Foreign Researcher dan Fujii-Otsuka Fund for International Education and Research Exchanges, yang memungkinkan Prof. Heni berkolaborasi langsung di Tokushima antara 2014 dan 2015. Studi ini juga mendapat dukungan dari JSPS KAKENHI Grant JP 17K11708.

Para peneliti menegaskan royal jelly tidak dimaksudkan sebagai pengganti antibiotik. Ia lebih tepat diposisikan sebagai suplemen komplementer, sebuah lapisan pertahanan tambahan yang bekerja di hulu, sebelum bakteri sempat berpijak dan memicu kaskade inflamasi.

Pertanyaan yang tersisa justru menjadi agenda riset berikutnya: komponen spesifik mana dalam royal jelly yang paling bertanggung jawab atas efek antiadhesi ini? Bagaimana pengaruhnya terhadap flagela dan pili P. aeruginosa, dua alat perlekatan lain yang belum diteliti? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu bisa menentukan apakah produk sarang lebah ini suatu hari akan menemukan tempat di formularium medis modern.

Sumber DOI : https://doi.org/10.1155/2017/3191752

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
16 Juli 2026

Pemanfaatan Cangkang Udang untuk Tingkatkan Keberhasilan Perawatan Saluran Akar

16 Juli 2026

Kulit Bawang Merah Melawan Bakteri Mulut: Temuan Menarik dari Laboratorium FKG UGM

16 Juli 2026

Gigi Susu Rontok, Lidah Pun Bergeser: Temuan Mengejutkan dari TK-TK di Kulon Progo

id_ID