Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 10, SDG 11, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Gigi Susu Rontok, Lidah Pun Bergeser: Temuan Mengejutkan dari TK-TK di Kulon Progo

Delapan dari sepuluh anak. Itulah angka yang muncul dari klinik-klinik kecil di enam taman kanak-kanak Kecamatan Wates, Kulon Progo, ketika para peneliti mulai memeriksa satu per satu cara anak-anak itu menelan. Hasilnya jauh melampaui perkiraan awal: 80,21 persen anak yang kehilangan keempat mahkota gigi desidui anterior atas ternyata memiliki kebiasaan tongue thrusting, dorongan lidah ke depan saat menelan yang seharusnya sudah lenyap sejak usia tiga tahun.

Penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran edisi Desember 2025 ini merupakan studi klinis pertama yang secara langsung membuktikan kaitan antara kehilangan mahkota gigi susu anterior atas dan munculnya kebiasaan tongue thrusting pada anak usia 4–6 tahun. Tim peneliti terdiri dari drg. Suci Kurniawati, drg. Putri Kusuma Wardani Mahendra, M.Kes., Sp.KGA., dan drg. Indra Bramanti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada.

Ketika Lidah Mencari Penopang yang Hilang

Tongue thrusting bukan sekadar kebiasaan buruk yang sepele. Secara klinis, kondisi ini ditandai dengan pergerakan lidah yang dominan ke arah depan, menyusup di antara gigi atas dan bawah saat berbicara maupun menelan. Pada bayi dan anak di bawah tiga tahun, pola ini masih dianggap normal, bagian dari mekanisme menelan primitif yang disebut infantile swallowing. Namun setelah usia tiga tahun, pola menelan seharusnya telah matang: lidah bergerak ke atas menyentuh langit-langit, bukan terdorong ke depan.

Yang terjadi pada anak-anak dengan gigi depan yang telah hancur oleh karies atau trauma adalah sesuatu yang logis secara anatomis, sekaligus mengkhawatirkan secara klinis. Gigi desidui anterior berfungsi sebagai seal, penutup alami bagian depan rongga mulut saat menelan. Begitu mahkota gigi itu hilang, terbentuk celah yang mirip dengan open bite anterior. Lidah, dengan kemampuan adaptasinya yang luar biasa, bergerak mengisi celah itu, menggantikan peran gigi yang sudah tidak ada.

Masalahnya, adaptasi ini justru melanggengkan pola menelan yang seharusnya sudah ditinggalkan.

192 Anak, Dua Kelompok, Satu Perbedaan Mencolok

Penelitian berlangsung dari Juni hingga Agustus 2024 dengan melibatkan 192 anak usia 4–6 tahun. Sebanyak 96 anak yang kehilangan keempat mahkota gigi insisivus desidui atas dikelompokkan bersama 96 anak dengan mahkota gigi anterior atas yang masih utuh. Pemeriksaan tongue thrusting dilakukan menggunakan metode Weiss dan Van Houten: anak diminta menelan sekitar 10 ml air, sementara operator mengamati pergerakan lidah dengan membuka bibir bawah anak secara lembut, sekaligus merasakan aktivitas otot masseter.

Kontrasnya tajam. Pada kelompok dengan gigi utuh, hanya 21,88 persen yang menunjukkan tongue thrusting. Sementara pada kelompok yang kehilangan mahkota gigi, angkanya melonjak ke 80,21 persen. Uji chi-square mengonfirmasi perbedaan ini signifikan secara statistik dengan nilai p=0,001.

“Kehilangan mahkota gigi desidui anterior atas dapat mengganggu fungsi gigi anterior yang berperan sebagai seal pada proses penelanan. Hal ini menyebabkan kesulitan untuk menutup bagian depan mulut saat menelan, sehingga lidah ditempatkan di antara regio anterior atas dan bawah bertemu dengan bibir membentuk pola menelan tongue thrust.”

Temuan ini menarik justru karena sebelumnya debat soal kaitan ini hanya bersandar pada kajian teoritis dan pendapat ahli. Studi-studi terdahulu, termasuk yang dikutip dari Moss dan Maccardo, mengandalkan data rekam medis sekunder tanpa pemeriksaan klinis langsung. Penelitian dari Kulon Progo ini mengisi celah tersebut.

Bukan Satu-satunya Penyebab, tapi Faktor yang Tidak Bisa Diabaikan

Ada dua temuan tambahan yang memperkaya gambaran ini. Pertama, sebanyak 19,79 persen anak dengan gigi yang hilang ternyata tidak menunjukkan tongue thrusting. Para peneliti menduga ini terjadi karena kehilangan gigi yang baru berlangsung singkat, atau karena perkembangan orofasial anak tersebut telah cukup matang sehingga otot-otot penelanannya sudah tidak bergantung pada keberadaan gigi anterior.

Kedua, 21,88 persen anak dengan gigi utuh tetap menunjukkan tongue thrusting. Ini mengingatkan bahwa kondisi ini bersifat multifaktorial. Gangguan pernapasan, tonsilitis kronis, alergi, makroglosia, lengkung rahang yang sempit, hingga keterlambatan perkembangan neuromuskuler semuanya bisa memicu kebiasaan yang sama. Bahkan cerebral palsy dan bruxism tercatat sebagai faktor risiko.

Dengan kata lain, kehilangan gigi susu anterior bukan satu-satunya jalan menuju tongue thrusting, tetapi ia adalah salah satu jalan yang paling mudah dilalui dan paling bisa dicegah.

Pesan untuk Orang Tua dan Dokter Gigi

Implikasi klinis dari penelitian drg. Putri Kusuma Wardani Mahendra, M.Kes., Sp.KGA. dan tim ini cukup tegas: mempertahankan mahkota gigi desidui anterior atas bukan sekadar soal estetika atau kepercayaan diri anak. Ini soal menjaga arsitektur fungsional rongga mulut agar pola menelan yang matang dapat berkembang dengan baik.

Bila tongue thrusting dibiarkan berlanjut, konsekuensinya bisa panjang: open bite anterior, proklinasi gigi insisivus maksila, gangguan bicara, hingga maloklusi yang membutuhkan perawatan ortodontik bertahun-tahun. Alat seperti fixed tongue crib memang tersedia untuk mengoreksi kebiasaan ini, tetapi tentu lebih bijak mencegah celah itu terbentuk sejak awal.

Di balik angka-angka dari enam TK di Kulon Progo itu, ada sebuah pengingat sederhana yang kadang luput dari perhatian: gigi susu yang berlubang dan dibiarkan hancur bukan hanya meninggalkan bekas pada senyum anak, tetapi juga pada cara lidahnya bergerak, mungkin untuk bertahun-tahun ke depan.

Sumber DOI : http://10.24198/jkg.v37i3.60704

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
16 Juli 2026

Tumor Langka di Rahang: CBCT Ungkap Sementoblastoma Tahap Awal yang Nyaris Terlewat

16 Juli 2026

Akar yang Kembali Tumbuh: Revaskularisasi Selamatkan Gigi Molar Anak 12 Tahun

16 Juli 2026

Stent Jantung di Bawah Tuduhan: Apa yang Terjadi Saat Logam Larut dalam Darah?

id_ID