Sadarkah Anda bahwa rutinitas sederhana menggosok gigi setiap pagi ternyata menyisakan ancaman besar bagi bumi? Setiap tahun, miliaran sikat gigi plastik konvensional dibuang begitu saja. Karena sifatnya yang tidak dapat terurai, sampah sikat gigi ini berakhir mencemari ekosistem laut dan darat menjadi mikroplastik berbahaya.
Melihat siklus pembuangan yang langsung merusak lingkungan ini, sekelompok mahasiswa peserta Dental Summer Course 2026 inovator muda meluncurkan sebuah terobosan hijau bernama BRUSH. Karya inovatif ini dipaparkan dalam ajang presentasi ilmiah yang digelar di Gedung Dental Learning Center (DLC) UGM pada kamis,16 Juli 2026.
Alih-alih bergantung pada bahan bakar fosil, sikat gigi ini justru memanfaatkan limbah pertanian yang melimpah di negara berkembang: sekam padi. “Melalui peralihan ke produk berbasis sekam padi, kita dapat mempraktikkan pemanfaatan limbah menjadi sumber daya yang berharga,” ujar salah satu perwakilan Kelompok Empat.
Strategi Edukasi dan 4 Tahapan Implementasi
Kelompok Empat menyadari bahwa produk yang ramah lingkungan tidak akan menjamin perubahan perilaku masyarakat jangka panjang jika tidak dibarengi dengan edukasi yang matang. Oleh karena itu, mereka memperkenalkan strategi implementasi dalam 4 tahap:
- Pengembangan Produk: Mengolah limbah sekam padi mentah menjadi produk sikat gigi yang siap pakai.
- Pelatihan Duta (Ambassador): Melatih mahasiswa kedokteran gigi dan tenaga medis agar siap mempromosikan praktik kedokteran gigi yang berkelanjutan.
- Penyebaran ke Komunitas: Melaksanakan program edukasi dan membagikan sampel produk langsung kepada masyarakat.
- Evaluasi: Menilai tingkat penerimaan masyarakat, peningkatan pengetahuan mereka, serta mengumpulkan umpan balik.

Menjawab Keraguan Audiens dan Juri: Masalah Higienitas & Keunggulan
Sesi tanya jawab di Gedung DLC UGM berlangsung cukup seru saat audiens dan dewan juri melontarkan pertanyaan kritis. Devina, salah satu audiens, mempertanyakan tingkat kebersihan sikat gigi ini. Mengingat sekam padi memiliki permukaan yang berpori, ada kekhawatiran gagang sikat gigi akan mudah ditumbuhi bakteri atau jamur saat basah, berbeda dengan plastik yang tidak berpori.
Perwakilan kelompok langsung menepis kekhawatiran tersebut dengan data ilmiah. “Sekam padi secara alami mengandung 20 hingga 25 persen silika alami yang berfungsi memperkuat material dan memiliki sifat penyerapan air yang sangat rendah,” jelasnya. Selain itu, selama proses manufaktur, bahan bio-komposit ini dilapisi dengan lapisan hidrofobik (anti-air) yang aman untuk makanan agar gagang cepat kering setelah digunakan dan mencegah kuman berkembang biak.
Di sisi lain, dewan juri juga sempat mengejar perihal kebaruan (novelty) dan keunggulan sikat sekam padi ini dibanding sikat bambu yang sudah marak di pasaran.
Dengan lugas, tim inovator menjelaskan bahwa kekuatan utama produk mereka terletak pada pemanfaatan limbah lokal. “Negara kita menghasilkan jutaan ton limbah sekam padi setiap tahunnya. Salah satu fungsi sekam, kami mendaur ulangnya menjadi produk kebersihan mulut yang berkelanjutan,” tegas perwakilan tim. “Brush! Make nature design for smile!”
(Reporter: Nanda, Andri Wicaksono, Foto: Andri Wicaksono )