Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Tumor Langka di Rahang: CBCT Ungkap Sementoblastoma Tahap Awal yang Nyaris Terlewat

Seorang perempuan berusia 32 tahun datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjajaran dengan keluhan yang tampaknya biasa: gusinya membengkak di sisi kiri rahang bawah. Pembengkakan itu sudah disadarinya sekitar tiga bulan, tumbuh perlahan, dan tidak terasa nyeri sama sekali. Dokter gigi yang memeriksanya semula menduga osteoma, lalu merujuknya untuk pemeriksaan lanjutan. Keputusan itulah yang akhirnya mengubah segalanya.

Laporan kasus yang ditulis oleh drg. Rellyca Sola Gracea, Sp. RKG. Subsp. RDP (K) dari Departemen Radiologi Kedokteran Gigi FKG Universitas Gadjah Mada bersama koleganya dari Universitas Padjajaran, Ria Noerianingsih Firman, dipublikasikan dalam Jurnal Radiologi Dentomaksilofasial Indonesia edisi Desember 2019. Kasus ini menjadi penting bukan sekadar karena langkanya tumor yang ditemukan, melainkan karena ia memperlihatkan bagaimana teknologi pencitraan tiga dimensi mampu menangkap detail yang tidak akan terlihat pada foto rontgen biasa.

Tumor yang Bersembunyi di Balik Gambaran yang Tidak Biasa

Sementoblastoma adalah tumor jinak yang mewakili kurang dari satu persen dari seluruh tumor odontogenik. Tumor ini berasal dari jaringan ektomesenkim dan berkembang dari jaringan yang menyerupai sementum, yaitu lapisan keras yang melapisi akar gigi. Lokasi tersering: rahang bawah, di regio premolar dan molar.

Gambaran radiografis klasiknya sudah dikenal luas: lesi radiopak berbentuk bulat, berbatas jelas, dikelilingi halo radiolusen yang khas. Namun pada kasus ini, gambarannya berbeda. Hasil pemeriksaan cone beam computed tomography (CBCT) menunjukkan lesi berbentuk bulat dengan densitas yang lebih rendah dari biasanya, bukan radiopak penuh, melainkan radiointermediet. Pola radial yang sering menjadi penanda khas pun tidak tampak.

Mengapa? Karena lesi ini masih dalam tahap awal perkembangan.

Sementoblastoma memang berkembang secara bertahap: dimulai dari gambaran radiolusen, lalu campuran radiolusen dan radiopak, baru kemudian menjadi radiopak penuh saat sudah matur. Pada kasus ini, mineralisasi belum selesai, sehingga densitas lesi masih rendah dan pengukuran pada CBCT hanya menunjukkan nilai rata-rata 372,2 pixel values.

Ketika Foto 2D Tidak Cukup

Di sinilah peran CBCT menjadi krusial. Pada radiografi konvensional dua dimensi seperti panoramik atau periapikal, lesi tahap awal seperti ini mudah tumpang tindih dengan struktur anatomi sekitarnya. Superimposisi citra menjadi masalah klasik yang bisa membuat diagnosis meleset.

CBCT memungkinkan rekonstruksi multiplanar, yakni potongan koronal, sagital, dan aksial, yang masing-masing memberikan informasi berbeda namun saling melengkapi. Dari potongan koronal, terlihat lesi mengalami ekspansi ke arah bukal dan menyebabkan penipisan tulang kortikal. Dari potongan sagital, ukuran lesi terukur: 8,4 mm x 9,5 mm. Dari potongan aksial, tampak lesi menempel langsung pada akar gigi 44.

Yang paling menentukan adalah fitur inverted view pada potongan koronal. Dengan mengaktifkan mode ini, terlihat jelas bahwa lesi melekat langsung pada akar gigi, tanpa ada ruang ligamen periodontal maupun lamina dura yang memisahkan lesi dari sementum. Tidak ada celah. Inilah pembeda utama antara sementoblastoma dan osteoblastoma, yang secara histopatologis sangat mirip namun secara radiografis masih memperlihatkan celah antara lesi dan gigi.

“Dengan pemeriksaan CBCT, dapat dinilai keterlibatan lesi sementoblastoma terhadap gigi yang terlibat, batas tepi lesi, dan perluasan lesi, sehingga praktisi atau klinisi dapat lebih terbantu dalam menyimpulkan diagnosis sementoblastoma dengan melihat ciri khas pada radiograf.”

Diagnosis Klinis yang Mengandalkan Mata Terlatih

Pemeriksaan klinis pada pasien ini memang sudah memberi petunjuk awal: pembengkakan keras di regio bukal gigi 44-45, warna jaringan lunak sama seperti jaringan sekitarnya, tidak ada karies, dan kedua gigi terbukti masih vital. Gigi yang terlibat sementoblastoma memang umumnya masih vital, kecuali pada kasus-kasus lanjut.

Namun pemeriksaan klinis saja tidak cukup untuk menegakkan diagnosis. Tanpa radiografi, sementoblastoma mudah tertukar dengan osteoma, hipersementosis, cemento-ossifying fibroma, osteoblastoma, atau lesi radiopak lainnya, terutama saat masih dalam tahap awal. Diagnosis final secara histopatologis tetap menjadi standar baku, tetapi pemeriksaan CBCT terbukti mampu memberikan arah diagnosis klinis yang kuat sebelum tindakan bedah dilakukan.

Pasien akhirnya dirujuk ke klinik bedah mulut untuk menjalani enukleasi, pengangkatan tumor bersama gigi yang terlibat, kuretasi, dan ostektomi periferal. Tata laksana ini penting untuk mencegah rekurensi, karena meski jinak, sementoblastoma diketahui dapat bersifat agresif: menyebabkan resorpsi akar, ekspansi tulang, perforasi kortikal, bahkan fraktur patologis pada kasus-kasus tertentu.

Pelajaran dari Satu Kasus yang Hampir Terlewat

Laporan kasus ini bukan hanya tentang tumor langka. Ia adalah pengingat bahwa gambaran radiografis tidak selalu mengikuti buku teks. Lesi tahap awal bisa tampil berbeda dari gambaran klasiknya, dan tanpa teknologi pencitraan yang tepat, diagnosis bisa tertunda hingga lesi berkembang lebih agresif.

Bagi komunitas radiologi kedokteran gigi, temuan ini menegaskan nilai diagnostik CBCT dalam evaluasi lesi-lesi yang tidak khas. Bagi klinisi umum, pesannya lebih sederhana: ketika gambaran klinis dan radiografi 2D tidak memberi jawaban yang memuaskan, langkah selanjutnya bukan menunggu, melainkan merujuk.

Sumber DOI : https://doi.org/10.32793/jrdi.v3i3.446

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
16 Juli 2026

Akar yang Kembali Tumbuh: Revaskularisasi Selamatkan Gigi Molar Anak 12 Tahun

16 Juli 2026

Stent Jantung di Bawah Tuduhan: Apa yang Terjadi Saat Logam Larut dalam Darah?

16 Juli 2026

Racun Bakteri dari Mulut yang Mengacak-acak Sel Hati

id_ID