Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 10, SDG 11, SDG 17, SDG 2, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Apel Menang Lawan Plak: Buah Sederhana, Solusi Nyata untuk Gigi Anak

Setelah mengunyah biskuit cokelat, skor plak gigi anak-anak yang kemudian memakan 50 gram apel turun rata-rata 17,45 poin. Angka itu hampir dua kali lipat dibanding kelompok yang mengunyah pir. Dan jauh melampaui kelompok kontrol yang hanya berkumur air mineral — yang skor plaknya justru naik 2,91 poin.

Temuan ini bukan sekadar angka statistik. Ini adalah pengingat bahwa solusi untuk masalah kesehatan gigi anak kadang tersimpan di keranjang buah, bukan di rak apotek.

Camilan Manis, Ancaman Diam-diam di Balik Senyum Anak

Karies gigi masih menjadi masalah yang membandel di kalangan anak usia sekolah. Data Riset Kesehatan Dasar 2013 mencatat prevalensi penduduk dengan masalah gigi dan mulut meningkat dari 23,2% menjadi 25,9%, dan pada anak usia sekolah angka karies mencapai 60–85%. Salah satu biang keladinya adalah kebiasaan mengemil di antara waktu makan, terutama biskuit berlapis cokelat yang manis dan lengket.

Plak gigi adalah lapisan biofilm lunak yang menempel di permukaan gigi. Ia tidak bisa luruh hanya dengan berkumur air. Sifat lengket cokelat yang berpadu dengan tekstur biskuit membuat akumulasi plak makin mudah terbentuk, terutama pada anak usia 8–10 tahun yang sedang dalam masa gigi bercampur — periode paling kritis dalam perjalanan kesehatan gigi anak.

Pertanyaannya bukan lagi soal apakah anak harus berhenti ngemil. Itu hampir mustahil. Pertanyaan yang lebih realistis: adakah cara sederhana untuk meredam dampaknya?

Dari Laboratorium ke Meja Makan Sekolah

drg. Ignatius Sulistyo Jatmiko, M.Kes., Sp.KGA., dosen dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, mencoba menjawab pertanyaan itu melalui penelitian yang melibatkan 24 siswa kelas III dan IV SDN Jongkang, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.

Desain penelitiannya tergolong ketat: quasi-experimental dengan rancangan pretest-posttest control group dan metode crossover, sehingga setiap anak mendapat giliran mencoba ketiga kondisi perlakuan. Skor plak diukur menggunakan indeks PHP-M modifikasi Martens dan Meskin — metode yang memberi skor berdasarkan distribusi plak di lima zona permukaan tiap gigi indeks.

Hasilnya dipublikasikan dalam Interdental: Jurnal Kedokteran Gigi, Volume 18, edisi Juni 2022.

Mekanisme di balik keunggulan apel cukup menarik secara fisiologis. Uji kekerasan yang dilakukan di Laboratorium Rekayasa Proses dan Pengolahan Pangan Fakultas Teknologi Pertanian UGM menunjukkan bahwa apel memiliki kekerasan 14,13 N, sementara pir hanya 7,39 N. Tekstur yang lebih keras memaksa otot masseter bekerja lebih kuat, yang pada gilirannya merangsang kelenjar parotis memproduksi saliva lebih banyak. Ditambah rasa apel yang lebih asam — rasa asam diketahui merupakan stimulan sekresi saliva paling kuat, mengungguli rasa asin, manis, dan pahit.

Saliva bukan sekadar air liur. Ia mengandung protein, enzim, dan komponen antibakteri yang secara mekanis membantu menyapu debris dan plak dari permukaan gigi. Kandungan air pada apel (85,56 g per 100 g) juga sedikit lebih tinggi dibanding pir (83,71 g), menambah efek pembilasan alami di rongga mulut.

Angka yang Berbicara Sendiri

Hasil analisis one-way ANOVA menunjukkan perbedaan signifikan antar ketiga kelompok (p=0,000). Uji Post-Hoc LSD mempertegas bahwa perbedaan antara kelompok apel dan pir pun bermakna secara statistik (p<0,05).

Selisih skor plak sebelum dan sesudah perlakuan meringkas semuanya dengan jelas:

  • Kelompok mengunyah apel: turun 17,45 ± 1,95
  • Kelompok mengunyah pir: turun 11,58 ± 1,90
  • Kelompok kontrol (hanya air mineral): naik 2,91 ± 1,24

Kelompok kontrol yang skor plaknya justru bertambah menjadi pengingat penting: berkumur air mineral setelah makan biskuit cokelat tidak cukup. Tanpa aksi mekanis — baik dari sikat gigi maupun serat buah — plak terus berakumulasi.

Buah Sebagai Strategi, Bukan Sekadar Pelengkap

Penelitian ini tidak menganjurkan anak berhenti makan biskuit cokelat. Ia menawarkan sesuatu yang lebih pragmatis: biasakan anak memakan buah berserat dan berair setelah mengonsumsi makanan kariogenik.

Apel dan pir mudah didapat, harganya terjangkau, dan tidak memerlukan instruksi rumit. Tidak ada teknik khusus yang perlu dipelajari orang tua atau guru. Cukup sediakan irisan apel setelah jam camilan.

Tentu, ini bukan pengganti sikat gigi dua kali sehari. Kontrol plak secara mekanis melalui menyikat gigi tetap menjadi standar utama. Namun dalam konteks anak sekolah yang sulit dikontrol pola makannya di luar rumah, membiasakan makan buah keras dan berserat setelah camilan manis adalah langkah preventif yang masuk akal — dan terbukti efektif secara ilmiah.

Kadang solusi terbaik memang yang paling sederhana. Ia hanya menunggu untuk dibuktikan.

Sumber DOI : http://10.46862/interdental.v18i1.4314

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
15 Juli 2026

Biji Kelor Melawan Bakteri Pembandel di Saluran Akar Gigi

15 Juli 2026

Ketika Gigi Anak Bisa Bercerita Tentang Usianya

15 Juli 2026

Lubang di Lantai Kamar Pulpa: Perawatan Gigi Justru Menciptakan Masalah Baru

id_ID