Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 12, SDG 15, SDG 17, SDG 3, SDG 9

Gulma Liar yang Menyembuhkan: Kirinyuh dan Rahasia Penyembuhan Luka Cabut Gigi

Bagi kebanyakan orang, kirinyuh hanyalah tanaman pengganggu yang tumbuh liar di pinggir sawah dan ladang. Namun bagi masyarakat Aceh, tumbuhan berbau tajam dari famili Asteraceae ini sudah lama menjadi andalan untuk merawat luka. Kini, sebuah penelitian dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada membuktikan bahwa intuisi leluhur itu bukan sekadar mitos.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of International Dental and Medical Research (Volume 13, Nomor 4, 2020) menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun kirinyuh (Chromolaena odorata) mampu meningkatkan kepadatan serat kolagen pada luka bekas pencabutan gigi secara signifikan. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang digunakan, semakin cepat pula luka itu pulih.

Dari Soket Gigi ke Bawah Mikroskop

Penelitian ini melibatkan 60 ekor marmot jantan (Cavia cobaya) berusia 9 hingga 10 minggu dengan berat badan 300 hingga 350 gram. Hewan-hewan ini dibagi ke dalam lima kelompok: kontrol negatif, kontrol positif (povidone-iodine 10%), serta tiga kelompok perlakuan yang masing-masing menerima ekstrak etanol daun kirinyuh dengan konsentrasi 2,5%, 5%, dan 10%.

Gigi insisivus pertama mandibula setiap marmot dicabut, lalu ekstrak dioleskan secara topikal pada soket luka sekali sehari. Pada hari ke-3, 7, 10, dan 14 pascapencabutan, spesimen jaringan diambil dan diwarnai menggunakan pewarnaan Mallory trichrome, kemudian diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran 400 kali.

Hasilnya membuka mata. Seluruh kelompok perlakuan menunjukkan kepadatan serat kolagen yang lebih tinggi dibanding kelompok kontrol. Kelompok dengan konsentrasi 10% mencatatkan rerata kepadatan kolagen tertinggi pada semua titik pengamatan, mulai hari ke-3 hingga hari ke-14. Analisis statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney mempertegas temuan ini: perbedaan antarkelompok bersifat signifikan (p < 0,05).

Tiga Senyawa, Satu Tujuan

Di balik kemampuan kirinyuh mempercepat penyembuhan luka, ada tiga senyawa aktif yang bekerja secara sinergis: flavonoid, saponin, dan tanin.

Saponin berperan paling langsung dalam pembentukan kolagen. Senyawa ini merangsang sintesis fibronektin, yang pada gilirannya mempercepat migrasi dan proliferasi fibroblas ke area luka. Fibroblas adalah sel mesenkimal yang bertanggung jawab memproduksi kolagen dalam jumlah besar, terutama mulai hari ketiga pascaluka dan mencapai puncaknya pada hari ke-5 hingga ke-7. Saponin juga memiliki aktivitas antiinflamasi dengan menghambat jalur produksi prostaglandin, sehingga fase inflamasi berlangsung lebih singkat dan fase proliferasi dimulai lebih cepat.

Flavonoid, dengan sifat antioksidannya, membantu menjaga integritas sel endotelial pembuluh darah dan mengurangi risiko agregasi. Sementara itu, tanin, sebagai senyawa polifenol bermolekul besar, bekerja sebagai astringen alami yang membantu mempresipitasi protein dan memperkuat jaringan yang sedang dalam proses penyembuhan.

Peneliti utama, drg. Yosaphat Bayu Rosanto, MDSc, Sp.BMM, dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG UGM, bersama tim menegaskan bahwa konsentrasi yang digunakan dalam penelitian ini tergolong aman secara toksikologis.

“Ekstrak etanol daun kirinyuh dapat meningkatkan kepadatan serat kolagen pada luka pascapencabutan gigi, dan ekstrak kirinyuh 10% memiliki laju peningkatan kepadatan serat kolagen tertinggi.”

Uji toksisitas sebelumnya menunjukkan bahwa dosis lethal 50 (LD50) ekstrak daun kirinyuh berada di angka 14,1416 g/kg berat badan, sehingga konsentrasi 2,5%, 5%, dan 10% yang digunakan dalam penelitian ini masih jauh di bawah ambang berbahaya.

Hari ke-14: Ketika Kolagen Bersiap Jadi Tulang

Pengamatan histologis pada hari ke-14 mengungkap sesuatu yang menarik. Pada kelompok perlakuan 10%, serat kolagen tidak hanya lebih padat, tetapi juga telah mengalami mineralisasi yang lebih luas dibanding kelompok lain. Ini menandai dimulainya tahap pertama regenerasi tulang alveolar, di mana kolagen yang matang mulai bertransformasi menjadi matriks tulang yang lebih keras.

Proses ini sejalan dengan mekanisme biologis yang sudah diketahui: osteoblas, yang juga berasal dari sel mesenkimal, mensintesis kolagen tipe 1 dan glikosaminoglikan sebagai bagian dari proses mineralisasi tulang. Fase maturasi kolagen sendiri baru dimulai dua hingga tiga minggu setelah luka terjadi, ketika keseimbangan antara deposisi dan degradasi kolagen mulai tercapai.

Pencabutan gigi, meski terkesan prosedur sederhana, menyisakan luka yang membutuhkan proses penyembuhan kompleks dan berlapis. Komplikasi seperti dry socket, infeksi, atau penyembuhan yang lambat masih menjadi tantangan nyata dalam praktik klinis sehari-hari. Temuan ini membuka kemungkinan bahwa tanaman yang selama ini dianggap hama justru menyimpan potensi terapeutik yang belum sepenuhnya dieksplorasi. Kirinyuh mungkin belum akan segera hadir di lemari obat klinik gigi, tetapi perjalanannya dari gulma ke gel terapeutik sudah dimulai.

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
15 Juli 2026

Wajah yang Bercerita: Membaca Tanda Talasemia dari Profil Lateral Anak Jawa

15 Juli 2026

Gigi yang Hampir Hilang Diselamatkan dengan Cangkok Tulang dan Material Bioaktif

15 Juli 2026

Ketika Gigi Hitam Bisa Kembali Putih: Kisah Internal Bleaching dan Restorasi Porselen

id_ID