Dua gigi seri atas seorang perempuan 37 tahun itu berubah menjadi kehitaman, terutama di bagian leher gigi. Bukan karena kopi atau teh, bukan pula karena malas sikat gigi. Gigi-gigi itu pernah dirawat saluran akarnya tiga tahun sebelumnya, dan kini mereka membawa bekas yang tampak nyata di wajah pemakainya. Pertanyaannya sederhana namun mendesak: apakah ada cara untuk mengembalikan warnanya tanpa harus mengasah habis mahkota gigi yang masih utuh?
Laporan kasus yang dipublikasikan dalam jurnal kedokteran gigi ini menawarkan jawaban yang menarik, sekaligus membuka wawasan tentang dua pendekatan modern dalam estetika gigi: internal bleaching untuk gigi non-vital dan restorasi onlay all-porcelain untuk gigi yang kehilangan tumpatan. Keduanya menempatkan nilai estetik bukan sebagai kemewahan, melainkan sebagai bagian integral dari keberhasilan perawatan.
Darah di Dalam Dentin
Perubahan warna pada gigi non-vital bukan sekadar persoalan penampilan. Ada proses biokimia yang berlangsung di baliknya. Ketika pulpa mati, darah meresap ke dalam tubuli dentin. Sel darah merah mengalami hemolisis, melepaskan hemoglobin, yang kemudian terdegradasi menjadi pigmen besi (Fe²⁺) lalu berubah menjadi FeSO₄. Hasilnya: warna kecoklatan hingga kehitaman yang muncul beberapa bulan setelah perawatan endodontik selesai.
Kondisi inilah yang dialami pasien dalam laporan kasus ini. Pemeriksaan klinis dengan panduan warna Vita Master menunjukkan gigi #11 dan #21 berada di kode warna C4, dengan bercak kehitaman pekat di area servikal. Sementara gigi tetangganya, gigi #12, berwarna A3 yang jauh lebih cerah. Foto radiologis mengonfirmasi bahwa pengisian saluran akar masih baik dan tidak ada kelainan periapikal. Artinya, masalahnya bukan pada akar, melainkan pada warna.
Pilihan perawatannya adalah internal bleaching dengan teknik walking bleach, metode yang pertama kali diperkenalkan oleh Spasser pada 1961. Bahan bleaching yang digunakan adalah superoxol, larutan hidrogen peroksida dengan konsentrasi 30–35%. Material ini dimasukkan langsung ke dalam ruang pulpa, lalu ditutup rapat dengan semen ionomer kaca untuk mencegah kebocoran.
“Perawatan yang dapat dilakukan untuk mengembalikan warna gigi semula tanpa melakukan pengurangan berlebihan terhadap mahkota gigi adalah dengan internal bleaching.” — Diana Soesilo, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hang Tuah Surabaya
Mekanismenya bekerja melalui reaksi oksidasi. Hidrogen peroksida memiliki berat molekul rendah sehingga mampu berpenetrasi ke dalam enamel dan dentin. Dalam kondisi pH alkalis sekitar 9,5–10,8, ia menghasilkan radikal bebas perhidroksil (HO₂) yang bereaksi dengan molekul pigmen, memecah ikatan kimia penyebab warna gelap, dan mengecilkan molekul enamel sehingga gigi tampak lebih cerah dan mengkilap.
Hasilnya tidak instan, tapi konsisten. Pada kunjungan pertama warna masih C4, meski bercak servikal mulai memudar. Kunjungan ketiga menunjukkan perubahan signifikan ke warna A3,5. Kunjungan keempat, gigi berhasil mencapai A3, warna yang sama dengan gigi tetangganya. Empat minggu, empat kunjungan, tanpa pengasahan mahkota gigi sama sekali.
Porselen Tanpa Logam, Estetik Tanpa Kompromi
Kasus kedua datang dari seorang pria berusia 55 tahun dengan keluhan berbeda: tumpatan gigi molar kiri bawahnya lepas, dan gigi terasa ngilu saat makan dan minum dingin. Diagnosis klinis menunjukkan pulpitis reversibel. Gigi masih bisa diselamatkan, namun memerlukan perawatan pulp capping sebelum direstorasi.
Yang menarik dari kasus ini bukan hanya prosedurnya, melainkan pilihan bahannya. Dokter gigi memutuskan menggunakan restorasi onlay all-porcelain, tanpa lapisan logam sama sekali. Ini berbeda dari restorasi porcelain fused to metal (PFM) yang selama ini lazim digunakan, di mana warna logam di bawah porselen kerap mengurangi nilai estetik dan dapat memicu hipersensitivitas pada sebagian pasien.
Porselen murni memiliki sejumlah keunggulan yang signifikan. Biokompatibilitasnya baik di dalam rongga mulut. Kekuatan flexural-nya mencapai 140–1.300 MPa, mampu menahan tekanan kunyah pada gigi posterior. Permukaannya yang halus tidak porus sehingga bakteri sulit melekat, mengurangi risiko akumulasi plak dan karies sekunder. Selain itu, translusensi dan warnanya mudah disesuaikan sehingga hasilnya nyaris tak bisa dibedakan dari gigi asli.
Observasi selama lima tahun pada pasien ini tidak menunjukkan keluhan apa pun, baik secara fungsional maupun estetik. Tidak ada perubahan warna, tidak ada keretakan, tidak ada karies sekunder.
Estetik Bukan Sekadar Kecantikan
Prof. drg. Sri Kuswandari, MS., Sp.KGA., Ph.D. menekankan bahwa kesehatan gigi dan mulut tidak bisa dipisahkan dari aspek psikososial pasien, termasuk kepercayaan diri yang dipengaruhi oleh penampilan gigi. Kedua laporan kasus ini mengafirmasi perspektif tersebut: perubahan warna gigi yang dibiarkan bukan hanya memengaruhi estetika, tetapi juga kualitas hidup pemiliknya.
Survei yang dikutip dalam studi ini mencatat bahwa 28–34% pasien menyukai gigi putih dan menyetujui perawatan pemutihan. Angka itu mungkin terlihat kecil, namun maknanya jauh lebih besar jika kita membayangkan seseorang yang enggan tersenyum karena dua gigi depannya berwarna kehitaman, atau yang menghindari makan bersama karena gigi molarnya berlubang dan tidak sedap dipandang.
Kemajuan dalam internal bleaching dan restorasi berbahan porselen menunjukkan bahwa kedokteran gigi modern tidak lagi harus memilih antara fungsi dan penampilan. Keduanya bisa berjalan beriringan, dengan teknik yang semakin minim invasif dan bahan yang semakin menyerupai kondisi alami gigi.
Gigi yang putih, dalam hal ini, bukan sekadar simbol kecantikan seperti yang dipercaya budaya kuno. Ia adalah penanda bahwa sebuah perawatan benar-benar selesai dengan tuntas.
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels