Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

CPP-ACP Berfluoride Terbukti Kurangi Bakteri dan Kekasaran Enamel Pascablaching

Prosedur pemutihan gigi atau bleaching memang menghasilkan senyum lebih cerah, tapi ada konsekuensi yang kerap luput dari perhatian: permukaan enamel menjadi lebih kasar, lebih rentan terhadap bakteri, dan lebih mudah mengalami demineralisasi. Dr. drg. Yulita Kristanti, M.Kes., Sp.KG(K), peneliti dari Departemen Ilmu Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, bersama tim lintas departemen, menjawab kekhawatiran itu lewat sebuah penelitian yang hasilnya dipublikasikan dalam Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) edisi Desember 2013. Penelitian mereka membuktikan bahwa aplikasi bahan desensitisasi CPP-ACP (Casein Phospho Peptide-Amorphous Calcium Phosphate) yang mengandung fluoride, bila diberikan sebelum dan sesudah prosedur bleaching di klinik, secara signifikan mampu mengurangi penempelan bakteri Streptococcus mutans sekaligus menurunkan kekasaran permukaan enamel.

Keinginan memiliki gigi putih mendorong banyak orang datang ke dokter gigi untuk menjalani prosedur in-office bleaching, yaitu pemutihan gigi yang dilakukan langsung oleh dokter menggunakan gel hidrogen peroksida berkonsentrasi tinggi. Dibanding metode yang dilakukan sendiri di rumah, prosedur ini lebih cepat dan hasilnya lebih terlihat. Namun, konsentrasi bahan yang tinggi inilah yang menjadi sumber masalah.

Gel hidrogen peroksida 40% yang dipakai dalam prosedur tersebut bekerja dengan mengoksidasi pigmen di dalam enamel dan dentin. Proses ini efektif memutihkan gigi, tetapi sekaligus mengikis mineral pada lapisan enamel. Akibatnya, permukaan enamel menjadi lebih berpori dan kasar. Permukaan yang kasar inilah yang kemudian menjadi tempat tinggal ideal bagi Streptococcus mutans (S. mutans), bakteri utama penyebab karies atau gigi berlubang. Semakin kasar permukaan enamel, semakin banyak koloni bakteri yang bisa menempel dan berkembang.

Kondisi ini menjadi dilema: pasien ingin gigi putih, tapi prosedur pemutihan justru membuka jalan bagi kerusakan gigi lebih lanjut. Di sinilah penelitian Dr. Yulita dan tim menemukan relevansinya. Tim peneliti menggunakan enam gigi premolar atas yang telah dicabut sebagai sampel. Setiap gigi dipotong menjadi empat bagian, sehingga total terdapat 24 spesimen yang dibagi ke dalam empat kelompok perlakuan.

Kelompok A mendapat aplikasi CPP-ACP tanpa fluoride hanya sesudah bleaching. Kelompok B mendapat CPP-ACP tanpa fluoride sebelum dan sesudah bleaching. Kelompok C mendapat CPP-ACP yang mengandung fluoride, tetapi hanya sesudah bleaching. Kelompok D mendapat CPP-ACP berfluoride dua kali, yaitu sebelum dan sesudah prosedur bleaching.

Setelah perlakuan, semua spesimen direndam dalam saliva manusia steril selama satu jam, lalu dipaparkan pada suspensi S. mutans dengan kepadatan 10⁸ CFU dan diinkubasi selama 24 jam. Koloni bakteri yang tumbuh kemudian dihitung, dan permukaan enamel diperiksa menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) dengan perbesaran 2000 kali untuk melihat perubahan tekstur permukaan secara langsung.

Hasil pengujian menunjukkan pola yang konsisten. Kelompok A, yang hanya mendapat CPP-ACP tanpa fluoride sesudah bleaching, mencatatkan jumlah koloni S. mutans tertinggi dan permukaan enamel paling kasar. Foto SEM memperlihatkan banyak pori, pinggiran prisma enamel yang larut, dan substansi interprismatik yang terkikis.

Sebaliknya, kelompok D, yang mendapat CPP-ACP berfluoride dua kali, menunjukkan hasil terbaik. Permukaan enamel terlihat lebih padat dengan deposit mineral yang lebih merata, dan jumlah koloni S. mutans yang menempel paling sedikit di antara semua kelompok.

“Aplikasi CPP-ACP mengandung fluor sebelum dan sesudah bleaching efektif mengurangi akumulasi S. mutans dan kekasaran pada permukaan enamel.” Yulita Kristanti dkk., Dental Journal, 2013

Uji statistik ANOVA satu arah mengonfirmasi perbedaan yang signifikan antara kelompok-kelompok tersebut (p<0,005). Satu-satunya pengecualian adalah perbandingan antara kelompok A dan C, yang tidak menunjukkan perbedaan bermakna. Para peneliti menduga hal ini terjadi karena konsentrasi fluoride dalam aplikasi tunggal kelompok C, yaitu 900 ppm, masih berada di bawah ambang batas efektif. Bandingkan dengan kelompok D yang mendapat dua kali aplikasi sehingga total fluoride yang tersampaikan mencapai 1800 ppm.

Fluoride bekerja bukan hanya dengan meremineralisasi enamel, tetapi juga dengan menghambat enzim glucosyltransferase yang diproduksi S. mutans, yakni enzim yang membantu bakteri membentuk plak dan menempel pada permukaan gigi. Tanpa enzim ini, kemampuan bakteri untuk berkoloni menjadi berkurang drastis.

Temuan ini membawa pesan praktis yang jelas bagi dokter gigi maupun pasien. Prosedur bleaching tidak harus berhenti di satu langkah. Pemberian bahan remineralisasi CPP-ACP berfluoride, baik sebelum maupun sesudah tindakan pemutihan gigi, bisa menjadi protokol standar yang melindungi pasien dari efek samping yang sering diabaikan.

Penelitian ini juga membuka pertanyaan lebih lanjut soal dosis fluoride yang optimal. Para peneliti mencatat bahwa konsentrasi 5000 ppm terbukti lebih efektif dibanding 1500 ppm dalam meningkatkan remineralisasi, namun formulasi yang tepat dan aman masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan. Satu hal yang sudah pasti, gigi yang terlihat putih belum tentu gigi yang terlindungi, kecuali ada langkah aktif untuk memulihkan integritas mineral enamelnya.

Penulis : drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes., Annisa Dwi Noviyanti

Foto : FreePik

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
15 Juli 2026

Wajah yang Bercerita: Membaca Tanda Talasemia dari Profil Lateral Anak Jawa

15 Juli 2026

Gigi yang Hampir Hilang Diselamatkan dengan Cangkok Tulang dan Material Bioaktif

15 Juli 2026

Ketika Gigi Hitam Bisa Kembali Putih: Kisah Internal Bleaching dan Restorasi Porselen

id_ID