Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 10, SDG 12, SDG 15, SDG 3, SDG 9

Getah Pisang Raja di Soket Gigi: Kearifan Lokal yang Terbukti Secara Ilmiah

Di desa-desa Jawa, orang tua kerap menempelkan getah batang pisang pada luka sebagai pertolongan pertama. Praktik itu dianggap tahayul oleh sebagian kalangan medis. Namun sebuah penelitian dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada membuktikan bahwa keyakinan turun-temurun itu memiliki dasar biologis yang kuat, setidaknya untuk luka pasca pencabutan gigi.

drg. Yosaphat Bayu Rosanto, MDSc, Sp.BMM, bersama Juni Handajani dan Heni Susilowati dari Bagian Biologi Mulut FKG UGM, menerbitkan temuan mereka di Dentika Dental Journal edisi Juli 2012. Hasilnya cukup mengejutkan: gel getah batang pisang raja (Musa sapientum) konsentrasi 80% yang dioleskan secara topikal pada soket gigi marmut mampu mempercepat pembentukan serabut kolagen secara signifikan dibandingkan iod gliserin, yang selama ini menjadi standar klinis.

Dari Dapur Nenek ke Laboratorium

Pisang raja dipilih bukan tanpa alasan. Dibanding jenis pisang lain, batang pisang raja menghasilkan getah dalam volume lebih besar. Getah itu mengandung empat senyawa utama: saponin, flavonoid, vitamin C, dan tanin. Keempatnya bukan sekadar nama kimia dalam daftar kandungan. Masing-masing punya peran spesifik dalam kaskade penyembuhan luka.

Tanin mempercepat migrasi sel inflamasi dan merangsang proliferasi sel baru. Saponin membantu koagulasi sel darah merah dan memacu pembentukan pembuluh darah baru. Flavonoid bekerja sebagai antiinflamasi sekaligus antibakteri. Adapun vitamin C, sebagai antioksidan, menghambat ekspresi enzim MMP-1 pada fibroblas, enzim yang justru mendegradasi kolagen jika tidak dikendalikan.

Tim peneliti merancang studi eksperimental kuasi dengan 54 ekor marmut jantan (Cavia cobaya) berusia 3-4 bulan. Hewan-hewan ini dibagi tiga kelompok: kelompok perlakuan (gel getah pisang 80%), kontrol positif (iod gliserin), dan kontrol negatif (CMC-Na). Pencabutan dilakukan pada gigi insisivus sentralis kiri rahang bawah. Setelah perlakuan, jaringan soket diambil pada hari ke-1, 3, 5, 7, 14, dan 24 untuk dibuat preparat histologis dengan pengecatan Mallory, lalu diamati di bawah mikroskop cahaya.

Tujuh Hari yang Menentukan

Pada hari pertama, belum ada serabut kolagen yang terbentuk di ketiga kelompok. Ini normal: tubuh masih dalam fase inflamasi awal, sibuk menghentikan perdarahan dan membersihkan debris jaringan.

Memasuki hari ketiga, perbedaan mulai terlihat. Serabut kolagen tipis mulai muncul di soket, dan kelompok yang mendapat gel getah pisang menunjukkan ketebalan yang lebih tinggi dibanding kedua kelompok kontrol. Perbedaan ini terus membesar hingga hari ketujuh, saat kepadatan serabut kolagen pada kelompok perlakuan mencapai skor tertinggi dalam skala pengamatan.

“Aplikasi topikal gel getah pisang 80% dapat mempercepat pembentukan serabut kolagen pada proses penyembuhan luka soket gigi marmut pasca pencabutan gigi.”

Begitu kesimpulan yang ditulis tim peneliti. Uji Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney mengkonfirmasi perbedaan bermakna (p < 0,05) antara kelompok perlakuan dengan kedua kontrol pada hari ke-3, 5, 7, dan 14.

Pada hari ke-14, kepadatan kolagen di ketiga kelompok mulai menyerupai satu sama lain. Ini bukan kemunduran, melainkan tanda bahwa proses remodeling telah berlangsung: enzim matrix metalloproteinase (MMP) mulai mendegradasi kolagen berlebih untuk membentuk jaringan dengan ukuran dan kekuatan optimal. Pada hari ke-24, kepadatan kolagen di semua kelompok kembali menurun bersama-sama, menandakan fase konsolidasi akhir jaringan.

Scaffolding Alami untuk Soket yang Pulih

Mengapa percepatan pembentukan kolagen begitu penting? Serabut kolagen bukan sekadar “daging penutup luka.” Dalam konteks soket pasca ekstraksi, kolagen berfungsi sebagai scaffold, kerangka perancah tempat sel-sel baru bermigrasi, fibroblas berproliferasi, dan akhirnya osteoblas meletakkan mineral tulang. Tanpa kolagen yang cukup dan cepat terbentuk, regenerasi tulang alveolar akan terlambat, dan risiko komplikasi seperti dry socket meningkat.

Mekanisme yang diusulkan tim peneliti: saponin dalam getah pisang memacu sintesis TGF-β, faktor pertumbuhan yang merekrut fibroblas ke area luka. Begitu fibroblas tiba, vitamin C menghambat MMP-1 agar kolagen yang baru terbentuk tidak langsung terdegradasi. Sementara flavonoid menekan respons inflamasi berlebihan yang justru bisa merusak jaringan sehat di sekitar soket.

Kombinasi kerja empat senyawa ini menciptakan lingkungan mikro yang kondusif untuk penyembuhan yang lebih cepat dan lebih teratur.

Kearifan yang Menunggu Diformulasikan

Penelitian ini bukan akhir dari perjalanan. Studi dilakukan pada hewan coba, dan uji klinis pada manusia masih diperlukan sebelum gel getah pisang bisa direkomendasikan sebagai prosedur standar pasca ekstraksi. Namun temuan ini membuka pintu yang selama ini hanya diketuk oleh para tetua desa.

Ada sesuatu yang menarik dari fakta bahwa tanaman yang tumbuh di halaman belakang rumah, sering dipandang sebelah mata, ternyata menyimpan mekanisme penyembuhan yang cukup canggih untuk dibuktikan secara histologis. Mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan “apakah getah pisang bekerja?” melainkan “berapa lama kita baru mulai memperhatikannya?”

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
15 Juli 2026

Wajah yang Bercerita: Membaca Tanda Talasemia dari Profil Lateral Anak Jawa

15 Juli 2026

Gigi yang Hampir Hilang Diselamatkan dengan Cangkok Tulang dan Material Bioaktif

15 Juli 2026

Ketika Gigi Hitam Bisa Kembali Putih: Kisah Internal Bleaching dan Restorasi Porselen

id_ID