Seorang pria 31 tahun masuk ke UGD dengan wajah yang tidak lagi sejajar. Sisi kanannya bengkak, tulang pipi tertekan ke dalam, dan sekitar mata kanannya membiru seperti lingkaran panda. Ia baru saja terjatuh dari sepeda motor. Helmnya terpakai, kesadarannya utuh, tapi tulang kompleks zigomatikomaksilarinya sudah tidak lagi pada tempatnya.
Kasus inilah yang menjadi dasar laporan ilmiah terbaru dari drg. Bramasto Purbo Sejati, Sp.BMM, staf pengajar Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, bersama tiga residen bedah mulut: Muhammad Fuadi, Lina Mariana, dan Muhammad Reza Pahlevi. Laporan kasus mereka diterbitkan di jurnal internasional Trauma Case Reports (Elsevier, 2026) dan menawarkan solusi bedah yang lebih terjangkau, lebih sederhana, namun terbukti efektif untuk menangani fraktur ZMC dengan deformitas rotasional.
Ketika Tulang Pipi Bergeser Tiga Dimensi
Tulang zigoma bukan sekadar pembentuk kontur wajah. Ia adalah penopang biomekanikal yang menyangga integritas orbita, simetri wajah, dan fungsi mastikasi. Ketika fraktur terjadi, tulang ini tidak sekadar retak, melainkan bergeser dalam tiga arah sekaligus: medial-lateral, superior-inferior, dan anterior-posterior.
Pada pasien ini, hasil CT scan 3D memperlihatkan fraktur tetrapod sisi kanan dengan displacement yang jelas. Berdasarkan klasifikasi Knight dan North, fraktur dikategorikan sebagai Grup IV, yakni fraktur dengan rotasi medial. Ini adalah tipe yang paling menantang: tulang berputar searah jarum jam sekaligus bergerak ke belakang, ke dalam, dan ke bawah. Mereduksinya berarti harus membalik semua gerakan itu secara terkoordinasi.
Selain asimetri wajah, pasien mengalami parestesia pada wajah kanan dan keterbatasan membuka mulut kurang dari dua sentimeter. Dua fungsi dasar sehari-hari, merasakan dan mengunyah, terganggu sekaligus.
Modifikasi yang Menjawab Keterbatasan Teknik Konvensional
Selama ini, pendekatan paling umum untuk mereduksi fraktur ZMC adalah dengan elevator, alat seperti pengungkit yang dimasukkan melalui insisi kecil untuk mendorong tulang kembali ke posisinya. Teknik Gillies yang klasik, misalnya, menggunakan elevator melalui insisi di garis rambut temporal. Tapi pada kasus dengan rotasi medial yang kompleks, elevator saja tidak cukup untuk mempertahankan posisi tulang selama proses fiksasi berlangsung.
Tim dari UGM dan RSUD Temanggung ini merancang protokol yang menggabungkan elevator konvensional dengan teknik traksi kawat dan sekrup yang dimodifikasi. Prosedurnya dilakukan dalam anestesi umum melalui tiga pendekatan insisi: lateral brow untuk dinding lateral orbita, subsiliar untuk rim infraorbital, dan vestibular kanan atas untuk area zigomatikomaksilari.
“Kombinasi elevator dan teknik kawat-sekrup yang dimodifikasi menawarkan solusi untuk penanganan fraktur ZMC kompleks, khususnya yang melibatkan deformitas rotasional pada fraktur rotasi medial.”
Cara kerjanya: dua sekrup kortikalis dipasang sementara di dinding lateral orbita, atas dan bawah garis fraktur. Kawat stainless steel 0,5 mm dikaitkan dan diplintir di antara kedua sekrup itu. Elevator digunakan lebih dulu untuk mereduksi tulang ke arah lateral dan anterior. Setelah posisi horizontal tercapai, kawat diplintir untuk menarik fragmen ke atas, mengoreksi posisi vertikal secara terkontrol. Barulah miniplate definitif dipasang di tiga titik fiksasi: dinding lateral orbita, rim infraorbital, dan buttress zigomatikomaksilari.
Sekrup dan kawat sementara kemudian dilepas. Seluruh sistem fiksasi tiga titik terpasang dengan stabil.
Wajah yang Pulih, dan Pelajaran yang Tersisa
Dua puluh empat jam setelah operasi, foto Waters’ proyeksi memperlihatkan simetri kanan-kiri yang dipulihkan. Konveksitas tulang pipi kembali. Dalam satu minggu, parestesia berkurang, bukaan mulut meningkat, dan wajah tampak simetris tanpa komplikasi.
Delapan belas bulan kemudian, pasien menyatakan tidak ada keluhan. Tidak ada gangguan membuka mulut. Wajah terlihat simetris.
Tim peneliti menekankan bahwa metode ini hemat biaya dan dapat diimplementasikan dengan instrumen bedah standar yang sudah tersedia, tanpa memerlukan alat khusus seperti Steinmann pin atau Carroll-Girard T-bar yang disebut dalam literatur sebelumnya. Dibanding reduksi elevator saja, tambahan traksi kawat-sekrup memberikan kontrol posisi fragmen yang lebih aman selama adaptasi plate. Dibanding pemasangan plate multilevel langsung tanpa traksi, metode ini mengurangi kebutuhan diseksi jaringan lunak yang luas.
Para penulis sendiri mengakui bahwa pengujian biomekanik formal dan seri klinis komparatif masih diperlukan untuk mengukur keunggulan metode ini secara kuantitatif terhadap teknik yang sudah mapan. Tapi untuk satu pasien yang datang dengan wajah tak simetris dan pulang dengan tulang pipi yang kembali ke tempatnya, teknik itu sudah menjawab pertanyaan paling mendasar dalam bedah rekonstruksi: apakah hasilnya bisa dilihat, dirasakan, dan bertahan lama?Jawabannya, setidaknya dalam kasus ini, adalah ya.
Sumber DOI: https://doi.org/10.1016/j.tcr.2026.101297
Penulis: Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto:Freepik