Berita

/

Berita Terbaru, SDG 3, SDG 9

FKG UGM Merancang Asesmen Longitudinal, Perkuat Kualitas Akademik Kedokteran Gigi

Selama bertahun-tahun, keberhasilan mahasiswa kedokteran gigi memasuki pendidikan profesi ditentukan oleh 1 gerbang terakhir, entry examination. Setelah menempuh pendidikan sarjana selama tiga setengah hingga empat tahun, bahkan lebih lama, tidak sedikit mahasiswa yang justru gagal melangkah ke tahap profesi karena tidak mampu melewati ujian tersebut. Investasi waktu, tenaga, & biaya yang besar akhirnya berujung pada kenyataan pahit bahwa gelar sarjana belum tentu menjadi tiket menuju profesi dokter gigi.

Situasi itulah yang kini menjadi titik balik bagi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM). Fakultas mulai merancang transformasi sistem asesmen akademik melalui model asesmen longitudinal, sebuah pendekatan yang tidak lagi menempatkan penilaian sebagai “vonis” di akhir pendidikan, melainkan sebagai proses pembinaan kompetensi sejak mahasiswa menginjak tahun pertama.

Perubahan ini bukan sekadar mengganti bentuk ujian. Ia merupakan pergeseran paradigma pendidikan kedokteran gigi, dari budaya mengejar kelulusan menuju budaya membangun kompetensi secara berkelanjutan. Narasumber dr. Yoyo Suhoyo, M.Med.Ed. Ph.D dari FKKMK UGM membagikan paradigma baru akademik di FKG UGM.

“Kita berharap mahasiswa yang lulus program sarjana otomatis sudah memenuhi kompetensi dasar klinis untuk memasuki pendidikan profesi. Jadi tidak lagi bergantung pada satu entry exam sebagai penentu nasib mereka,” ungkap Wakil Dekan bidang Akademik & Kemahasiswaan FKG UGM, Prof. drg. Rosa Amalia, M.Kes.,Ph.Ddalam forum pembahasan pembaruan sistem asesmen.

Pandangan tersebut lahir dari evaluasi panjang terhadap pelaksanaan entry examination. Selama ini, mahasiswa yang gagal masih diberi kesempatan mengikuti ujian hingga empat kali dalam rentang satu tahun. Namun, sebagian tetap tidak berhasil memenuhi standar sehingga harus menghentikan impian menjadi dokter gigi.

“Kami melihat ada pola yang berulang. Mahasiswa yang akhirnya gagal sebenarnya sudah memperlihatkan rekam jejak akademik yang kurang baik sejak jenjang sarjana. Artinya, persoalannya bukan muncul di akhir, tetapi tidak terdeteksi sejak awal,” ujar narasumber tersebut.

Fenomena itu menjadi kritik terhadap sistem evaluasi lama. Pendidikan selama empat tahun seharusnya mampu mengidentifikasi lebih dini siapa yang membutuhkan pendampingan akademik, siapa yang memerlukan remediasi, bahkan siapa yang mungkin lebih sesuai menempuh bidang lain sebelum terlambat menginvestasikan waktu bertahun-tahun.

Dalam rancangan baru, mahasiswa akan melewati sejumlah milestone kompetensi setiap tahun. Mereka yang berhasil mencapai target akan memperoleh sertifikat kompetensi pada setiap fase. Sebaliknya, mahasiswa yang mengalami hambatan tidak lagi menunggu kegagalan di penghujung studi, melainkan segera memperoleh intervensi akademik melalui pembinaan, remediasi, atau evaluasi lanjutan.

Pendekatan ini sekaligus menggeser makna ujian dari sekadar alat seleksi menjadi instrumen pembelajaran.

Menjaga Kompetensi tanpa Mengorbankan Mahasiswa

Transformasi asesmen juga berangkat dari kritik terhadap budaya pendidikan kedokteran yang selama ini identik dengan ujian tanpa henti.

Dalam diskusi tersebut, pakar asesmen dari FKKMK UGM, dr. Yoyo, menggambarkan bagaimana sistem lama sering kali membuat mahasiswa menghadapi ujian praktikum, pre-test, inhal, tugas, dan ujian blok secara bersamaan.

“Yang kami lihat, mahasiswa sejak pagi sudah tidak lagi fokus mengikuti kuliah atau tutorial karena pikirannya hanya tertuju pada ujian praktikum siang harinya. Situasi seperti itu justru merusak proses belajar,” katanya.

Karena itu, FKKMK UGM menata ulang kalender akademik agar seluruh asesmen terintegrasi dalam jadwal yang pasti. Tidak ada lagi ujian mendadak yang memecah konsentrasi mahasiswa selama blok pembelajaran berlangsung.

Menurut dr. Yoyo, langkah tersebut bukan untuk mempermudah mahasiswa, melainkan untuk memastikan energi mereka benar-benar digunakan untuk memahami ilmu, bukan sekadar bertahan menghadapi rentetan ujian.

“Kami ingin menjaga student well-being. Mahasiswa harus punya ruang untuk belajar, mengembangkan diri, bahkan memiliki waktu pribadi. Pendidikan kedokteran memang berat, tetapi bukan berarti harus membuat mahasiswa hidup dalam tekanan setiap hari,” ujarnya.

Pernyataan itu menunjukkan perubahan penting dalam filosofi pendidikan kedokteran modern. Kompetensi tidak lagi dibangun melalui tekanan akademik semata, tetapi melalui lingkungan belajar yang sehat dan terukur.

Teori dan Keterampilan Dipisahkan Secara Tegas

Perubahan lainnya menyentuh substansi asesmen. Selama ini, berbagai keterampilan laboratorium sering diuji melalui soal teori. Dalam model baru, kompetensi praktik akan dipisahkan secara jelas melalui Objective Structured Clinical Examination (OSCE).

Kemampuan menggunakan mikroskop, melakukan pemeriksaan laboratorium, membaca radiograf, hingga prosedur klinis dasar akan dinilai sebagai keterampilan, bukan sekadar hafalan konsep.

“Kalau memang itu termasuk keterampilan dalam standar kompetensi dokter gigi, maka ujiannya dilakukan di clinical skills lab. Yang diuji teori hanyalah aspek pemahamannya,” jelas dr. Yoyo.

Model tersebut dinilai lebih mencerminkan kebutuhan dunia praktik karena mahasiswa tidak hanya mengetahui konsep, tetapi juga mampu menerapkannya secara langsung.

Teknologi Menjadi Tulang Punggung Asesmen

Transformasi asesmen tidak berhenti pada perubahan kurikulum.

FKKMK UGM juga mengembangkan ekosistem digital yang mengintegrasikan bank soal, computer-based test, portofolio mahasiswa, sistem umpan balik, hingga pengelolaan nilai longitudinal.

Menurut dr. Yoyo, digitalisasi menjadi syarat mutlak agar asesmen longitudinal dapat berjalan secara objektif.

“Dulu tim asesmen harus mengejar dosen untuk mengumpulkan soal. Sekarang setiap departemen memiliki bank soal sendiri, sementara prodi mengelola keseluruhan sistem sehingga kualitas soal dapat dipantau dan dievaluasi secara berkelanjutan.”

Melalui sistem tersebut, dosen tidak hanya memberikan nilai, tetapi juga memperoleh analisis mutu soal, tingkat kesulitan, hingga efektivitas pembelajaran. Dengan demikian, asesmen tidak berhenti pada mahasiswa, tetapi juga menjadi instrumen evaluasi bagi dosen dan kurikulum.

Menjawab Tantangan Regulasi Nasional

Di tengah pembenahan internal, pendidikan kedokteran juga menghadapi tantangan eksternal.

Dalam sambutannya, Dekan FKG UGM mengingatkan bahwa perubahan regulasi nasional mengenai pendidikan tenaga medis, rumah sakit pendidikan, hingga tata kelola sumber daya manusia menuntut perguruan tinggi semakin adaptif.

Menurutnya, kualitas kurikulum dan sistem asesmen menjadi modal utama agar institusi tetap mampu mempertahankan mutu di tengah perubahan kebijakan yang terus berkembang.

“Kita harus memikirkan bagaimana institusi tetap berkelanjutan. Penjaminan mutu sudah menjadi budaya, tetapi sekarang tantangannya adalah bagaimana strategi pendidikan kita tetap relevan menghadapi perubahan regulasi,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pembaruan asesmen bukan sekadar kebutuhan akademik, melainkan bagian dari strategi menjaga daya saing pendidikan kedokteran Indonesia.

Membangun Dokter Gigi yang Siap, Bukan Sekadar Lulus

Rencana pembaruan asesmen FKG UGM memperlihatkan satu pesan penting: kualitas lulusan tidak cukup dijaga melalui satu ujian penentu di garis akhir.

Kompetensi klinis dibangun melalui proses yang panjang, konsisten, dan terukur sejak hari pertama mahasiswa memasuki bangku kuliah. Ketika evaluasi dilakukan secara berkelanjutan, mahasiswa memperoleh kesempatan memperbaiki diri, dosen memiliki dasar untuk melakukan pembinaan, dan institusi mampu memastikan bahwa setiap lulusan benar-benar layak memasuki profesi.

(Reporter: Andri Wicaksono, Fotografer: Fajar Budi Harsakti & Andri Wicaksono)

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
9 Juli 2026

Prof. Dr. Chettiyappan Visvanathan, Tekankan Pentingnya Economy Circular di Sektor Kesehatan

9 Juli 2026

Minyak Zaitun Berozon, Senjata Baru Melawan Kerusakan Tulang Akibat Radang Gusi

9 Juli 2026

Transformasi Radiologi Kedokteran Gigi Digital, Wujudkan Kedokteran Gigi Berkelanjutan

id_ID