Berita

/

Berita Terbaru, SDG 16, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 8, SDG 9

Transformasi Radiologi Kedokteran Gigi Digital, Wujudkan Kedokteran Gigi Berkelanjutan

Perkembangan teknologi radiologi digital dinilai menjadi salah satu pilar penting dalam mewujudkan praktik kedokteran gigi yang lebih berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. drg. Rurie Ratna Shantiningsih, M.D.Sc., Sp. RKG dosen Departemen Radiologi Dentomaksilofasial FKG UGM, dalam sesi kuliah bertajuk “Advancing Sustainability in Dentistry through Digital Radiology” pada hari kedua International Dental Summer Course 2026.

Dalam paparannya, Dr. Rurie Ratna Shantiningsih, MDSc, menjelaskan bahwa perkembangan radiologi kedokteran gigi telah mengalami transformasi besar sejak ditemukannya sinar-X oleh Wilhelm Conrad Röntgen pada tahun 1895. Saat ini, teknologi digital seperti digital intraoral radiography, panoramic radiography, cephalometric imaging, hingga Cone Beam Computed Tomography (CBCT) memberikan kemampuan diagnostik yang lebih akurat sekaligus mendukung praktik pelayanan yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Menurut drg. Rurie, digitalisasi radiologi tidak hanya meningkatkan kualitas diagnosis, tetapi juga mengurangi penggunaan bahan kimia pencuci film radiografi konvensional, menekan limbah medis, mempercepat alur kerja klinis, serta mempermudah penyimpanan dan distribusi data pasien secara elektronik.

“Radiologi digital berkontribusi terhadap keberlanjutan melalui peningkatan efisiensi, pengurangan dampak lingkungan, optimalisasi proteksi radiasi, serta peningkatan kemampuan diagnostik dalam pelayanan kedokteran gigi,” jelasnya.

Ia memaparkan bahwa perkembangan sistem radiografi telah bergeser dari penggunaan film konvensional menuju teknologi Photostimulable Phosphor (PSP) hingga sensor digital langsung berbasis Charge-Coupled Device (CCD) & Complementary Metal-Oxide-Semiconductor (CMOS). Teknologi tersebut memungkinkan hasil radiografi muncul hampir secara real time, sehingga mengurangi kebutuhan pengambilan gambar ulang yang berpotensi meningkatkan paparan radiasi kepada pasien.

Selain membahas perkembangan teknologi, drg. Rurie, juga menjelaskan berbagai modalitas pencitraan yang digunakan sesuai kebutuhan klinis. Radiografi intraoral digunakan untuk mendeteksi karies, kelainan periapikal, dan evaluasi gigi secara rinci, sedangkan radiografi panoramik memberikan gambaran menyeluruh struktur rahang dan gigi. Untuk kasus yang lebih kompleks, CBCT mampu menghasilkan citra tiga dimensi dengan resolusi tinggi sehingga sangat membantu perencanaan implan, bedah mulut, ortodonti, hingga diagnosis kelainan kraniofasial.

Meski demikian, ia menekankan bahwa penggunaan CBCT harus tetap berdasarkan indikasi klinis yang jelas. Prinsip justifikasi radiografi harus menjadi pedoman utama agar manfaat diagnostik yang diperoleh lebih besar dibandingkan risiko paparan radiasi yang diterima pasien.

Pada sesi diskusi, drg. Rurie juga menyoroti semakin berkembangnya pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam radiologi kedokteran gigi. Menurutnya, AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan efisiensi interpretasi citra radiografi, namun tidak dapat menggantikan peran dokter gigi maupun radiolog dalam pengambilan keputusan klinis.

“AI merupakan alat bantu yang sangat menjanjikan, tetapi keputusan akhir tetap berada pada dokter. Validasi klinis, privasi data pasien, transparansi algoritma, dan pertimbangan etika harus selalu menjadi prioritas,” tegasnya.

Ia juga mendorong mahasiswa untuk terus mengembangkan penelitian di bidang AI radiologi, baik melalui evaluasi akurasi diagnostik sistem AI maupun kolaborasi penelitian lintas jenjang pendidikan. Menurutnya, perkembangan teknologi justru membuka lebih banyak peluang riset yang dapat mendukung inovasi pelayanan kesehatan gigi di masa depan.

Melalui kuliah ini, FKG UGM kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong transformasi digital di bidang kedokteran gigi. Integrasi teknologi radiologi digital, kecerdasan buatan, serta prinsip keberlanjutan diharapkan mampu menghasilkan pelayanan kesehatan gigi yang lebih efektif, aman, efisien, dan berorientasi pada masa depan.

(Reporter: Any & Andri Wicaksono)

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
9 Juli 2026

Minyak Zaitun Berozon, Senjata Baru Melawan Kerusakan Tulang Akibat Radang Gusi

9 Juli 2026

Dua Kali Oles, Ikatan Lebih Kuat: Sodium Askorbat dan Rahasia Restorasi Pasca-Bleaching

9 Juli 2026

Dengarkan Murottal Al-Quran Terbukti Redakan Cemas Anak Saat Cabut Gigi

id_ID