Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Minyak Zaitun Berozon, Senjata Baru Melawan Kerusakan Tulang Akibat Radang Gusi

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Traditional Medicine Journal edisi Januari–April 2020 membawa kabar menggembirakan bagi dunia kedokteran gigi. Dr. drg. Dahlia Herawati, SU., Sp.Perio(K), bersama tim dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, membuktikan bahwa minyak zaitun yang telah diolah dengan gas ozon mampu mempercepat pembentukan tulang alveolar dan pembentukan pembuluh darah baru pada proses penyembuhan periodontitis. Penelitian ini dilakukan menggunakan hewan coba tikus Sprague Dawley di laboratorium FKG UGM, Yogyakarta, dan hasilnya cukup mengejutkan: kelompok yang diberi minyak zaitun berozon menunjukkan jumlah osteoblas dan pembuluh darah yang jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol, mulai dari hari ke-5 pengamatan.

Radang Gusi yang Lebih dari Sekadar Sakit Gusi

Banyak orang menganggap radang gusi hanya masalah sepele. Padahal, jika dibiarkan tanpa penanganan, kondisi ini bisa berkembang menjadi periodontitis — penyakit infeksi kronis yang secara perlahan menghancurkan jaringan penyangga gigi, termasuk tulang alveolar, yaitu tulang rahang yang menjadi tempat akar gigi menancap.

Ketika tulang alveolar rusak akibat periodontitis, proses penyembuhan membutuhkan dua hal utama: osteoblas dan angiogenesis. Osteoblas adalah sel-sel pembentuk tulang baru, sementara angiogenesis adalah proses tumbuhnya pembuluh darah baru yang membawa oksigen dan nutrisi ke jaringan yang sedang pulih. Tanpa keduanya, luka di tulang gigi tidak akan sembuh dengan baik.

Selama ini, penanganan periodontitis banyak mengandalkan antibiotik. Namun, masalah resistensi antibiotik — kondisi di mana bakteri sudah tidak mempan lagi diatasi oleh obat — menjadi tantangan besar yang semakin serius di seluruh dunia. Inilah yang mendorong Dr. drg. Dahlia Herawati dan timnya mencari alternatif lain yang lebih aman dan efektif.

Ozon, Bukan Sekadar Lapisan di Atmosfer

Ozon memang dikenal sebagai lapisan pelindung bumi di atmosfer. Tapi dalam dunia medis, ozon telah lama digunakan sebagai agen terapeutik. Gas ini memiliki sifat antimikroba yaitu mampu membunuh bakteri, virus, dan jamur sekaligus bersifat antiinflamasi dan mampu merangsang sistem imun tubuh.

Masalahnya, ozon dalam bentuk gas tidak mudah diaplikasikan langsung ke dalam rongga mulut. Maka lahirlah solusi yang lebih praktis: ozon distabilkan ke dalam minyak zaitun, menghasilkan produk yang disebut ozonated olive oil atau minyak zaitun berozon. Dalam bentuk ini, ozon terikat pada molekul asam oleat atau asam lemak tak jenuh dalam minyak zaitun yang membentuk senyawa ozonida yang stabil dan dapat dioleskan langsung ke jaringan yang terinfeksi.

Keunggulan bentuk ini adalah stabilitasnya yang jauh lebih baik dibandingkan ozon gas maupun ozon dalam air. Ia bisa menyentuh langsung area yang terinfeksi, bekerja dari level sel, dan tidak memiliki efek samping toksik yang berbahaya.

Tiga Puluh Dua Tikus dan Empat Belas Hari Pengamatan

Untuk membuktikan efektivitasnya, tim peneliti merancang uji eksperimental menggunakan 32 ekor tikus Sprague Dawley. Hewan ini dipilih karena struktur jaringan mukosa dan periodontalnya mirip dengan manusia. Seluruh tikus dibagi menjadi dua kelompok: 16 ekor kelompok perlakuan dan 16 ekor kelompok plasebo.

Periodontitis diinduksi dengan cara mengikat gigi seri bawah tikus menggunakan benang sutra (silk ligature) selama tujuh hari. Setelah tanda-tanda klinis periodontitis muncul seperti gusi membengkak, abses, dan gigi mulai goyang, barulah perlakuan diberikan. Kelompok perlakuan menerima olesan minyak zaitun berozon dua kali sehari pada area yang terinfeksi, sementara kelompok plasebo hanya diberi CMC-Na 1%, sejenis gel netral yang tidak memiliki efek terapeutik.

Pada hari ke-3, 5, 7, dan 14, empat ekor tikus dari masing-masing kelompok dikorbankan untuk diambil sampel jaringan tulang alveolarnya. Sampel kemudian diproses menjadi preparat histologi dengan pewarnaan hematoksilin-eosin, lalu diamati di bawah mikroskop cahaya pada pembesaran 400 kali untuk menghitung jumlah osteoblas dan pembuluh darah baru.

Angka-Angka yang Bicara Sendiri

Hasilnya meyakinkan. Jumlah osteoblas pada kelompok yang diberi minyak zaitun berozon secara konsisten lebih tinggi dibandingkan kelompok plasebo pada semua titik pengamatan, dan perbedaan ini bermakna secara statistik mulai hari ke-5, 7, hingga hari ke-14 (nilai p < 0,05). Pada hari ke-14, aktivitas osteoblas mencapai puncaknya, hal ini menandai fase pembentukan tulang yang paling aktif.

Mekanisme di balik ini melibatkan sejumlah faktor pertumbuhan. Ozon meningkatkan ekspresi TGF-β (Transforming Growth Factor-beta) dan PDGF (Platelet-Derived Growth Factor), dua protein yang berperan penting dalam merangsang diferensiasi dan aktivitas osteoblas. Selain itu, ozon juga menekan kadar PGE-2, senyawa pemicu peradangan yang jika dibiarkan tinggi justru akan menghambat pembentukan tulang.

Untuk angiogenesis, pembuluh darah baru mulai terbentuk sejak hari ke-3, mencapai puncak pada hari ke-7, lalu menurun pada hari ke-14. Pola ini sesuai dengan proses biologis normal penyembuhan luka. Yang menarik, penurunan jumlah pembuluh darah pada hari ke-14 justru lebih tajam di kelompok minyak zaitun berozon dibandingkan kelompok plasebo. Ini bukan pertanda buruk melainkan menunjukkan bahwa proses penyembuhan pada kelompok perlakuan berlangsung lebih cepat dan sudah memasuki tahap maturasi jaringan, di mana kebutuhan pembuluh darah baru sudah berkurang karena jaringan mulai stabil.

“Ozonated olive oil has potential to be developed for periodontal tissue regeneration.” — Dr. drg. Dahlia Herawati, SU., Sp.Perio(K), dan tim peneliti, Traditional Medicine Journal, 2020

Implikasi untuk Klinik dan Masa Depan Terapi Periodontal

Temuan ini membuka peluang nyata bagi praktik klinis kedokteran gigi. Minyak zaitun berozon bisa menjadi solusi terapi topikal dengan dioleskan langsung ke area yang sakit, hal ini tidak hanya efektif membunuh bakteri penyebab periodontitis, tetapi sekaligus mendorong regenerasi jaringan tulang yang rusak.

Kelebihan lain yang tidak kalah penting adalah aspek keamanan dan kenyamanan pasien. Terapi ozon tidak menimbulkan rasa sakit, tidak membutuhkan prosedur invasif yang menakutkan, dan tidak meninggalkan efek samping toksik. Bagi pasien anak-anak yang takut pada bor atau jarum suntik, maupun pasien lansia dengan kondisi medis tertentu yang membatasi penggunaan antibiotik, terapi ini menawarkan jalan keluar yang lebih manusiawi.

Namun, para peneliti juga mengingatkan bahwa hasil ini masih berasal dari uji hewan coba. Perjalanan dari laboratorium ke klinik masih membutuhkan serangkaian uji klinis pada manusia sebelum bisa diterapkan secara luas. Meski begitu, fondasi ilmiah yang diletakkan penelitian ini cukup kuat untuk mendorong riset lanjutan ke arah yang lebih jauh.

Dari Laboratorium FKG UGM untuk Dunia Kedokteran Gigi

Penelitian ini mendapat persetujuan dari Komite Etik Penelitian Fakultas Kedokteran Gigi UGM dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bereputasi. Ini bukan hanya soal satu temuan spesifik tentang minyak zaitun berozon. Ini adalah bagian dari upaya panjang para peneliti FKG UGM untuk mencari terapi periodontal yang lebih efektif, lebih aman, dan lebih terjangkau, terapi yang suatu hari bisa menjangkau lebih banyak pasien, di lebih banyak tempat, dengan lebih sedikit hambatan.

Di tengah krisis resistensi antibiotik global yang terus membayangi dunia kesehatan, pertanyaan tentang apa yang bisa menggantikan antibiotik bukan lagi soal akademik semata. Jawaban atas pertanyaan itu, setidaknya untuk kasus periodontitis, mungkin sudah tersimpan dalam sebotol minyak zaitun yang dialiri ozon.

Referensi:
Herawati, D., Anggraeni, D. and Damayanti, A.R. (2020) ‘Effect of Ozonated Olive Oil in Topical Application towards Osteoblast Number and Angiogenesis of Alveolar Bone in Periodontitis Healing Process (in vivo study in Sprague Dawley Rats)’, Traditional Medicine Journal, 25(1), pp. 59–66. Available at: https://doi.org/10.22146/mot.55176

Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Annisa Dwi Noviyanti | Foto: Freepik

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
9 Juli 2026

Prof. Dr. Chettiyappan Visvanathan, Tekankan Pentingnya Economy Circular di Sektor Kesehatan

9 Juli 2026

Transformasi Radiologi Kedokteran Gigi Digital, Wujudkan Kedokteran Gigi Berkelanjutan

9 Juli 2026

Dua Kali Oles, Ikatan Lebih Kuat: Sodium Askorbat dan Rahasia Restorasi Pasca-Bleaching

id_ID