Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Mineral Trioxide Aggregate Unggul: Bukti Histologis dari Dalam Tulang Rahang Kelinci

Angka itu mengejutkan: 104 sel fibroblas per lapang pandang. Dibandingkan kelompok kontrol pada minggu pertama yang hanya mencatat 4,33 sel, lonjakan ini bukan sekadar statistik. Ini adalah bukti biologis bahwa pilihan material dalam perawatan fraktur akar vertikal bisa menjadi perbedaan antara jaringan yang pulih dan jaringan yang stagnan.

Itulah temuan utama penelitian yang dipublikasikan di The Journal of Contemporary Dental Practice (2021) oleh tim peneliti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada: Dr. drg. Raphael Tri Endra Untara, M.Kes., Sp.KG(K), Prof. Dr. drg. Widjijono, SU, Prof. drh. Widya Asmara, SU., Ph.D., dan Prof. drg. Diatri Nari Ratih, M.Kes., Ph.D., Sp.KG(K). Penelitian ini membandingkan dua material adhesif, mineral trioxide aggregate (MTA) dan self-adhesive resin cement, dalam prosedur replantasi intensional pada kasus fraktur akar vertikal.

Ketika Akar Gigi Retak Membujur

Fraktur akar vertikal adalah salah satu kondisi paling menantang dalam praktik kedokteran gigi. Retakan yang terjadi sepanjang sumbu panjang akar gigi ini membuka celah bagi bakteri dan iritan, memicu inflamasi jaringan periodontal, bahkan bisa berujung pada avulsi, kondisi di mana gigi terlepas dari soketnya.

Salah satu pendekatan penanganannya adalah replantasi intensional: gigi dicabut dengan sengaja, dirawat di luar rongga mulut, lalu dikembalikan ke soket yang sama dalam satu kunjungan. Kunci keberhasilan prosedur ini terletak pada material yang digunakan untuk menyegel celah fraktur agar tidak ada ruang kosong yang ditempati cairan atau bakteri.

MTA sudah lama dikenal dalam endodontik karena biokompatibilitasnya. Sementara self-adhesive resin cement hadir sebagai alternatif yang menjanjikan kemudahan aplikasi dan efisiensi waktu kerja, tanpa memerlukan pretreatment permukaan gigi. Namun, apakah kemudahan itu sebanding dengan respons jaringan yang dihasilkan? Itulah pertanyaan yang mendorong penelitian ini.

Di Balik Mikroskop: Fibroblas sebagai Penanda Pemulihan

Tim peneliti menggunakan 27 ekor kelinci New Zealand jantan berusia 8 hingga 12 minggu. Gigi insisivus mandibula masing-masing kelinci dicabut, dibelah secara longitudinal hingga dua pertiga panjang akar untuk mensimulasikan fraktur vertikal, lalu ditanamkan kembali setelah dibagi ke dalam tiga kelompok perlakuan: tanpa material (kontrol), disegel MTA, dan disegel self-adhesive resin cement.

Setiap kelompok dipecah lagi menjadi tiga subkelompok berdasarkan waktu observasi: satu minggu, dua minggu, dan tiga minggu. Setelah masing-masing periode, kelinci dieutanasia dan jaringan periradikular disiapkan untuk pengamatan histologis dengan pewarnaan Hematoxylin & Eosin. Fibroblas dihitung di bawah mikroskop cahaya pada pembesaran 400 kali.

Mengapa fibroblas? Karena sel ini adalah aktor utama dalam penyembuhan luka. Fibroblas menyekresikan faktor pertumbuhan, sitokin, kolagen, dan komponen matriks ekstraseluler. Tanpa proliferasi fibroblas yang memadai, regenerasi jaringan periradikular tidak akan berjalan optimal.

“MTA produced the greatest fibroblast cell proliferation than self-adhesive resin cement, particularly in week 3 of vertical root fractures in intentional replantation.” — Prof. drg. Diatri Nari Ratih, M.Kes., Ph.D., Sp.KG(K), corresponding author penelitian

Angka yang Berbicara Sendiri

Hasil analisis two-way ANOVA menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik (p < 0,05), baik dari sisi waktu observasi, jenis material, maupun interaksi keduanya.

Kelompok MTA memperlihatkan tren peningkatan yang konsisten: dari 39,67 sel pada minggu pertama, menjadi 40,33 pada minggu kedua, lalu melonjak tajam ke 104 sel pada minggu ketiga. Angka di minggu ketiga ini lebih dari dua kali lipat dibanding minggu kedua, sebuah percepatan yang mengindikasikan bahwa MTA tidak hanya kompatibel dengan jaringan, tetapi secara aktif mendukung lingkungan regeneratif.

Kelompok self-adhesive resin cement justru memperlihatkan pola sebaliknya. Jumlah fibroblas tertinggi justru terjadi di minggu pertama (74,67 sel), kemudian turun pada minggu kedua (39 sel) dan sedikit naik pada minggu ketiga (41 sel). Para peneliti menduga penurunan ini berkaitan dengan komponen sitotoksik dalam material tersebut, terutama TEGMA dan fluorida, serta monomer sisa seperti Bis-GMA, UDMA, dan HEMA yang berpotensi bocor ke jaringan sekitar jika polimerisasi tidak sempurna karena tidak semua bagian material terpapar langsung cahaya LED.

Kelompok kontrol, meski tanpa material apapun, tetap menunjukkan peningkatan fibroblas dari waktu ke waktu (4,33 lalu 24,67 lalu 52,33). Hal ini mencerminkan proses penyembuhan alami tubuh kelinci, yang diperkuat oleh injeksi antibiotik untuk mencegah infeksi pascaoperasi.

Implikasi Klinis: Memilih Material Bukan Sekadar Soal Kemudahan

Temuan ini memiliki relevansi langsung bagi praktik endodontik. Meski self-adhesive resin cement menawarkan kemudahan dan efisiensi prosedural, data histologis menunjukkan bahwa material ini menghasilkan respons regeneratif yang lebih rendah dibandingkan MTA pada jaringan periradikular.

MTA, dengan biokompatibilitasnya yang telah terbukti dan kemampuannya mendukung proliferasi fibroblas secara progresif, tampak lebih unggul sebagai material penyegel fragmen fraktur akar vertikal dalam prosedur replantasi intensional. Para peneliti merekomendasikan penggunaan MTA sebagai pilihan utama dalam kasus serupa.

Tentu, penelitian ini memiliki keterbatasan. Model hewan tidak sepenuhnya merepresentasikan kondisi klinis manusia, dan setiap kelinci memiliki respons imun yang berbeda. Uji klinis lanjutan pada manusia masih diperlukan untuk mengonfirmasi temuan ini secara lebih komprehensif.

Namun, di balik keterbatasan itu, ada satu hal yang jelas: ketika sebuah gigi yang retak dikembalikan ke soketnya, material yang menyegelnya bukan sekadar perekat. Ia adalah penentu apakah jaringan di sekitarnya akan pulih, atau perlahan menyerah.

Referensi:
Untara, R.T.E., Widjijono, Asmara, W. and Ratih, D.N. (2021) ‘Proliferation of Fibroblast Cells in Periradicular Tissue Following Intentional Replantation of Vertical Root Fractures Using Two Materials’, The Journal of Contemporary Dental Practice, 22(9), pp. 998–1002. Available at: https://doi.org/10.5005/jp-journals-10024-3169

Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Annisa Dwi Noviyanti | Photo: Generate by Gemini AI

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
8 Juli 2026

Mineral Trioxide Aggregate Ungguli Resin Semen dalam Mempercepat Pemulihan Gigi Fraktur Vertikal

7 Juli 2026

Dialog Dekanat & Mahasiswa, Pupuk Kampus Lebih Baik

7 Juli 2026

FKG UGM Bersama DRKG UGM, Perkuat Reputasi Global

id_ID