Bukan cokelatnya, melainkan senyawa di baliknya. Theobromine, alkaloid golongan methylxanthine yang ditemukan dalam biji kakao, kini memperlihatkan potensi mengejutkan sebagai agen pelindung email gigi, bahkan mampu menandingi fluoride, standar emas pencegahan karies selama puluhan tahun.
Penelitian yang dilakukan di Universitas Gadjah Mada oleh Shoimah Alfa Makmur, di bawah bimbingan Dr. drg. Rinaldi Budi Utomo, M.S., Sp.KGA(K) dan Prof. Dr. drg. Al Supartinah, S., S.U., Sp., menguji secara langsung kemampuan gel theobromine 5% dalam mengurangi kelarutan mineral pada gigi incisivus desidui. Hasilnya membuka diskusi baru tentang masa depan pencegahan karies pada anak.
Ketika Email Gigi Diuji Asam
Dua puluh tujuh gigi incisivus desidui dibagi ke dalam tiga kelompok: satu mendapat aplikasi topikal gel theobromine 5%, satu mendapat varnish sodium fluoride 5% sebagai kontrol positif, dan satu dibiarkan tanpa perlakuan sebagai kontrol negatif. Setiap gigi diaplikasikan bahan uji menggunakan microbrush selama empat menit, lalu melewati proses pH-cycling selama lima hari, mensimulasikan siklus asam-basa yang terjadi di rongga mulut sesungguhnya.
Kelarutan ion kalsium diukur dengan Atomic Absorption Spectroscopy (AAS), sementara ion fosfat dianalisis menggunakan UV-VIS Spectrophotometer. Kedua ion ini adalah penanda utama seberapa parah demineralisasi terjadi pada email gigi.
Kelompok tanpa perlakuan mencatat kelarutan kalsium tertinggi: 0,6081 ppm, jauh melampaui kelompok theobromine (0,1382 ppm) dan fluoride (0,1232 ppm). Selisih antara theobromine dan fluoride secara statistik tidak bermakna, artinya keduanya bekerja pada level perlindungan yang setara.
Satu Titik Perbedaan
Namun ada catatan penting. Pada pengukuran kelarutan ion fosfat, gel theobromine 5% mencatat angka 0,2731 ppm, lebih tinggi dibanding varnish sodium fluoride 5% yang hanya 0,1289 ppm. Perbedaan ini bermakna secara statistik. Artinya, meski theobromine mampu menahan lepasnya kalsium dari email setara fluoride, kemampuannya mempertahankan fosfat masih sedikit di bawah.
Ini bukan kelemahan fatal, melainkan petunjuk arah. Theobromine mungkin bekerja melalui mekanisme yang berbeda dari fluoride dalam membentuk struktur mineral email, sebuah area yang masih terbuka untuk diteliti lebih lanjut.
Bagi kedokteran gigi anak, temuan ini relevan karena theobromine menawarkan alternatif non-fluoride yang potensial, terutama untuk pasien dengan risiko fluorosis atau di wilayah yang pasokan fluoride sudah mencukupi. Gigi susu, dengan enamel yang lebih tipis dan rentan, justru menjadi subjek yang paling membutuhkan inovasi perlindungan seperti ini.
Dari biji kakao ke kursi dental, perjalanan theobromine baru saja dimulai.
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : ChtGPT