Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Kontrasepsi Hormonal Ternyata Mengubah Kondisi Mulut Penggunanya

Selama ini, pil dan suntik KB lebih banyak dibicarakan soal efeknya pada siklus menstruasi atau berat badan. Tapi ada yang luput dari perhatian: cairan di dalam mulut pun ikut berubah.

Penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO.,dr. Rini Maya Puspita, M.Sc., dan drg. Rizki Amalia Febianti, S.KG dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada menemukan bahwa perempuan yang menggunakan kontrasepsi hormonal — baik pil maupun suntik — memiliki pH dan volume saliva yang lebih tinggi dibanding perempuan yang tidak menggunakannya. Temuan ini dipublikasikan dalam Dentika Dental Journal edisi Juli 2010.

Angka yang Bicara di Balik Ludah

Penelitian ini melibatkan 30 perempuan berusia 20–35 tahun yang dibagi ke dalam tiga kelompok: pengguna pil KB, pengguna KB suntik, dan kelompok kontrol. Sampel saliva dikumpulkan sore hari, antara pukul 16.00–17.00, menggunakan metode tanpa stimulasi — subyek cukup duduk menunduk dan membiarkan saliva mengalir ke wadah selama satu menit.

Hasilnya cukup mencolok. Rerata pH saliva kelompok kontrol tercatat 6,59, kelompok KB suntik 6,92, dan kelompok pil KB mencapai 7,19. Volume saliva pun mengikuti pola yang sama: kelompok kontrol hanya 0,81 ml/menit, suntik 1,41 ml/menit, dan pil 2,15 ml/menit. Uji ANOVA menunjukkan perbedaan antarkelompok yang bermakna secara statistik (p < 0,05).

Kortisol, Gingiva, dan Rantai Reaksi yang Tak Terduga

Lalu mengapa kontrasepsi hormonal bisa memengaruhi saliva? Para peneliti menduga ada rantai reaksi yang melibatkan kortisol. Kandungan estradiol dan progesteron dalam kontrasepsi hormonal diduga meningkatkan kadar kortisol, yang kemudian menstimulasi sistem saraf simpatis melalui reseptor adrenergik untuk mendorong sekresi saliva kaya protein.

Ada faktor lain yang ikut berperan: gingivitis. Hormon estrogen dan progesteron sintetis dalam kontrasepsi diketahui memicu vasodilatasi dan proliferasi jaringan ikat pada gingiva, sehingga meningkatkan cairan krevikuler dan memperparah peradangan. Kondisi radang inilah yang pada akhirnya turut merangsang produksi saliva lebih tinggi. Kenaikan volume saliva kemudian membawa serta peningkatan ion bikarbonat — dan pH pun ikut naik.

Implikasinya tidak bisa diabaikan begitu saja. pH saliva yang lebih tinggi memang terdengar positif karena bersifat protektif terhadap karies. Namun perubahan komposisi dan volume saliva secara keseluruhan bisa memengaruhi keseimbangan ekosistem rongga mulut yang jauh lebih kompleks. Para peneliti menegaskan perlunya penelitian lanjutan yang mengendalikan faktor diet dan mengukur kadar total protein saliva — agar gambaran yang didapat benar-benar lengkap.

Bagi jutaan perempuan Indonesia yang setiap bulan menelan pil atau mendatangi bidan untuk suntik KB, rongga mulut mungkin adalah hal terakhir yang terlintas di benak mereka. Padahal, perubahan itu diam-diam sudah terjadi.

Penulis: Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto: ChatGPT

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
7 Juli 2026

Dialog Dekanat & Mahasiswa, Pupuk Kampus Lebih Baik

7 Juli 2026

FKG UGM Bersama DRKG UGM, Perkuat Reputasi Global

7 Juli 2026

FKG UGM Sapu Bersih Podium UKOMNAS Konservasi Gigi XXXVIII

id_ID