Berita

/

Berita Terbaru

Mencetak Lulusan Dokter Gigi Adaptif di Era Digital, FKG UGM Redesain Kurikulum

Dinamika teknologi medis yang melesat cepat mewajibkan institusi pendidikan tinggi untuk terus beradaptasi dan responsif. Menjawab tantangan tersebut, Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Workshop Rekonstruksi Kurikulum Program Studi Sarjana Kedokteran Gigi pada Jumat (22/5/2026). Forum ini menjadi ruang bagi sivitas akademika untuk memperbarui metode pembelajaran agar selaras dengan kebutuhan zaman. Kurikulum anyar ini ditargetkan mampu melahirkan calon dokter gigi yang cakap memanfaatkan teknologi digital, kompeten secara klinis, serta memiliki ketangguhan mental yang baik.

Dekan FKG UGM, Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D., menggarisbawahi urgensi perubahan metode pengajaran yang harus meninggalkan cara-cara konvensional. Kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) memberi efisiensi tinggi pada dinamika pendidikan saat ini. Tenaga pendidik harus memposisikan dan memanfaatkan teknologi tersebut secara bijak sebagai alat bantu pendukung. Selain aspek keilmuan, Dekan Suryono mengingatkan jajarannya untuk memprioritaskan ketangguhan psikologis mahasiswa di tengah beban studi yang padat.

“Pendidikan harus memantau kondisi mental peserta didik agar terhindar dari tekanan berat atau depresi. Pendidik wajib menyisipkan nilai-nilai pembentukan karakter dalam pengajaran agar mahasiswa menjadi individu yang berkarakter kuat,” tegas Dekan Suryono.

Sejalan dengan arahan tersebut, proses rekonstruksi kurikulum ini membedah rincian teknis implementasi teknologi di ruang kelas. dr. Dian Kesumapramudya Nurputra, MS.c., Ph.D., Sp.A selaku narasumber dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak UGM, hadir memaparkan strategi pemanfaatan kecerdasan buatan dalam ekosistem pembelajaran. Ia menyoroti perubahan standar kompetensi lulusan yang harus segera diterapkan.

“Mahasiswa kedokteran gigi kini wajib mampu mengevaluasi dan memvalidasi hasil diagnosis mesin AI sebagai pengganti sistem belajar lama yang bertumpu pada hafalan,” ucap dr. Dian.

Untuk mendukung target kompetensi tersebut, fakultas dapat menerapkan metode pembelajaran berbasis kasus (Case-Based Learning) pada semester pertama. Mahasiswa menggunakan kecerdasan buatan sebagai tutor pribadi untuk mempelajari beberapa topik, misalnya kasus klinis anatomi dan biokimia. Sementara itu, ketika mahasiswa sudah menghadapi semester akhir, mereka akan cenderung lupa denga apa yang telah dipelajari pada semester awal.

“Untuk mengatasi hal tersebut, FKG UGM dapat mengadopsi Spaced Repetition System (SRS). Spaced Repetition System (SRS) pada dasarnya adalah metode yang mengatur jadwal pengulangan materi dengan interval waktu tertentu,” tambah dr. Dian.

Sistem evaluasi akademik juga tidak luput dari pembahasan. Dosen disarankan dapat mengurangi frekuensi ujian yang bentuknya pilihan ganda karena dengan bantuan AI dapat diselesaikan dengan mudah. Sebagai gantinya, dosen dapat menilai performa dan pemahaman mahasiswa secara langsung melalui ujian lisan serta observasi praktik klinis di lapangan.

Langkah redesain ini menunjukkan komitmen FKG UGM dalam merespons kemajuan teknologi tanpa mengesampingkan etika medis dan karakter mahasiswa. Kurikulum yang tengah disusun ini menjadi peta jalan bagi fakultas. Harapannya, lulusan FKG UGM kelak siap menghadapi era digital dentistry dengan kecakapan tinggi, mental yang tangguh, dan kepatuhan utuh terhadap standar etika profesi.

Penulis: Fajar Budi
Foto: Fajar Budi, Harta Utama

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
20 Mei 2026

Prof. Yasuhiko Tabata Bagikan Dinamika Biomaterial & Regenerative Medicine di FKG UGM

20 Mei 2026

Deteksi Dini Gangguan Psikiatri, FKG UGM Wajibkan Mahasiswa Ikuti Screening MMPI Jelang Koas

19 Mei 2026

Seleksi Ketat, Transparan, & Berintegritas Dalam Penerimaan PPDGS FKG UGM Gelombang II 2026

id_ID