Berita

/

Berita Terbaru

Mengurai “Bahasa Genetik” Pembentukan Gigi, Era Baru Kedokteran Gigi Regeneratif

Momentum Dies Natalis ke-78 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) tak sekadar menjadi perayaan seremonial. Dalam rapat senat terbuka yang digelar pada 5 Maret 2026, orasi ilmiah yang disampaikan drg. Ivan Arie Wahyudi, M.Kes., Ph.D., justru menegaskan arah baru ilmu kedokteran gigi: bergerak dari praktik klinis konvensional menuju pendekatan berbasis biologi molekuler dan rekayasa genetik.

Mengangkat tema “Peran Sentral Gen SP6 dalam Regulasi Odontogenesis”, Ivan membedah secara tajam bagaimana proses pembentukan gigi yang selama ini dipahami secara struktural, sebenarnya merupakan orkestrasi kompleks yang dikendalikan oleh jaringan regulasi genetik presisi tinggi.

“Perkembangan gigi bukan sekadar proses biologis struktural, melainkan orkestrasi molekuler yang presisi. Gen SP6 atau epiprofin adalah salah satu konduktor utama dalam simfoni tersebut,” ujar drg. Ivan dalam orasinya.

Kompleksitas Odontogenesis: Lebih dari Sekadar Pertumbuhan Gigi

Dalam paparannya, drg. Ivan menjelaskan bahwa pembentukan gigi (odontogenesis) dimulai sejak minggu keenam kehidupan embrio dan berlangsung melalui lima tahap utama: inisiasi, bud, cap, bell, hingga aposisi dan mineralisasi. Setiap fase ditandai oleh perubahan morfologi sekaligus ekspresi gen yang sangat terkoordinasi.

Lebih jauh, ia menyoroti interaksi epitel dan mesenkim sebagai fondasi utama proses ini. Interaksi tersebut dimediasi oleh sejumlah jalur sinyal kunci seperti Wnt/β-catenin, BMP (Bone Morphogenetic Protein), FGF (Fibroblast Growth Factor), Sonic Hedgehog (SHH), dan Notch signaling.

Namun, menurut drg. Ivan, kunci dari integrasi seluruh jalur tersebut terletak pada gen SP6.

“SP6 berfungsi sebagai penghubung penting antara sinyal morfogenetik dan aktivitas gen struktural enamel. Tanpa regulasi yang tepat, pembentukan enamel dan morfologi gigi akan terganggu,” jelasnya.

SP6: “Konduktor” Dalam Simfoni Molekuler Gigi

Gen SP6 atau dikenal juga sebagai epiprofin merupakan faktor transkripsi yang memainkan peran krusial dalam proliferasi sel epitel dental, diferensiasi ameloblas, serta pembentukan enamel.

Temuan ilmiah dalam satu dekade terakhir menunjukkan bahwa gangguan pada gen ini berkorelasi langsung dengan berbagai kelainan gigi, mulai dari hipodonsia hingga amelogenesis imperfecta (kelainan pembentukan enamel).

Dalam model penelitian hewan, defisiensi SP6 terbukti menyebabkan disorganisasi struktur enamel dan kegagalan pembentukan ameloblas secara normal.

“Defisiensi SP6 menyebabkan gangguan signifikan pada proliferasi epitel dental dan morfogenesis mahkota gigi,” ungkap Ivan, merujuk pada studi molekuler terbaru.

Dari Laboratorium ke Klinik

Yang membuat orasi ini menonjol bukan hanya pada kedalaman teoritisnya, tetapi juga pada keberanian menarik implikasi klinis secara konkret.

Ivan menegaskan bahwa pemahaman terhadap SP6 membuka peluang besar dalam dunia kedokteran gigi modern, antara lain: Diagnosis molekuler kelainan enamel. Pengembangan panel genetik untuk amelogenesis imperfecta. Terapi gen berbasis CRISPR-Cas9. Rekayasa enamel menggunakan stem cell.

“Mutasi pada SP6 telah diidentifikasi sebagai penyebab kelainan enamel pada manusia. Ini membuka jalan bagi diagnosis berbasis genetik dan terapi presisi di masa depan,” tegasnya.

Secara khusus, pendekatan gene editing seperti CRISPR dinilai berpotensi merevolusi penanganan kelainan gigi bawaan sesuatu yang selama ini sulit ditangani secara tuntas dengan metode konvensional.

Menuju Precision Regenerative Dentistry

Lebih jauh, Ivan menempatkan temuannya dalam konteks yang lebih luas: lahirnya era precision regenerative dentistry. Dalam paradigma ini, perawatan gigi tidak lagi sekadar memperbaiki kerusakan, tetapi meregenerasi jaringan secara biologis dengan kontrol genetik yang presisi.

Ia bahkan menyebut kemungkinan pengembangan bioengineered tooth berbasis induced pluripotent stem cell (iPSC) serta model organoid enamel sebagai masa depan riset odontogenesis.

Namun demikian, Ivan tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan ilmiah yang masih membayangi, mulai dari kompleksitas jaringan genetik, keterbatasan translasi dari model hewan ke manusia, hingga stabilitas ekspresi gen dalam jangka panjang.

Dari Lokal ke Global

Orasi ini sekaligus menjadi refleksi posisi FKG UGM dalam lanskap ilmu kedokteran gigi global. Dengan mengusung semangat “locally rooted, globally respected”, riset-riset berbasis biologi molekuler seperti yang dipaparkan Ivan dinilai mampu mendorong institusi ini masuk dalam percaturan ilmiah internasional.

Di akhir orasinya, drg. Ivan menegaskan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam mengakselerasi kemajuan ini.

“Integrasi biologi molekuler, rekayasa jaringan, dan inovasi bioteknologi akan menempatkan kedokteran gigi pada era baru, era regeneratif yang presisi,” pungkasnya.

Transformasi Ilmu Kedokteran Gigi

Orasi ilmiah ini bukan sekadar paparan akademik, melainkan sinyal kuat bahwa kedokteran gigi tengah mengalami transformasi paradigmatik. Jika sebelumnya berfokus pada restorasi mekanis, kini arah ke depan bergeser pada rekonstruksi biologis berbasis genetik.

Dalam konteks Kedokteran Gigi di Indonesia, gagasan ini memiliki implikasi strategis: membuka peluang riset translasi, memperkuat kemandirian teknologi kesehatan, serta meningkatkan kualitas layanan kedokteran gigi berbasis presisi.

Namun, pertanyaannya kini bukan lagi “apakah teknologi ini mungkin?”, melainkan seberapa cepat ekosistem riset dan klinisi mampu bersinergi untuk menerapkannya?

Di titik inilah, peran institusi pendidikan tinggi seperti FKG UGM, bukan hanya sebagai pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga motor penggerak perubahan.

(Reporter: Andri Wicaksono, Fotografer: Fajar Budi Harsakti & tangkapan layar presentasi drg. Ivan)

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
13 Mei 2026

FKG UGM Sediakan Air Minum Gratis dari Olahan Air Hujan

12 Mei 2026

Penganugerahan Prestasi Mahasiswa FKG UGM 2025

11 Mei 2026

Prestasi Gemilang Residen KGA FKG UGM dalam Ajang Ilmiah Internasional

id_ID