Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 10, SDG 11, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 5

Tahu Tapi Tidak Melakukan: Paradoks Ibu dengan Anak Sindrom Down

Hampir semua ibu yang diteliti tahu kapan harus menyikat gigi, jenis makanan apa yang harus dihindari, dan seberapa sering anak perlu diperiksa ke dokter gigi. Namun dari 30 ibu yang menjadi subjek penelitian ini, hanya satu orang yang menunjukkan perilaku perawatan mulut yang benar-benar baik. Temuan itu bukan angka yang mengejutkan semata. Ia menyingkap jurang lebar antara pengetahuan dan tindakan nyata, khususnya pada ibu-ibu yang setiap harinya merawat anak dengan sindrom Down.

Penelitian yang diterbitkan di Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Volume 37 edisi Desember 2025 ini melibatkan tim dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada: Bhintari Ayu Agustina, drg. Sri Kuswandari, Sp.KGA, dan Prof. Dr. drg. Al. Supartinah, Sp.KGA. Studi cross-sectional mereka menjawab pertanyaan yang tampak sederhana namun selama ini jarang dieksplorasi secara klinis: sejauh mana kepedulian ibu benar-benar tercermin dalam kondisi rongga mulut anak sindrom Down?

Dua Angka yang Mengatakan Segalanya

Penelitian berlangsung di Persatuan Orang Tua Anak Sindrom Down (POTADS) Yogyakarta dan Kebumen. Tiga puluh pasang ibu dan anak sindrom Down usia 6 hingga 12 tahun dilibatkan. Kepedulian ibu diukur dari dua dimensi: pengetahuan dan perilaku. Status kesehatan rongga mulut anak dinilai menggunakan dua indeks standar klinis, yaitu Gingival Index (GI) untuk mengukur derajat peradangan gusi, dan Patient Hygiene Performance Index (PHP) untuk mengukur akumulasi plak pada permukaan gigi.

Hasilnya menciptakan kontras yang mencolok. Sebanyak 43,3% ibu memiliki pengetahuan yang baik, dan 43,3% lainnya berkategori cukup. Hanya 13,3% yang pengetahuannya rendah. Gambaran ini terdengar menjanjikan. Tapi begitu dilihat dari sisi perilaku, pola itu berbalik drastis: 46,7% ibu tergolong berperilaku rendah, 50% cukup, dan hanya 3,3% yang perilakunya baik.

Dari analisis statistik dengan uji korelasi Spearman dan regresi linier berganda, tim peneliti menemukan bahwa perilaku ibu memiliki hubungan bermakna dengan skor GI (r=0,57; p<0,05) dan PHP (r=0,74; p<0,05). Artinya, semakin baik perilaku ibu, semakin rendah skor GI dan PHP anak, yang berarti kondisi gusi lebih sehat dan plak gigi lebih sedikit. Kontribusi gabungan pengetahuan dan perilaku ibu terhadap PHP bahkan mencapai R²=0,67, atau 67%.

Pengetahuan, di sisi lain, hanya menunjukkan hubungan lemah terhadap PHP dan tidak memiliki hubungan signifikan dengan GI sama sekali.

Ketika Tahu Belum Cukup

Mengapa ibu yang paham teori tidak selalu mampu menerapkannya? Tim peneliti menawarkan beberapa penjelasan. Anak sindrom Down memiliki keterbatasan motorik halus dan kognitif yang membuat rutinitas menyikat gigi bukan sekadar kebiasaan, melainkan sebuah negosiasi harian yang melelahkan. Ibu tahu cara menyikat gigi yang benar, tetapi mengajarkan teknik itu kepada anak yang menolak, tidak kooperatif, atau tidak mampu memahami instruksi adalah tantangan yang berbeda kelas.

“Perilaku ibu yang dilakukan secara rutin dan konsisten dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut anak berperan penting terhadap perbaikan status kesehatan rongga mulut,” tulis tim peneliti dalam pembahasan mereka.

Faktor lain turut bermain: tingkat stres pengasuhan, terbatasnya waktu pendampingan, dan minimnya panduan praktis yang aplikatif untuk kondisi anak berkebutuhan khusus. Semua ibu dalam penelitian ini berstatus ibu rumah tangga, dengan rentang usia 32 hingga 55 tahun dan latar belakang pendidikan yang beragam, dari lulusan SD hingga sarjana. Meski tingkat pendidikan yang lebih tinggi berkorelasi dengan pengetahuan yang lebih baik, hal itu tidak otomatis menghasilkan perilaku yang lebih konsisten.

Intervensi yang Salah Arah

Implikasi penelitian ini cukup tajam bagi para perancang program kesehatan gigi masyarakat. Selama ini, edukasi kesehatan gigi sering kali difokuskan pada peningkatan pengetahuan: ceramah, leaflet, penyuluhan. Penelitian ini memperlihatkan bahwa pendekatan itu mungkin tidak cukup, bahkan untuk ibu yang sudah tahu.

Yang dibutuhkan bukan sekadar ibu yang tahu, melainkan ibu yang terampil dan terbiasa. Intervensi berbasis perilaku, seperti demonstrasi langsung, pendampingan berkala, dan simulasi teknik menyikat gigi pada anak dengan kebutuhan khusus, dinilai lebih berpotensi mengubah kondisi rongga mulut anak secara nyata.

Prof. Dr. drg. Al. Supartinah, Sp.KGA, yang turut menjadi peneliti dalam studi ini, adalah salah satu figur yang konsisten mendorong pendekatan preventif dan promotif berbasis komunitas dalam kedokteran gigi anak, termasuk untuk kelompok anak berkebutuhan khusus yang kerap luput dari jangkauan layanan gigi konvensional.

Penelitian ini memang memiliki keterbatasan: sampel terbatas pada dua kota dan tidak mencakup dinamika jangka panjang. Namun pesannya cukup kuat untuk didengar. Kesehatan rongga mulut anak sindrom Down bukan semata urusan klinik. Ia dimulai dari tangan ibu yang setiap malam mendampingi anaknya menyikat gigi, satu gerakan kecil yang ternyata menyimpan bobot statistik yang besar.

Sumber DOI : http://10.24198/jkg.v37i3.60907

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
16 Juli 2026

Tambal Gigi Retak? Silica Coating Terbukti Jauh Lebih Efektif dari Perekat Biasa

16 Juli 2026

Scaffold Tulang dari Cahaya: Inovasi Material Berbasis Sinar UV untuk Regenerasi Tulang Periodontal

16 Juli 2026

Bibir Tak Bisa Menutup Rapat: Solusi Alat Mioungsional untuk Anak

id_ID