Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Suntikan Nano-Fibrin dan Tulang Karang Buatan: Harapan Baru Cegah Gigi Balik ke Posisi Semula

Empat belas hari setelah kawat gigi dilepas, kadar enzim pembentuk tulang pada kelompok kelinci yang mendapat suntikan kombinasi khusus mencapai puncaknya — 0,789 ± 0,039 U/mg, jauh melampaui kelompok kontrol yang tidak mendapat perlakuan apa pun. Angka itu kecil di atas kertas, tetapi maknanya besar: tulang di sekitar gigi yang baru saja digeser sedang aktif membangun dirinya kembali, bukan mundur ke posisi awal.

Itulah inti temuan penelitian yang dipublikasikan dalam AIP Conference Proceedings (2018) oleh tim peneliti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. Penelitian ini digagas oleh Ananto Ali Alhasyimi bersama Prof. Dr. drg. Pinandi Sri Pudyani, SU., Sp.Ort(K) dari Departemen Ortodonsia, Widya Asmara dari Fakultas Kedokteran Hewan, dan Ika Dewi Ana dari Departemen Ilmu Biomedis Kedokteran Gigi UGM.

Musuh Lama Para Pengguna Kawat Gigi

Relaps ortodontik bukan sekadar kekecewaan estetis. Ia adalah masalah klinis yang sudah lama menghantui praktik ortodonsia. Gigi yang telah susah payah digeser selama dua hingga tiga tahun bisa kembali bergeser ke posisi semula — bahkan tanpa disadari pasien — akibat proses remodeling tulang alveolar yang tidak tuntas.

Kunci biologisnya ada pada enzim bernama alkaline phosphatase (ALP). Enzim ini adalah penanda aktivitas osteoblas, sel-sel pembentuk tulang baru. Semakin tinggi kadar ALP dalam cairan sulkus gingiva (cairan yang mengisi celah antara gusi dan gigi), semakin aktif pula proses pembentukan tulang berlangsung. Masalahnya, pada sisi kompresi gigi yang baru digeser, kadar ALP justru cenderung turun saat kawat dilepas — dan di sinilah relaps mengintai.

Pertanyaan yang kemudian muncul: bisakah kadar ALP itu dirangsang naik secara artifisial, dengan cara yang aman dan terukur?

Dua Senjata Digabungkan

Tim peneliti UGM mengajukan jawaban melalui kombinasi dua material: carbonated hydroxyapatite (CHA) dalam bentuk hidrogel, dan advanced platelet rich fibrin (aPRF).

CHA bukan material asing di dunia kedokteran gigi. Strukturnya menyerupai komponen anorganik tulang kanselus, berpori saling terhubung, dan mampu melepaskan ion kalsium serta fosfat secara bertahap — bahan baku utama pembentukan tulang baru. Dalam penelitian ini, CHA difungsikan bukan hanya sebagai perancah (scaffold) tulang, melainkan sebagai sistem pengiriman obat terkontrol.

aPRF sendiri merupakan generasi terbaru dari konsentrat platelet. Ia disiapkan dari darah kelinci percobaan sendiri — autologus — lalu disentrifugasi dengan kecepatan lebih rendah dan waktu lebih lama dari metode standar, sehingga menghasilkan konsentrasi platelet 4,78 kali lebih tinggi dibanding darah utuh. Di dalamnya terkandung sejumlah faktor pertumbuhan: VEGF, PDGF, IGF, EGF, dan TGF — koktail biologis yang mendorong osteogenesis, angiogenesis, dan penyembuhan jaringan.

Gagasannya sederhana namun cerdas: biarkan CHA menjadi “kendaraan” yang membawa aPRF ke lokasi yang tepat, melepaskannya perlahan, dan mempertahankan efeknya lebih lama dari yang bisa dilakukan suntikan biasa.

“Hydrogel CHA yang menginkorporasi aPRF diharapkan mampu mempertahankan faktor pertumbuhan hingga mencapai area target, terdegradasi secara bertahap, dan melepaskan faktor pertumbuhan secara terkontrol untuk mencegah relaps.” — Alhasyimi dkk., AIP Conference Proceedings, 2018

Bukti dari Sulkus Gingiva

Penelitian ini melibatkan 45 ekor kelinci New Zealand jantan yang terbagi dalam tiga kelompok: kontrol tanpa perlakuan, kelompok CHA saja, dan kelompok CHA-aPRF. Gigi insisif bawah masing-masing kelinci digerakkan secara distal selama satu minggu menggunakan open coil spring nikel-titanium, lalu ditahan selama dua minggu masa retensi. Selama masa retensi itulah suntikan intrasulkular diberikan setiap tujuh hari.

Cairan sulkus gingiva dikumpulkan menggunakan paper point steril yang dimasukkan sedalam 1 mm ke dalam sulkus gingiva, lalu kadar ALP diukur dengan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 405 nm. Pengukuran dilakukan pada hari ke-0, 3, 7, 14, dan 21 setelah pelepasan alat ortodontik.

Hasilnya konsisten dan signifikan secara statistik. Kelompok CHA-aPRF menunjukkan peningkatan kadar ALP yang bermakna pada hari ke-7 dan ke-14 dibanding kelompok kontrol maupun kelompok CHA tunggal. Puncaknya terjadi pada hari ke-14 — momen yang secara biologis bertepatan dengan fase akhir pergerakan gigi, saat hialinisasi jaringan terjadi, dan ketika aktivitas osteoklas di sisi kompresi mulai menurun.

Mekanisme di balik temuan ini melibatkan VEGF yang terkandung dalam aPRF: faktor pertumbuhan ini diketahui menginduksi diferensiasi dan migrasi osteosit, sekaligus meningkatkan aktivitas ALP secara langsung. CHA, di sisi lain, memberikan kontribusi lewat peningkatan konsentrasi lokal ion kalsium dan fosfat, yang mendorong konduksi dan induksi tulang baru.

Dari Kandang Kelinci ke Kursi Dokter Gigi

Tentu ada jarak yang tidak kecil antara model hewan dan praktik klinis. Para peneliti sendiri menegaskan perlunya studi lanjutan di tingkat molekuler dan seluler, dengan parameter tambahan seperti RANKL, OPG, dan kolagen tipe I, untuk mengonfirmasi efektivitas CHA-aPRF dalam jangka panjang.

Namun, arah yang ditunjukkan penelitian ini cukup menjanjikan. Selama ini, pencegahan relaps ortodontik masih sangat bergantung pada penggunaan retainer — alat yang keberhasilannya sangat tergantung pada kepatuhan pasien. Jika terapi biologis berbasis material seperti CHA-aPRF terbukti efektif pada manusia, ia bisa menjadi intervensi pelengkap yang bekerja dari dalam: memperkuat tulang, bukan sekadar menahan gigi dari luar.

Gigi yang telah berpindah tempat, pada akhirnya, membutuhkan lebih dari sekadar kawat untuk betah di posisi barunya.

Sumber DOI : https://doi.org/10.1063/1.5023953

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
21 Juli 2026

FKG UGM Usung Konsep Green Dentistry pada Summer Course 2026

21 Juli 2026

Ketika Karier Mandek, Siapa yang Bertanggung Jawab?

21 Juli 2026

Nanokitosan Lawan Bakteri Tersembunyi di Balik Kawat Gigi

id_ID