Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 10, SDG 3, SDG 4, SDG 5, SDG 9

Senyum Itu Sama di Mata Pria dan Wanita

Selama ini ada asumsi yang cukup kuat di benak banyak orang: perempuan lebih peka soal penampilan, lebih kritis terhadap estetika, lebih cermat melihat senyum. Tapi sebuah penelitian dari Departemen Ortodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada justru menemukan sesuatu yang mengejutkan. Saat mahasiswa laki-laki dan perempuan diminta menilai estetika senyum berdasarkan tampilan gingiva, keduanya memberikan penilaian yang hampir identik.

Tidak ada perbedaan yang bermakna. Sama sekali.

Gigi, Gusi, dan Standar Kecantikan yang Tak Tertulis

Dalam dunia ortodonsia, senyum bukan sekadar ekspresi emosi. Ia adalah objek analisis klinis yang memiliki komponen-komponen terukur: lebar koridor bukal, lengkung garis senyum, dan yang menjadi fokus penelitian ini, yakni gingival display atau seberapa banyak gusi yang terlihat saat seseorang tersenyum lebar.

Secara umum, senyum diklasifikasikan ke dalam empat kategori berdasarkan tampilan gingiva: very high smile line (gingiva terekspos lebih dari dua milimeter di atas sambungan sementoenamel), high smile line, average smile line (hanya terlihat embrasur gingiva), dan low smile line (embrasur gingiva tidak terlihat sama sekali). Senyum dengan gingival display minimal secara klinis dianggap lebih estetis dibanding gummy smile yang memperlihatkan terlalu banyak gusi.

Pertanyaannya: apakah laki-laki dan perempuan melihat standar itu dengan cara yang sama?

Penelitian yang dipublikasikan di Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) pada Desember 2018 ini melibatkan 36 mahasiswa FKG UGM angkatan 2014-2015, dibagi rata menjadi 18 laki-laki dan 18 perempuan. Tim peneliti yang terdiri dari Yessy Josephine Sijabat, C. Christnawati, dan Dr. drg. Dyah Karunia, Sp.Ort. memotret senyum frontal setiap subjek menggunakan kamera Canon EOS 700D yang diletakkan di atas tripod sejauh 91 sentimeter dari wajah subjek. Prosedur ini mengikuti standar American Academy of Cosmetic Dentistry Photographic Accreditation Review.

Kamera, Foto, dan Dua Sesi Penilaian

Foto-foto hasil pemotretan dicetak dan disandingkan dengan gambar referensi klasifikasi senyum. Setiap subjek diminta menilai foto senyum orang lain, bukan foto dirinya sendiri, lalu memilih klasifikasi yang paling sesuai dari skala satu hingga empat. Dua minggu kemudian, penilaian diulang untuk menguji konsistensi.

Hasilnya solid. Uji statistik kappa menunjukkan tingkat kesepakatan yang tinggi antara penilaian pertama dan kedua, dengan nilai κ = 0,84. Artinya, cara subjek menilai senyum tidak berubah seiring waktu. Sementara itu, uji U Mann-Whitney yang membandingkan skor antara kelompok laki-laki dan perempuan menghasilkan nilai p = 0,902, jauh di atas ambang signifikansi 0,05.

Dengan kata lain: tidak ada perbedaan persepsi antara keduanya.

Baik laki-laki maupun perempuan paling banyak memilih klasifikasi tiga (average smile line) sebagai yang paling menarik. Laki-laki memilihnya sebanyak 44,44 persen, perempuan 41,67 persen. Keduanya sepakat bahwa senyum ideal adalah yang hanya memperlihatkan embrasur gingiva tanpa eksposur berlebihan.

Pengetahuan Klinis Sebagai Penyama Persepsi

Temuan ini menarik justru karena bertentangan dengan intuisi umum. Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perempuan cenderung lebih tidak puas dengan senyum mereka dan lebih memperhatikan estetika dibanding laki-laki. Namun penelitian dari FKG UGM ini menunjukkan bahwa faktor lain bisa menetralkan perbedaan gender itu.

“The major factor influencing research is the background knowledge of subjects as faculty of dentistry students who tend to pay more attention to dental aesthetics during their university studies, a fact obviously affecting their perception of facial aesthetics.”

Latar belakang pendidikan kedokteran gigi tampaknya bekerja sebagai equalizer. Mahasiswa kedokteran gigi, baik laki-laki maupun perempuan, telah terpapar pengetahuan klinis dan teoritis yang sama soal estetika senyum. Mereka belajar tentang proporsi, hubungan bibir-gingiva, dan kriteria estetika dari sumber yang sama, sehingga penilaian mereka pun bergerak ke arah yang serupa.

Faktor lain yang turut berperan adalah rentang usia subjek yang sempit, yakni 18 hingga 21 tahun, serta fakta bahwa tidak satu pun dari mereka pernah menjalani perawatan ortodonti. Pengalaman menjalani perawatan ortodonti diketahui dapat mengubah persepsi estetika seseorang secara signifikan. Dengan menyingkirkan variabel itu, penelitian ini berhasil mengisolasi pengaruh gender secara lebih bersih.

Tentu ada keterbatasan. Para peneliti mengakui bahwa panjang mahkota klinis insisivus subjek tidak diperhitungkan, dan penilaian hanya berbasis gingival display tanpa mempertimbangkan komponen estetika senyum lainnya. Senyum, bagaimanapun, adalah entitas yang kompleks.

Namun ada yang tidak bisa diabaikan dari penelitian ini: saat dua orang duduk di bangku kuliah yang sama, mempelajari ilmu yang sama, dan melihat gambar yang sama, perbedaan gender dalam menilai keindahan senyum bisa menjadi tidak relevan. Pertanyaan yang kemudian menggantung adalah, apakah hal yang sama berlaku di luar ruang kuliah, di antara mereka yang tidak pernah belajar tentang gusi dan estetika?

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
23 Juli 2026

Suplemen Omega-3 dari Ganggang Laut Ternyata Bisa Memperlambat Pergerakan Gigi Ortodontik

23 Juli 2026

IKGA FKG UGM & RSGM UGM Perkuat Edukasi Pencegahan Penyakit Gigi Anak di TK Rumahku Tumbuh

23 Juli 2026

Senyum Baru dari Dua Pendekatan: Bedah Periodontal dan Kawat Gigi untuk Tonjolan Dua Rahang

id_ID